Untuk Baitullah, Ka’bah dan Masjidil Haram
Di tengah padang pasir yang sunyi,
Ka’bah berdiri tegak dalam diam,
bukan sebagai bangunan semata,
melainkan pusat rindu seluruh insan beriman.
Wahai Baitullah,
ke mana pun kami berpaling,
engkau menjadi arah sujud,
penyatu langkah dan doa.
Di hadapanmu,
segala kesombongan luruh,
manusia menjadi sama,
hanya hamba yang berharap ampunan.
Masjidil Haram memeluk kami
dengan luas dan keagungan,
tempat air mata jatuh tanpa malu,
tempat doa naik tanpa penghalang.
Putaran thawaf tak pernah lelah,
seperti hati yang terus berputar
mencari ridha Ilahi,
mengitari pusat cinta sejati.
Di antara Multazam dan Hijr Ismail,
harapan dititipkan dalam sunyi,
nama-nama disebut satu per satu,
dalam getar rindu yang paling jujur.
Ka’bah bukan hanya tujuan kaki,
ia tujuan jiwa,
mengajarkan kesetiaan,
bahwa hidup pun harus mengarah pada-Nya.
Masjidil Haram adalah saksi,
doa dari seluruh penjuru dunia,
yang bertemu dalam satu suara:
“Ya Allah, terimalah kami.”
Wahai Baitullah,
panggillah kami suatu hari,
dalam keadaan suci dan cukup,
untuk bersujud dan bersyukur.
Hingga saat itu tiba,
Ka’bah tetap kami bawa dalam dada,
sebagai kiblat hidup,
menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar