M. ABDUL AZIS BIN MASDUKI YUNUS
Jejak Perjalanan Keilmuan dan Sanad Pesantren
M. Abdul Azis bin Masduki Yunus merupakan sosok santri yang menempuh jalan ilmu dengan kesungguhan, ketekunan, dan kesadaran penuh akan pentingnya sanad keilmuan dalam tradisi Islam. Beliau lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, adab, serta penghormatan kepada ulama. Sejak usia muda, beliau telah diarahkan untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman melalui jalur pesantren, sebuah jalan panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan.
Dalam tradisi pesantren, menuntut ilmu tidak hanya dimaknai sebagai proses akademik, tetapi juga sebagai perjalanan pembentukan jiwa. Hal inilah yang tercermin dalam perjalanan hidup M. Abdul Azis bin Masduki Yunus. Beliau tidak membatasi diri belajar pada satu guru atau satu pesantren, melainkan berpindah dari satu pusat keilmuan ke pusat lainnya demi memperluas wawasan, memperkuat pemahaman, serta menyambungkan diri pada mata rantai sanad ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
Menimba Ilmu di Kaliwungu Kendal (1998-2004)
Salah satu fase penting dalam perjalanan keilmuan M. Abdul Azis bin Masduki Yunus adalah ketika beliau menimba ilmu di kawasan pesantren Kaliwungu, Kendal. Daerah ini dikenal luas sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan terpenting di Jawa Tengah, tempat berseminya banyak ulama besar yang berpengaruh dalam dunia pesantren dan keagamaan.
Di Kaliwungu, beliau menjalani kehidupan santri dengan penuh kedisiplinan, menjalankan riyadhah, memperdalam kitab-kitab klasik, serta membangun adab kepada para guru. Di lingkungan inilah beliau belajar bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa akhlak dan keikhlasan.
Di antara guru-guru beliau di Kaliwungu adalah K. Syahri dari Batang, yang memberikan penguatan dasar dalam fikih dan pembinaan karakter santri. Dari beliau, M. Abdul Azis belajar tentang pentingnya keteguhan dalam menjalankan syariat serta konsistensi dalam menjaga adab.
Beliau juga menimba ilmu Al-Qur’an kepada KH. Slamet Qomaruddin, AH bin K. Badawi Abdul Rosid, seorang guru Al-Qur’an yang dikenal luas karena ketelitian dalam tajwid dan kemurnian sanad bacaan. Dalam bimbingan ini, beliau tidak hanya diasah dalam aspek teknis bacaan, tetapi juga ditanamkan rasa hormat yang mendalam kepada Al-Qur’an sebagai sumber utama kehidupan seorang muslim.
Selain itu, M. Abdul Azis bin Masduki Yunus juga berguru kepada para ulama Kaliwungu lainnya, di antaranya KH. Dimyati Rois, KH. Aqib Umar dan KH. Imron Humaidulloh Irfan. Dari para kiai ini, beliau mendapatkan penguatan dalam bidang akidah, fikih, serta tasawuf, yang membentuk keseimbangan antara pemahaman syariat dan penghayatan spiritual.
Beliau juga berkesempatan menimba ilmu dari ulama seperti KH.Muhajirin Aljufri, dan KH. Maghzunun Irja’, yang dikenal sebagai penjaga tradisi pesantren salaf dengan kedalaman ilmu dan keteladanan hidup. Pertemuan dengan para kiai ini menjadi bekal penting dalam membentuk sikap istiqamah dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan.
Di samping itu, beliau juga berguru kepada KH. Fatoni, K. Zumri, KH. Sofyan Hadi, KH. Syamsul Ma’arif, dan KH. Zuhri Ihsan, serta para kiai yang mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Islam (MIM) Kaliwungu. Lingkungan pendidikan ini memperkaya pengalaman beliau, menghubungkan antara pendidikan formal dan tradisi pesantren yang telah mengakar kuat.
Jejaring keilmuan beliau juga mencakup K. Khoiruddin dari Batang, KH. Sholahuddin Humaidullah, KH. Nujum, AH, serta para kiai lainnya yang turut memberi warna dalam perjalanan intelektual dan spiritual beliau.
Penguatan Ruhani di PP. Darul Falah Jekulo Kudus
Perjalanan keilmuan M. Abdul Azis bin Masduki Yunus berlanjut ke Pondok Pesantren Darul Falah, Jekulo, Kudus (Tahun 2000). Di pesantren ini, beliau berguru kepada KH. Ahmad Basyir, seorang ulama kharismatik yang dikenal sebagai mujiz amalan Dalā’il al-Qur’an, Dalā’il al-Khairāt, serta berbagai hizib dan wirid.
Di bawah bimbingan KH. Ahmad Basyir, beliau tidak hanya mempelajari teks dan bacaan wirid, tetapi juga adab dalam mengamalkan amalan-amalan tersebut. Penekanan pada keikhlasan, kesabaran, dan tanggung jawab spiritual menjadi bagian penting dari pendidikan di Darul Falah. Pengalaman ini memperdalam dimensi ruhani beliau dan memperkuat hubungan batin dengan tradisi ulama salaf.
Pendalaman Kitab di PP. Sirojut Tholibin Brabo
Selain itu, M. Abdul Azis bin Masduki Yunus juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Sirojut Tholibin, Brabo, kepada KH. Baidlowi Syamsuri. Pesantren ini dikenal sebagai pusat pengkajian kitab-kitab klasik dengan penekanan pada pendalaman fikih dan akhlak.
Di bawah asuhan KH. Baidlowi Syamsuri, beliau ditempa untuk berpikir sistematis, memahami perbedaan pendapat ulama, serta menjaga sikap tawadhu’ dalam menyikapi ilmu. Lingkungan Sirojut Tholibin mengajarkan bahwa keluasan ilmu harus selalu diiringi dengan kerendahan hati.
Penempaan Ilmu di PP. Darul Hikam Curug Tegowanu (2007 - 2010)
Perjalanan keilmuan beliau juga sampai ke Pondok Pesantren Darul Hikam, Curug, Tegowanu. Di pesantren ini, beliau berguru kepada KH. Abdul Jalil Hasyim, seorang ulama yang dikenal dengan keteguhan dalam menjaga keseimbangan antara ilmu zahir dan batin.
Selain itu, beliau juga menimba ilmu kepada K. Lutfil Khakim bin K. Abdul Jalil, yang turut berperan dalam pembinaan keilmuan dan akhlak beliau. Lingkungan Darul Hikam memberikan penguatan bahwa ilmu harus menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberi manfaat nyata bagi umat.
Sanad Haramain: Belajar di Masjidil Haram (Desember 2025)
Salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan keilmuan M. Abdul Azis bin Masduki Yunus adalah ketika beliau menjalankan ibadah Umrah dan berkesempatan belajar langsung kepada Syeh Ibrohim, seorang Guru ngaji Al-Qur’an di Masjidil Haram.
Di tengah suasana sakral Baitullah, beliau mengikuti pengajian dan bimbingan bacaan Al-Qur’an dengan penekanan pada makhārijul huruf, tajwid, serta adab terhadap Kalamullah. Belajar Al-Qur’an di Masjidil Haram memberikan pengalaman batin yang mendalam, menguatkan kecintaan beliau terhadap Al-Qur’an dan memperkokoh sanad bacaan yang beliau miliki.
Pengalaman ini melengkapi perjalanan keilmuan beliau yang sebelumnya ditempa melalui pesantren-pesantren Nusantara. Perpaduan antara tradisi pesantren lokal dan pengalaman belajar di Haramain menjadikan sanad keilmuan M. Abdul Azis bin Masduki Yunus semakin utuh dan bersambung secara lahir maupun batin.
Penutup
Keseluruhan perjalanan menuntut ilmu M. Abdul Azis bin Masduki Yunus menunjukkan sosok santri sejati yang menempuh jalan ilmu dengan kesabaran, keikhlasan, dan penghormatan tinggi kepada para guru. Sanad keilmuan yang beliau miliki merupakan amanah besar yang tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi dan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari mata rantai panjang tradisi ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Nusantara.
Melalui jejak keilmuan inilah, M. Abdul Azis bin Masduki Yunus tercatat sebagai pribadi yang berusaha menjaga warisan ilmu, akhlak, dan spiritualitas Islam untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar