Amalan Dala’il Al-Qur’an yang dikombinasikan dengan puasa tahunan dan ijazah dari mujiz,
DALA’IL AL-QUR’AN: AMALAN MEMBACA 1 JUZ PER HARI DENGAN PUASA TAHUNAN DAN IJAZAH MUJIZ
Pendahuluan
Dalam tradisi Ahlussunnah dan tarekat tasawuf Nusantara, Dala’il Al-Qur’an merupakan salah satu amalan dzikir dan ibadah yang sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan keberkahan hidup, dan membersihkan hati dari dosa. Salah satu bentuk praktik Dala’il Al-Qur’an yang populer adalah membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari hingga khatam dalam sebulan, disertai puasa tahunan sebagai sarana riyadloh atau disiplin spiritual.
Amalan ini tidak hanya menekankan kuantitas bacaan Al-Qur’an, tetapi juga kualitasnya, yaitu dengan penuh khusyuk, tadabbur, dan niat ikhlas semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Dalam tradisi tarekat, pelaksanaan Dala’il Al-Qur’an ini biasanya memerlukan ijazah dari seorang mujiz, yaitu guru spiritual atau mursyid yang berhak memberikan sanad dan petunjuk pelaksanaan agar amalan ini sah secara spiritual dan berkesan.
Pelaksanaan Dala’il Al-Qur’an
1. Membaca 1 Juz Per Hari
Amalan membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari memiliki keutamaan yang banyak disebut dalam kitab-kitab tasawuf dan fiqih ibadah. Dengan membaca 1 juz per hari:
Dalam sebulan, seorang mukmin dapat khatam Al-Qur’an minimal sekali.
Membiasakan diri dengan konsistensi ibadah sehingga terbentuk disiplin spiritual.
Membawa keberkahan dan menumbuhkan ketenangan hati.
Dalam konteks Dala’il Al-Qur’an, membaca satu juz per hari tidak hanya sekadar mengulang bacaan, tetapi dibaca dengan tadabbur, memperhatikan tajwid, makna, dan niat ikhlas. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”
(QS. Al-Muzzammil: 4)
2. Kombinasi dengan Puasa Tahunan
Amalan membaca Al-Qur’an ini dianjurkan untuk dilakukan bersamaan dengan puasa tahunan (nawafil) sebagai riyadloh spiritual. Puasa ini dijalankan setahun penuh, kecuali:
1 hari pada Hari Raya Idul Fitri, dan
4 hari pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik
Tujuan puasa tahunan ini adalah:
Meningkatkan kesabaran dan ketakwaan sebagai latihan spiritual.
Membersihkan hati dan jasmani agar lebih khusyuk dalam membaca Al-Qur’an.
Mendekatkan diri kepada Allah secara total, baik melalui dzikir maupun ibadah jasmani.
Puasa tahunan ini juga berfungsi sebagai riyadloh, yaitu disiplin spiritual yang melatih seseorang agar mampu menahan nafsu duniawi dan fokus kepada Allah. Dalam hadits disebutkan:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin walau sedikit.”
(HR. Muslim)
3. Ijazah dari Mujiz
Dalam tradisi tarekat, pelaksanaan Dala’il Al-Qur’an beserta puasa tahunan tidak bisa dilakukan sembarangan, terutama bagi yang ingin mendapatkan keberkahan penuh dari amalan ini. Oleh karena itu, dibutuhkan ijazah dari seorang mujiz atau guru spiritual.
Fungsi ijazah ini antara lain:
Menjamin keabsahan spiritual amalan, karena disalurkan melalui sanad yang sah.
Memberikan petunjuk khusus tentang jumlah bacaan, waktu, dan tata cara riyadloh agar sesuai dengan tuntunan tarekat.
Menjadi wasilah keberkahan, sehingga amalan dzikir, puasa, dan bacaan Al-Qur’an diterima secara maksimal di sisi Allah.
Seorang mujiz biasanya memberikan petunjuk tentang:
Waktu membaca Al-Qur’an (misal setelah shalat fardhu atau sebelum tidur malam).
Jumlah bacaan harian, yaitu 1 juz per hari.
Kombinasi puasa tahunan, termasuk pengecualian hari raya Idul Fitri dan Idul Adha/Tasyrik.
Doa khusus, sebagai penguat spiritual agar amalan lebih bermakna.
Keutamaan dan Khasiat Amalan
Pelaksanaan Dala’il Al-Qur’an yang disertai puasa tahunan memiliki berbagai manfaat spiritual, sosial, dan akhirat, antara lain:
Spiritual:
Membersihkan hati dari sifat buruk seperti iri, sombong, dan malas.
Menumbuhkan ketenangan batin dan kekhusyukan.
Mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan ridha-Nya.
Sosial:
Menjadi contoh disiplin ibadah bagi keluarga dan lingkungan.
Menumbuhkan rasa sabar dan kasih sayang karena disiplin puasa dan dzikir.
Akhirat:
Mendapat pahala berlipat dari membaca Al-Qur’an rutin.
Amalan puasa tahunan menjadi penghapus dosa dan pelengkap ibadah wajib.
Membuka pintu syafaat Nabi Muhammad SAW melalui dzikir dan sholawat yang dibaca.
Keutamaan ini diperkuat dengan hadits:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh pahala.”
(HR. Tirmidzi)
Kesimpulan
Pelaksanaan Dala’il Al-Qur’an dengan membaca 1 juz per hari dan khatam sebulan, disertai puasa tahunan setahun penuh kecuali hari raya, merupakan amalan istimewa dalam tasawuf Nusantara. Amalan ini memiliki tiga dimensi utama:
Dimensi dzikir dan bacaan Al-Qur’an, meningkatkan ilmu, tadabbur, dan ketenangan hati.
Dimensi puasa tahunan sebagai riyadloh, melatih disiplin, kesabaran, dan pengendalian diri.
Dimensi sanad dan ijazah dari mujiz, memastikan amalan diterima secara spiritual dan keberkahan penuh.
Dengan menjalankan amalan ini secara konsisten, ikhlas, dan terstruktur, seorang mukmin dapat mencapai kedekatan maksimal dengan Allah SWT, memperoleh keberkahan dunia-akhirat, serta menjadi sarana penghapus dosa dan pembuka pintu pahala yang berlipat.
Oleh. M. Abdul Azis Semarang Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar