Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Jumat, 16 Januari 2026

SANAD KEILMUAN M. ABDUL AZIS BIN MASDUKI YUNUS


(Integrasi Pendidikan Pesantren dan Pendidikan Formal)

A. Pendahuluan: Sanad Keilmuan sebagai Fondasi Intelektual dan Moral

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad menempati posisi yang sangat fundamental. Sanad bukan sekadar daftar guru atau riwayat belajar, melainkan mata rantai transmisi ilmu yang menjamin keaslian, keberkahan, dan otoritas keilmuan. Ulama klasik menegaskan bahwa ilmu tanpa sanad akan kehilangan legitimasi dan arah moralnya. Prinsip inilah yang kemudian diwarisi dan dikembangkan dalam tradisi pesantren Nusantara, di mana proses menuntut ilmu selalu disertai adab, khidmah, dan kesinambungan guru-murid.

Dalam konteks modern, sanad keilmuan tidak hanya dimaknai dalam pengertian tradisional pesantren, tetapi juga mencakup jalur pendidikan formal yang sistematis dan terstruktur. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi menjadi sarana penting dalam penguatan metodologi berpikir, analisis ilmiah, serta legitimasi akademik. Integrasi antara sanad pesantren dan sanad formal inilah yang membentuk sosok pembelajar yang utuh.

Perjalanan keilmuan M. Abdul Azis bin Masduki Yunus merupakan contoh konkret integrasi tersebut. Beliau menempuh jalan ilmu melalui dua jalur yang saling melengkapi: pendidikan pesantren (nonformal) dan pendidikan formal (sekolah–universitas), yang keduanya membentuk fondasi intelektual, spiritual, dan sosial dalam kehidupannya.


B. Sanad Keilmuan Pesantren (Nonformal)

1. Kaliwungu Kendal sebagai Poros Awal Keilmuan 1998-2004

Kawasan Kaliwungu, Kendal, dikenal luas sebagai salah satu pusat pesantren dan ulama di Jawa Tengah. Di wilayah inilah M. Abdul Azis bin Masduki Yunus menimba ilmu dan adab dari banyak kiai besar. Kehidupan pesantren di Kaliwungu menekankan keseimbangan antara ilmu syariat, akhlak, dan riyadhah spiritual.

Di antara guru-guru beliau adalah K. Syahri dari Batang, yang memberikan dasar fikih dan pembinaan karakter santri. Beliau juga belajar Al-Qur’an kepada K. Slamet Qomaruddin, AH bin K. Badawi Abdul Rosid, seorang guru Al-Qur’an yang dikenal ketat dalam tajwid dan sanad bacaan.

Selain itu, M. Abdul Azis berguru kepada KH. Imron Humaidulloh Irfan, KH. Sfyan Hadi, dan KH. Aqib Umar, yang memperkaya pemahaman beliau dalam bidang akidah, fikih, dan tasawuf. Jejaring keilmuan beliau juga terhubung dengan ulama besar seperti KH. Dimyati Rois, KH. Muhajirin Aljufri, dan KH. Maghzunun Irja’, yang dikenal sebagai penjaga tradisi pesantren salaf.

Beliau juga menerima pengajaran dari KH. Fatoni, K. Zumri, KH. Syamsul Ma’arif, KH. Zuhri Ihsan, para kiai MIM Kaliwungu, K. Khoiruddin dari Batang, KH. Sholahuddin Humaidullah, dan KH. Nujum, AH, serta para kiai lain yang membentuk jejaring sanad keilmuan beliau.

2. PP. Darul Falah Jekulo Kudus 2000 - Sekarang

Di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, M. Abdul Azis bin Masduki Yunus berguru kepada KH. Ahmad Basyir, seorang mujiz amalan Dalā’il al-Qur’an, Dalā’il al-Khairāt, dan berbagai hizib. Di pesantren ini, beliau tidak hanya belajar bacaan wirid, tetapi juga adab, disiplin spiritual, dan tanggung jawab dalam mengamalkan ijazah ulama. (Pengamal Dala'il)

3. PP. Sirojut Tholibin Brabo

Beliau juga menimba ilmu di PP. Sirojut Tholibin Brabo kepada KH. Baidlowi Syamsuri. Pesantren ini dikenal sebagai pusat pendalaman kitab kuning, khususnya fikih dan akhlak. Di sinilah beliau ditempa untuk memahami perbedaan pendapat ulama serta menjaga tawadhu’ dalam berilmu.

4. PP. Darul Hikam Curug Tegowanu (2007-2010)

Di PP. Darul Hikam Curug Tegowanu, M. Abdul Azis berguru kepada KH. Abdul Jalil Hasyim dan K. Lutfil Khakim bin K. Abdul Jalil. Lingkungan pesantren ini memperkuat keseimbangan antara ilmu zahir dan batin serta orientasi pengabdian sosial.

5. Sanad Haramain (30 November - 9 Desember 2025)

Saat menjalankan ibadah Umrah, beliau berkesempatan belajar Al-Qur’an kepada Syeh Ibrohim, seorang guru ngaji Al-Qur’an di Masjidil Haram. Pengalaman ini memperkuat sanad bacaan Al-Qur’an beliau dan menjadi puncak integrasi sanad Nusantara dengan pusat keilmuan Islam dunia.


C. Sanad Keilmuan Formal (Sekolah–Universitas)

1. Pendidikan Dasar dan Menengah

Pendidikan formal M. Abdul Azis dimulai di TK Pertiwi Boweh Rejosari, dilanjutkan ke SD Negeri Rejosari 2/3 Karangawen. Pada fase ini, terbentuk fondasi literasi, kedisiplinan, dan kepekaan sosial.

Beliau kemudian melanjutkan ke MTs Nurul Huda Tlogorejo, Tegowanu, Grobogan, di mana pendidikan agama dan umum terintegrasi secara sistematis. Pendidikan menengah atas ditempuh melalui Kejar Paket C di Ar-Rohmah Dolog Kembangarum, Mranggen, Demak, menunjukkan keteguhan beliau dalam melanjutkan pendidikan formal meski melalui jalur nonkonvensional.

2. Pendidikan Tinggi

Pada jenjang Strata Satu (S1), beliau menempuh pendidikan di STIQ IC Demak dan meraih gelar Sarjana Agama (S.Ag), dengan fokus pada studi Al-Qur’an dan keislaman.

Beliau sempat melanjutkan S2 di UNISNU Jepara selama satu semester, sebelum berhenti karena menikah. Setelah itu, beliau kembali melanjutkan pendidikan S2 di UNWAHAS Semarang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan berhasil meraih gelar Magister Manajemen (M.M).


D. Integrasi Sanad Pesantren dan Akademik

Perjalanan keilmuan M. Abdul Azis bin Masduki Yunus menunjukkan integrasi harmonis antara tradisi pesantren dan pendidikan modern. Ilmu agama membentuk landasan moral dan spiritual, sementara ilmu manajemen dan akademik modern memperkuat kemampuan analitis dan kepemimpinan.


E. Dampak Keilmuan terhadap Peran Sosial

Sanad keilmuan ini membentuk pribadi yang adaptif, religius, dan bertanggung jawab secara sosial. Beliau mampu menjembatani dunia pesantren, pendidikan formal, dan masyarakat luas.


F. Penutup

Sanad keilmuan M. Abdul Azis bin Masduki Yunus merupakan mata rantai penting dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara. Integrasi pesantren dan akademik menjadikan beliau bagian dari generasi yang menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.


DAFTAR RUJUKAN

  1. Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara. Jakarta: Kencana.

  2. Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.

  3. Wahid, Abdurrahman. Pesantren dan Transformasi Sosial. Jakarta: LP3ES.

  4. Steenbrink, Karel A. Pesantren, Madrasah, Sekolah. Jakarta: LP3ES.

  5. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

  6. Zed, Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor.

  7. Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Pesantren (berbagai edisi).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar