Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Selasa, 10 Februari 2026

Jejak Ilmu, Khidmah, dan Kehidupan Alumni PP. ATIM

 

**Jejak Santri di Pondok ATIM Kaliwungu

(Jejak Ilmu, Khidmah, dan Kehidupan)**


Pondok sebagai Rumah Kedua

Menjadi santri di Pondok ATIM Kaliwungu bukan sekadar menempati asrama, tetapi memasuki dunia yang membentuk jiwa. Pondok menjadi rumah kedua, tempat belajar hidup, bukan hanya belajar kitab. Di sana, santri datang dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan oleh niat mencari ilmu.

Kehidupan di Pondok ATIM sederhana. Bangunan tidak mewah, fasilitas terbatas, namun suasana ilmu terasa hidup. Setiap sudut pondok seakan menyimpan doa para guru dan harapan para santri.


Lurah Pondok sebagai Pembimbing Awal

Salah satu figur penting dalam perjalanan awal adalah Lurah Pondok PP. ATIM, Kang Sahri dari Batang. Beliau bukan hanya pengatur kedisiplinan pondok, tetapi pembimbing keseharian santri. Ba’da Subuh, santri berkumpul untuk ngaji. Dari beliau, saya belajar tartib, disiplin waktu, dan adab kepada guru.

Beliau mengajarkan bahwa santri harus kuat lahir batin. Tidak manja, tidak mudah mengeluh. Nilai itu tertanam kuat hingga kini.


Menimba Ilmu kepada Para Kyai

Perjalanan nyantri mempertemukan saya dengan banyak ulama. KH. Imron Humaidulloh Irfan menjadi salah satu guru penting dalam perjalanan intelektual dan spiritual. Pengajaran beliau tegas namun menyejukkan.

Begitu pula Sholahuddin Humaidulloh, yang memberikan banyak pelajaran tentang kesungguhan dalam belajar. Dari beliau saya memahami bahwa ilmu harus dikejar dengan kesabaran.


 Madrasah sebagai Ladang Ilmu

Di MIM Kaliwungu, banyak guru dan kyai yang membentuk wawasan keilmuan santri. Secara khusus, KH. Maghzunun Irja’ dikenal sebagai sosok alim dan mendalam ilmunya. Setiap pengajian beliau membuka cakrawala baru.

Pelajaran di madrasah bukan hanya teori, tetapi pembentukan cara berpikir santri agar matang dalam memahami agama.


 Guru-Guru yang Menguatkan Ruhani

Nama-nama seperti KH. Aqib Umar, KH. Sofyan Hadi, KH. Dimyati Rois, dan KH. Muhajirin Aljufri menjadi bagian dari mata rantai ilmu. Masing-masing memiliki ciri khas dalam mengajar.

Ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang humoris, tetapi semuanya menanamkan cinta ilmu dan takut kepada Allah.


 Guru Al-Qur’an dan Cahaya Kalamullah

KH. Slamet Qomaruddin Badawi adalah guru Al-Qur’an yang memberi sentuhan ruhani mendalam. Mengaji kepada beliau bukan sekadar membaca, tetapi merasakan keagungan Kalamullah.

Setiap huruf dilafalkan dengan kehati-hatian. Dari beliau saya belajar bahwa Al-Qur’an harus dibaca dengan hati yang bersih.


Mata Rantai Keilmuan yang Luas

KH. Fatoni, K. Mahzunun Irja’, KH. Syamsul Ma’arif, K. Zumri, hingga KH. Ahmad Basir Jekulo Kudus menjadi bagian dari perjalanan ilmu. Masing-masing memberi warna tersendiri.

Santri belajar bahwa ilmu itu luas dan guru adalah perantara cahaya ilmu Allah.


Guru Kehidupan

KH. Dimyati Kuwayuan, Bapak Sadino, dan K. Khoiruddin Batang mengajarkan pelajaran kehidupan. Tidak semua pelajaran datang dari kitab; banyak yang datang dari teladan hidup.

Cara mereka berbicara, bersikap, dan berinteraksi menjadi pelajaran nyata tentang akhlak.


Santri dan Masyarakat

Santri Pondok ATIM tidak terpisah dari masyarakat. Mereka berbaur, membantu kegiatan warga, ikut kerja bakti, bahkan berdagang kecil-kecilan. Interaksi itu membentuk kemandirian sosial.

Masyarakat sekitar pun menerima santri dengan hangat. Hubungan pondok dan warga seperti keluarga besar. Santri belajar hidup bermasyarakat sejak dini.


Jejak yang Tak Terhapus

Kini, semua itu menjadi kenangan berharga. Nama-nama guru tetap hidup dalam doa. Pondok ATIM menjadi saksi perjalanan panjang mencari ilmu.

Semoga semua kyai dan guru yang pernah menjadi perantara ilmu mendapat balasan terbaik dari Allah SWT. Dan semoga ilmu yang ditimba menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Perjalanan santri mungkin sederhana, tetapi dampaknya panjang. Karena dari pondoklah lahir pribadi yang kuat, sabar, dan menghargai ilmu.


Alumni Santri Kaliwungu Kendal, 1997–2004

 

**Kisah Perjalanan Nyantri di Kota Santri

(Kaliwungu Kendal, 1997–2004)**

Perjalanan hidup sering kali dimulai dari langkah kecil yang penuh keberanian. Tahun 1997 menjadi awal kisah saya menapaki dunia pesantren di Kota Santri, Kaliwungu Kendal, Jawa Tengah. Saat itu saya baru saja lulus dari MTs Nurul Huda Tegowanu. Keinginan untuk melanjutkan mondok muncul, dan jalan itu terbuka melalui ajakan sepupu saya, Moch. Sodiq Maksum.

Dengan izin kedua orang tua, meski berat hati mereka melepas, saya berangkat menuju Kaliwungu. Kondisi ekonomi keluarga saat itu sederhana. Ongkos dan bekal sangat terbatas. Namun tekad untuk mencari ilmu lebih besar daripada kekhawatiran akan kesulitan hidup di perantauan. Dengan doa orang tua, saya menapakkan kaki di Kaliwungu dan tinggal di PP. ATIM Sekopek Sarirejo.

Hari-hari awal di pondok bukanlah masa yang mudah. Seorang santri perantau harus pandai bertahan hidup. Yang pertama saya pikirkan bukan kenyamanan, melainkan pekerjaan agar bisa makan dan tetap mondok. Saya mulai dengan blongsongi marning dan kedelai goreng. Dari situlah saya belajar bahwa santri tidak hanya belajar kitab, tetapi juga belajar mandiri.

Memasuki bulan Syawal, saya mendaftarkan diri di Sekolah Persiapan Madrasah Salafiyah Miftahul Hidayah (MSMH), bagian dari lingkungan salaf PP. APIK Kauman yang diasuh oleh KH. Imron Humaidulloh Irfan. Di sana saya mulai merasakan kehidupan santri yang lebih tertata antara ngaji dan sekolah.

Namun perjalanan hidup tak selalu lurus. Setelah satu tahun, saya pindah ke MIM di selatan Masjid Kauman Kaliwungu, menyesuaikan kondisi dan kemampuan diri. Perpindahan itu bukan kemunduran, melainkan ikhtiar agar tetap bisa belajar dalam keterbatasan.

Rutinitas harian di Kaliwungu sangat padat. Ba’da Subuh saya ngaji dengan Lurah Pondok, Kang Sahri dari Batang. Pagi hari sekitar jam 08.00 berangkat sekolah dengan berjalan kaki dari Sekopek menuju Kauman. Jarak itu ditempuh dengan langkah ringan meski kadang perut belum terisi penuh. Bagi santri, niat belajar membuat lelah terasa ringan.

Ba’da Dhuhur diisi dengan bekerja. Sore hingga malam kembali ke majelis ilmu. Ba’da Maghrib sampai ba’da Isya’ saya ngaji Al-Qur’an kepada almarhum KH. Slamet Qomaruddin, AH, putra dari Kyai Badawi Abdurrosid. Suasana ngaji penuh ketenangan. Bacaan Al-Qur’an menjadi penyejuk di tengah kerasnya perjuangan hidup.

Setiap bulan ada panin kitab, mengaji hingga khatam beberapa kitab. Dari situ saya belajar kesabaran dalam menuntut ilmu. Kitab demi kitab dibaca, dimaknai, dan dijelaskan. Tradisi itu menanamkan kecintaan terhadap ilmu agama yang mendalam.

Untuk bertahan hidup, berbagai pekerjaan saya jalani. Pernah nglongsong marning dan kedelai. Pernah bekerja membuat palet dan menjaga titipan sepeda di Cangkring Brangsong Kendal. Saya juga berjualan permen sachet seperti Hexos, Nano-nano, dan Kopiko. Pernah pula jualan rokok, aqua, dan minuman lainnya.

Pengalaman paling menantang adalah menjadi asongan di bus, menjual pepaya, semangka, melon, dan kacang bungkus. Keluar masuk bus, menawarkan dagangan kepada penumpang, kadang ditolak, kadang mendapat rezeki. Semua itu menempa mental dan mengajarkan tawakal.

Pekerjaan terakhir yang cukup lama (1 Tahun) saya jalani di Sekopek adalah membantu menggoreng tahu di tempat Mbak Aspiah. Dari dapur sederhana itu saya belajar bahwa rezeki datang dari kerja keras dan kejujuran. Tidak ada pekerjaan hina selama itu halal.

Tahun-tahun di Kaliwungu menjadi madrasah kehidupan. Kota Santri bukan hanya tempat belajar agama, tetapi tempat menempa mental, kemandirian, dan kesabaran. Dari jalan kaki ke sekolah, berdagang kecil-kecilan, hingga mengaji di malam hari—semua membentuk karakter.

Kini jika menoleh ke belakang, perjalanan 1997–2004 itu terasa seperti rangkaian ujian sekaligus nikmat. Berat dijalani, indah dikenang. Dari Kaliwungu saya belajar bahwa ilmu tidak selalu dibayar dengan uang, tetapi dengan perjuangan, keringat, dan doa.

Kota Santri telah menjadi bagian dari sejarah hidup saya. Jejaknya tertinggal di hati. Semoga semua guru yang telah mengajar, semua orang yang pernah membantu, dan semua tempat yang menjadi saksi perjuangan mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT. Aamiin.


Di balik perjalanan nyantri di PP. Darul Hikam

 Di balik perjalanan nyantri, tidak semua kisah berisi kemudahan dan kenangan indah. Ada pula peristiwa yang terasa berat, bahkan membekas di hati. Namun dalam tradisi pesantren, setiap kejadian diyakini memiliki hikmah dan sababiyah keberkahan. Begitu pula yang pernah saya alami di PP. Darul Hikam Curug.

Kegiatan sehari-hari saya selain khidmah di ndalem adalah menjadi muadzin (tidak muadzin 5 waktu)masjid pondok. Tugas itu saya jalani dengan penuh tanggung jawab. Setiap adzan saya niatkan sebagai panggilan ibadah, sekaligus latihan menjaga keikhlasan.

Pada masa itu, kebiasaan di masjid setelah adzan biasanya langsung menunggu iqamah tanpa pujian atau sholawatan. Namun dengan niat menghidupkan syiar, setelah adzan saya isi dengan pujian dan sholawat. Harapannya agar suasana masjid lebih hidup dan hati para jamaah tergerak untuk berdzikir.

Hari itu, waktu Dhuhur telah tiba. Seperti biasa saya mengambil air wudhu, lalu naik untuk adzan. Setelah adzan selesai, saya melantunkan pujian sebagaimana kebiasaan yang sudah saya mulai.

Kebiasaan Mbah Yai adalah melaksanakan sholat sunnah qabliyah Dhuhur terlebih dahulu sebelum jamaah. Namun saat itu, entah karena kurangnya pemahaman atau terburu waktu, saya langsung mengumandangkan iqamah.

Ternyata Mbah Yai baru saja memasuki masjid dan hendak melaksanakan qabliyah. Melihat iqamah sudah dikumandangkan, beliau menunjukkan ketidaksenangan. Dalam spontanitas seorang guru yang sedang mendidik santri, beliau menegur dengan keras.

Saya pun terkena sabetan serban beliau. Bagi sebagian orang mungkin itu menyakitkan, tetapi di dunia pesantren, itu sering dimaknai sebagai bentuk ta’dib (pendidikan adab). Saat itu hati saya terkejut, malu, dan merasa bersalah.

Namun seiring waktu, saya memahami bahwa kejadian itu menjadi pelajaran besar tentang adab, ketepatan melihat situasi, dan memahami kebiasaan guru. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga kepekaan dan tata krama.

Kini peristiwa itu menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Bukan sebagai luka, tetapi sebagai pengingat bahwa jalan mencari ilmu penuh ujian. Saya justru berharap kejadian itu menjadi sababiyah turunnya berkah ilmu dan ridha guru.

Dengan penuh hormat dan doa, semoga Mbah Yai mendapatkan nikmat dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Aamiin. Dan semoga saya dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa, menjadikannya bekal untuk hidup yang lebih tawadhu’ dan berhati-hati dalam berkhidmah.


Cerita Sang Alumni PP. Darul Hikam Curug tegowanu


Awal Perjalanan dan Panggilan Hati

Tahun-tahun itu menjadi penanda perjalanan hidup yang tak mudah dilupakan. Periode 2007–2010 di PP. Darul Hikam Curug Tegowanu Grobogan bukan sekadar masa mondok, tetapi masa pembentukan jiwa. Ada kisah panjang yang tak semuanya dapat diungkapkan dengan kata-kata, karena sebagian hanya bisa dirasakan oleh hati yang pernah menjalaninya.

Awal mula langkah itu bukan lahir dari rencana besar, melainkan dari nasihat seorang guru mulia, almarhum al-mukarrom Romo KH. Baidlowi Syamsuri Brabo. Seusai ngaji Posonan di PP. Sirojuttolibin Brabo, beliau memberi petunjuk agar melanjutkan nyantri ke Darul Hikam Curug. Nasihat itu diterima sebagai isyarah, bukan sekadar saran. Bagi santri, dawuh guru adalah arah jalan.

Dengan niat sederhana namun kuat, selepas bulan Syawal 2007, langkah kaki menuju Curug dimulai. Sowan ke Ndalem KH. Abdul Jalil Hasyim dilakukan dengan penuh takzim. Niatnya satu: ingin nyantri. Bekal lahir nyaris tak ada, hanya “cengkir” — kencenge pikir, tekad bulat yang menguatkan hati.

Tidak ada bayangan kemudahan, yang ada hanya keyakinan bahwa siapa yang berjalan menuju ilmu, Allah akan membukakan jalan.

Hidup dalam Keterbatasan

Hari-hari awal di pondok mengajarkan arti hidup sederhana. Tidak semua santri datang dengan bekal cukup. Ketika kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan, musyawarah dengan pengurus pondok menjadi titik penting. Dari situlah muncul jalan pengabdian.

Keputusan diambil: ikut ngabdi di Ndalem Agus Lutfil Khakim, putra pertama KH. Abdul Jalil Hasyim. Bukan pekerjaan ringan, tetapi justru di situlah pelajaran kehidupan dimulai.

Setiap pagi dimulai dengan mencuci pakaian, membantu memasak, dan kulakan gorengan. Aktivitas sederhana itu dilakukan dengan niat khidmah. Setelah itu berangkat sekolah Madin Salaf pagi di Madrasah Salafiyah Curug.

Tidak ada keluhan, karena setiap lelah diyakini bernilai ibadah. Hidup santri bukan soal kenyamanan, tapi keberkahan.

Ritme Kehidupan Santri

Selepas ba’da dhuhur, perjalanan belum selesai. Sawah menjadi bagian dari rutinitas. Kadang sore, kadang hingga malam, tetap membantu ndalem. Di sela-sela itu, ngaji tetap menjadi inti kehidupan.

Tiga tahun berjalan dalam ritme yang hampir sama. Bangun sebelum fajar, bekerja, belajar, mengaji, lalu mengulanginya lagi esok hari. Tidak ada kemewahan, tidak ada kelonggaran, tetapi ada ketenangan.

Di PP. Darul Hikam, ada dua kamar yang menjadi saksi perjalanan. Satu kamar pondok tempat berbaur dengan santri lain. Satu lagi kamar ndalem, di sebelah timurnya Agus Baihaqi. Dua ruang itu bukan sekadar tempat tidur, tetapi ruang pembentukan mental, kesabaran, dan keikhlasan.

Pelajaran yang Tak Tertulis

Pesantren tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi kehidupan. Dari khidmah dipelajari tawadhu’. Dari keterbatasan dipelajari syukur. Dari lelah dipelajari sabar.

Banyak hal yang tidak bisa diceritakan secara rinci, bukan karena dilupakan, tetapi karena terlalu dalam untuk diungkapkan. Ada ujian batin, ada pergulatan hati, ada momen jatuh bangun iman.

Namun satu yang pasti, semua itu menempa diri. Pesantren membentuk cara pandang hidup: bahwa kemuliaan bukan pada harta, tetapi pada adab dan ilmu.

Jejak yang Terus Hidup

Kini, masa itu telah berlalu, tetapi jejaknya tetap hidup. PP. Darul Hikam Curug bukan hanya tempat belajar, melainkan tempat menempa diri. Guru-guru, ndalem, sawah, madrasah, dan kamar-kamar sederhana menjadi saksi perjalanan seorang santri yang datang tanpa bekal, tetapi pulang membawa nilai hidup.

Nasihat KH. Baidlowi Syamsuri Brabo terbukti menjadi pembuka jalan. KH. Abdul Jalil Hasyim dan keluarga ndalem menjadi bagian dari proses pembelajaran kehidupan. Semua terangkai dalam takdir yang indah.

Pada akhirnya, perjalanan nyantri bukan soal berapa lama tinggal, tetapi bagaimana nilai pesantren hidup dalam diri. Apa yang ditanam di masa itu semoga menjadi amal jariyah, menjadi cahaya dalam langkah kehidupan.

Dan kisah ini, meski tak semua terucap, tetap hidup dalam doa dan rasa syukur.


Raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anhu

 “Raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anhu, dzālika liman khasyia rabbah.”

Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS. Al-Bayyinah: 8)

  1. Kalimat mulia ini adalah puncak harapan setiap mukmin: hidup dalam ridha Allah dan kembali kepada-Nya dalam keadaan diridhai. Ridha Allah bukan hanya tentang amal lahiriah, tetapi tentang hati yang tunduk, niat yang lurus, dan istiqamah dalam kebaikan. Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan menjaga lisan, perbuatan, dan amanah hidupnya.

  2. Para leluhur dan pendahulu kita telah menanamkan teladan bahwa hidup bukan sekadar untuk dunia, tetapi untuk menjemput ridha Allah. Mereka berjalan dengan kesederhanaan, menguatkan ibadah, dan menjaga akhlak. Dari merekalah mengalir doa-doa kebaikan yang menjadi penerang generasi setelahnya.

  3. K. Masuki bin Yunus dikenang sebagai sosok yang menanamkan nilai agama, ketekunan ibadah, dan ketulusan dalam membimbing keluarga serta masyarakat. Jejak kebaikannya menjadi amal jariyah yang terus hidup, mengalirkan pahala selama ilmunya diamalkan.

  4. Mbah Yunus bin Wasimin adalah bagian dari mata rantai orang-orang saleh yang menjaga tradisi iman di tengah masyarakat. Kesederhanaan dan kedekatannya dengan nilai-nilai agama menjadi teladan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan pada harta, tetapi pada takwa.

  5. M. Lutfil Khakim bin Masduki dan Abdul Khalim bin Masduki menjadi penerus nilai-nilai kebaikan keluarga: menjaga shalat, menghormati guru, dan menghidupkan tradisi doa. Semoga setiap langkah mereka menjadi jalan menuju ridha Allah dan keberkahan bagi keturunannya.

  6. Mbah Yasir Kudu dan Mbah Muhiyak Kudu termasuk dalam barisan orang-orang yang menjaga akar keimanan di lingkungan Kudu. Dari doa, pengajian, dan nasihat merekalah tumbuh generasi yang mengenal Allah, mencintai Rasul-Nya, dan menghormati ulama.

  7. Para leluhur, para pendahulu, dan para pejuang agama serta negara telah berkorban jiwa dan raga. Mereka menjaga tanah air sekaligus menjaga akidah umat. Perjuangan mereka adalah wujud khasyah (takut kepada Allah) yang nyata dalam amal.

  8. Lebih tinggi lagi, para Nabi, para syuhada, orang-orang sholih, dan para ulama adalah teladan utama. Hidup mereka dipenuhi pengorbanan, dakwah, dan kesabaran. Mereka mengajarkan bahwa ridha Allah diraih dengan iman, ilmu, dan akhlak.

  9. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada semua nama yang disebut, kepada para leluhur kita, dan kepada seluruh kaum mukminin. Semoga kubur mereka dilapangkan, diterangi, dan dijadikan taman dari taman surga.

  10. Ya Allah, jadikan kami penerus kebaikan mereka. Anugerahkan kepada kami hati yang takut kepada-Mu, lisan yang gemar berdzikir, dan amal yang Engkau ridhai. Kumpulkan kami bersama para Nabi, syuhada, sholihin, dan ulama dalam ridha-Mu. Raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anhu — semoga Engkau ridha kepada mereka dan kepada kami semua. Aamiin.

Rindu Haromain

 Rindu kepada Ka’bah, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi adalah rindu yang tumbuh dari iman. Setiap muslim yang pernah menatapnya, atau bahkan yang baru membayangkannya, pasti merasakan getaran yang berbeda di hati. Tanah Haramain bukan sekadar tempat, melainkan pusat kerinduan ruhani, tempat doa-doa dipanjatkan dengan air mata, dan tempat hati merasa pulang kepada Allah. Kerinduan itu kadang hadir di sepertiga malam, saat nama Makkah dan Madinah terlintas dalam doa.

Kerinduan itu pula yang ingin aku gantungkan dalam doa untuk keluargaku: Ibu Mahmudah binti Zaenuri, Abah Lasiman bin Yasir, dan Umi Suharti binti Muhiyak. Semoga Allah memberi kesempatan langkah mereka menjejak pelataran Masjidil Haram, memandang Ka’bah dengan mata yang basah oleh syukur, dan bershalawat di Raudhah Masjid Nabawi dengan hati penuh cinta kepada Rasulullah ﷺ. Semoga setiap rindu mereka dicatat sebagai doa yang kelak Allah ijabahi.

Untuk istriku tercinta Inarotul Ulya, dan anak-anakku I’anatul Auliya, Zuyinatus Syifa’iyah, serta Ahmad Ashiful Baroya, kerinduan ke Haramain semoga menjadi warisan iman dalam keluarga kami. Semoga mereka tumbuh dengan cinta kepada Makkah dan Madinah, rindu pada adzan Masjidil Haram, dan rindu pada shalawat di Masjid Nabawi. Ya Allah, panggil kami sekeluarga menjadi tamu-Mu, berkumpul di depan Ka’bah dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan.

Kerinduan ini juga kuhadiahkan doa untuk para almarhum: Alm. K. Masduki bin Yunus, alm. M. Lutfil Khakim bin Masduki, dan alm. Abdul Khalim bin Masduki. Semoga Allah menghadiahkan pahala ziarah dan shalawat kami kepada mereka, melapangkan kubur mereka, menerangi alam barzakh mereka, dan mengumpulkan mereka kelak di surga bersama orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ. Rindu Haramain semoga menjadi wasilah rahmat bagi mereka.

Dan untuk saudara-saudaraku semuanya, semoga Allah tanamkan rindu yang sama di hati kita. Rindu yang menggerakkan doa, rindu yang mendorong amal, rindu yang mendekatkan kepada Allah. Semoga suatu hari Allah mempertemukan kami di tanah Haramain, atau jika tidak di dunia, maka di surga-Nya kelak. Karena sejatinya rindu ke Haramain adalah rindu untuk lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. 🤍

ARTI SEBUAH NAMA

 


ARTI SEBUAH NAMA: NAMA ADALAH DOA

 1 — Nama sebagai Identitas dan Harapan

Nama bukan sekadar rangkaian huruf yang dipanggil setiap hari. Nama adalah identitas, tanda pengenal, sekaligus pembeda antara satu manusia dengan manusia lainnya. Sejak seorang anak lahir ke dunia, salah satu hadiah pertama dari orang tua adalah sebuah nama. Di situlah tersimpan cinta, harapan, dan doa.

Dalam banyak tradisi, khususnya dalam Islam, pemberian nama memiliki makna yang dalam. Rasulullah ﷺ menganjurkan memberi nama yang baik, karena nama yang baik adalah doa yang terus dipanjatkan. Setiap kali nama itu disebut, sejatinya harapan baik ikut diucapkan. Setiap panggilan adalah doa yang berulang.

Orang tua tidak pernah sembarangan menamai anaknya. Ada yang mengambil dari nama nabi dan orang saleh, ada yang memilih nama dengan arti kebaikan, keberanian, kesabaran, atau kemuliaan. Semua itu bukan tanpa maksud. Di balik sebuah nama, tersimpan harapan agar sang anak tumbuh sesuai makna namanya.

Nama juga menjadi cermin doa orang tua sepanjang masa. Ketika seorang anak dipanggil dengan nama yang bermakna “baik”, “saleh”, “mulia”, atau “berilmu”, maka orang tua sedang menanam harapan agar sifat itu melekat pada dirinya. Nama menjadi pengingat jati diri dan arah hidup.

Lebih dari itu, nama adalah identitas spiritual. Di dunia kita dipanggil dengan nama. Di akhirat pun manusia akan dipanggil dengan nama mereka. Maka nama bukan perkara ringan, melainkan bagian dari perjalanan hidup seorang manusia.


 2 — Nama sebagai Doa yang Hidup

Nama disebut berulang kali sejak seseorang kecil hingga dewasa. Bayangkan berapa ribu kali sebuah nama dipanggil sepanjang hidup. Setiap panggilan itu membawa energi doa. Itulah mengapa nama yang baik adalah investasi kebaikan jangka panjang.

Ketika seorang anak bernama “Sholeh” dipanggil, sesungguhnya orang tua sedang mendoakan kesalehannya. Saat seseorang bernama “Aminah” disebut, ada doa agar ia menjadi pribadi yang amanah. Nama menjadi doa yang hidup dan berjalan.

Namun nama bukanlah jaminan otomatis. Nama adalah harapan, sementara usaha dan pendidikan adalah jalannya. Nama yang baik perlu diiringi dengan didikan yang baik, teladan yang baik, dan lingkungan yang baik. Di sinilah peran keluarga dan masyarakat menjadi penting.

Nama juga bisa menjadi pengingat diri. Ketika seseorang tahu arti namanya, ia akan terdorong untuk menyesuaikan diri dengan makna tersebut. Nama menjadi kompas moral yang halus namun kuat.

Selain itu, nama adalah warisan. Ia akan tertulis di dokumen, disebut dalam pergaulan, dikenang dalam sejarah keluarga. Nama baik akan membawa kehormatan, sedangkan nama buruk bisa meninggalkan kesan yang tidak baik. Karena itu menjaga nama baik sama dengan menjaga kehormatan diri dan keluarga.


3 — Menjaga Nama, Menghidupkan Doa

Jika nama adalah doa, maka menjaga perilaku adalah cara menghidupkan doa itu. Nama baik akan indah bila diiringi akhlak baik. Nama mulia akan bercahaya bila diiringi amal mulia.

Setiap orang membawa nama orang tuanya, bahkan nama keluarganya. Perilaku seseorang bisa mengangkat atau menjatuhkan nama itu. Maka menjaga nama baik adalah tanggung jawab moral.

Nama juga menjadi doa yang terus mengalir dari orang tua. Banyak orang tua yang menyebut nama anaknya dalam doa malam mereka. Mereka memohon agar makna nama itu benar-benar terwujud dalam kehidupan anaknya.

Karena itu, siapa pun kita, mari mensyukuri nama yang telah diberikan. Jika kita telah diberi nama baik, maka tugas kita adalah berusaha menjadi pribadi baik. Jika kita merasa belum sesuai dengan makna nama kita, maka tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya, nama adalah doa, harapan, dan amanah. Ia adalah panggilan dunia sekaligus bekal menuju akhirat. Semoga setiap nama yang kita sandang menjadi doa yang Allah kabulkan, menjadi kebaikan yang nyata dalam hidup, dan menjadi sebab keberkahan di dunia serta keselamatan di akhirat.

Sebab nama bukan sekadar sebutan — ia adalah doa yang berjalan sepanjang kehidupan.