**Jejak Santri di Pondok ATIM Kaliwungu
(Jejak Ilmu, Khidmah, dan Kehidupan)**
Pondok sebagai Rumah Kedua
Menjadi santri di Pondok ATIM Kaliwungu bukan sekadar menempati asrama, tetapi memasuki dunia yang membentuk jiwa. Pondok menjadi rumah kedua, tempat belajar hidup, bukan hanya belajar kitab. Di sana, santri datang dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan oleh niat mencari ilmu.
Kehidupan di Pondok ATIM sederhana. Bangunan tidak mewah, fasilitas terbatas, namun suasana ilmu terasa hidup. Setiap sudut pondok seakan menyimpan doa para guru dan harapan para santri.
Lurah Pondok sebagai Pembimbing Awal
Salah satu figur penting dalam perjalanan awal adalah Lurah Pondok PP. ATIM, Kang Sahri dari Batang. Beliau bukan hanya pengatur kedisiplinan pondok, tetapi pembimbing keseharian santri. Ba’da Subuh, santri berkumpul untuk ngaji. Dari beliau, saya belajar tartib, disiplin waktu, dan adab kepada guru.
Beliau mengajarkan bahwa santri harus kuat lahir batin. Tidak manja, tidak mudah mengeluh. Nilai itu tertanam kuat hingga kini.
Menimba Ilmu kepada Para Kyai
Perjalanan nyantri mempertemukan saya dengan banyak ulama. KH. Imron Humaidulloh Irfan menjadi salah satu guru penting dalam perjalanan intelektual dan spiritual. Pengajaran beliau tegas namun menyejukkan.
Begitu pula Sholahuddin Humaidulloh, yang memberikan banyak pelajaran tentang kesungguhan dalam belajar. Dari beliau saya memahami bahwa ilmu harus dikejar dengan kesabaran.
Madrasah sebagai Ladang Ilmu
Di MIM Kaliwungu, banyak guru dan kyai yang membentuk wawasan keilmuan santri. Secara khusus, KH. Maghzunun Irja’ dikenal sebagai sosok alim dan mendalam ilmunya. Setiap pengajian beliau membuka cakrawala baru.
Pelajaran di madrasah bukan hanya teori, tetapi pembentukan cara berpikir santri agar matang dalam memahami agama.
Guru-Guru yang Menguatkan Ruhani
Nama-nama seperti KH. Aqib Umar, KH. Sofyan Hadi, KH. Dimyati Rois, dan KH. Muhajirin Aljufri menjadi bagian dari mata rantai ilmu. Masing-masing memiliki ciri khas dalam mengajar.
Ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang humoris, tetapi semuanya menanamkan cinta ilmu dan takut kepada Allah.
Guru Al-Qur’an dan Cahaya Kalamullah
KH. Slamet Qomaruddin Badawi adalah guru Al-Qur’an yang memberi sentuhan ruhani mendalam. Mengaji kepada beliau bukan sekadar membaca, tetapi merasakan keagungan Kalamullah.
Setiap huruf dilafalkan dengan kehati-hatian. Dari beliau saya belajar bahwa Al-Qur’an harus dibaca dengan hati yang bersih.
Mata Rantai Keilmuan yang Luas
KH. Fatoni, K. Mahzunun Irja’, KH. Syamsul Ma’arif, K. Zumri, hingga KH. Ahmad Basir Jekulo Kudus menjadi bagian dari perjalanan ilmu. Masing-masing memberi warna tersendiri.
Santri belajar bahwa ilmu itu luas dan guru adalah perantara cahaya ilmu Allah.
Guru Kehidupan
KH. Dimyati Kuwayuan, Bapak Sadino, dan K. Khoiruddin Batang mengajarkan pelajaran kehidupan. Tidak semua pelajaran datang dari kitab; banyak yang datang dari teladan hidup.
Cara mereka berbicara, bersikap, dan berinteraksi menjadi pelajaran nyata tentang akhlak.
Santri dan Masyarakat
Santri Pondok ATIM tidak terpisah dari masyarakat. Mereka berbaur, membantu kegiatan warga, ikut kerja bakti, bahkan berdagang kecil-kecilan. Interaksi itu membentuk kemandirian sosial.
Masyarakat sekitar pun menerima santri dengan hangat. Hubungan pondok dan warga seperti keluarga besar. Santri belajar hidup bermasyarakat sejak dini.
Jejak yang Tak Terhapus
Kini, semua itu menjadi kenangan berharga. Nama-nama guru tetap hidup dalam doa. Pondok ATIM menjadi saksi perjalanan panjang mencari ilmu.
Semoga semua kyai dan guru yang pernah menjadi perantara ilmu mendapat balasan terbaik dari Allah SWT. Dan semoga ilmu yang ditimba menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Perjalanan santri mungkin sederhana, tetapi dampaknya panjang. Karena dari pondoklah lahir pribadi yang kuat, sabar, dan menghargai ilmu.