Senyum Itu (K. Masduki bin Yunus)
Aku melihat beliau tersenyum padaku,
bukan dalam mimpi yang riuh,
melainkan dalam diam
yang menenangkan hati.
Senyum itu tak berkata apa-apa,
namun cukup menjawab rindu.
Tak ada pesan panjang,
hanya keteduhan
yang membuat air mata reda.
Seolah ia berkata:
“Tenanglah,
aku baik-baik saja.”
Senyum itu lahir
dari jiwa yang telah sampai,
dari hati yang telah damai
dalam rahmat Tuhannya.
Aku membalasnya dengan doa,
sebab itulah bahasa
yang masih menghubungkan kami.
Dan dalam senyum itu,
aku belajar
tentang keikhlasan melepaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar