Siap, Mas Alfa. Berikut puisi Baitullah Ka’bah dan Masjidil Haram yang dipadukan dengan sholawat Nabi ﷺ, mengalir lembut antara rindu, doa, dan mahabbah.
Puisi Baitullah dan Sholawat Nabi ﷺ
Di hadapan Baitullah kami menunduk,
Ka’bah berdiri sebagai poros doa,
dan dari bibir kami mengalir sholawat:
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Wahai Ka’bah yang agung,
engkau memanggil langkah dari seluruh penjuru,
sebagaimana Nabi kami memanggil hati
menuju cahaya tauhid.
Di Masjidil Haram,
sujud kami menyatu dengan sholawat,
doa kami naik bersama pujian,
kepada kekasih Allah yang mulia.
Thawaf mengitari rumah-Mu,
seperti cinta yang mengitari Rasul-Mu,
tak pernah lelah,
tak pernah berpaling.
Di Multazam kami berdoa lirih,
menyebut nama dan dosa,
lalu menyelipkan sholawat,
agar doa kami sampai dengan adab.
Wahai Nabi Muhammad ﷺ,
engkau ajarkan kami arah hidup,
sebagaimana Ka’bah mengajarkan arah sujud,
menuju Allah semata.
Masjidil Haram menjadi saksi,
air mata dan harapan umatmu,
yang dibasuh oleh sholawat
dan disambut oleh rahmat Ilahi.
Jika langkah kami belum sampai,
biarlah sholawat kami yang terlebih dahulu tiba,
mengetuk pintu langit
dengan rindu yang tulus.
Panggillah kami ke rumah-Mu, ya Allah,
dengan berkah sholawat Nabi-Mu,
agar kami thawaf dalam syukur,
dan pulang membawa ampunan.
Hingga hari itu tiba,
kami istiqamah bersholawat,
menjadikan Ka’bah kiblat hidup,
dan Muhammad ﷺ teladan sepanjang hayat.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad
wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar