Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Jumat, 16 Januari 2026

Sanad Keilmuan Formal dan Nonformal Inarotul Ulya



Sanad Keilmuan Formal dan Nonformal

Inarotul Ulya

Inarotul Ulya adalah santriwati asal Kudu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, yang menempuh perjalanan keilmuan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal secara berkesinambungan. Sejak usia dini hingga pendidikan tinggi, perjalanan ilmunya menunjukkan integrasi yang kuat antara pendidikan madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi, sehingga membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, serta memiliki orientasi pengabdian yang jelas.

Sanad Keilmuan Formal: Pendidikan Dasar dan Menengah

Perjalanan pendidikan formal Inarotul Ulya dimulai dari lingkungan pendidikan Islam dasar. Beliau menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Futuhiyyah Kudu. Pada jenjang ini, beliau mulai dikenalkan dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan umum yang dipadukan dengan pendidikan agama Islam. Pembelajaran Al-Qur’an, akidah, fikih, dan akhlak menjadi fondasi awal dalam membentuk karakter religius serta kedisiplinan belajar.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Inarotul Ulya melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Futuhiyyah Kudu. Pada fase ini, pendidikan agama dan pendidikan umum semakin diperdalam secara sistematis. Lingkungan MTs Futuhiyyah memberikan ruang bagi penguatan pemahaman keislaman, pembiasaan ibadah, serta penanaman nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial. Pendidikan menengah pertama ini menjadi tahap penting dalam membentuk kesadaran keilmuan dan kesiapan mental untuk menempuh pendidikan lanjutan.

Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) Ibrohimiyyah. Pada jenjang MA, Inarotul Ulya mulai menunjukkan kematangan berpikir dan kedalaman minat dalam bidang keagamaan. Pendidikan di MA Ibrohimiyyah tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembinaan karakter santri, kedisiplinan, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan. Masa pendidikan ini menjadi jembatan penting menuju pendalaman ilmu Al-Qur’an dan pendidikan tinggi.

Sanad Keilmuan Nonformal: Pesantren dan Tahfidz Al-Qur’an

Seiring dengan pendidikan formal yang ditempuh, Inarotul Ulya juga menempuh jalur pendidikan nonformal melalui pesantren. Beliau merupakan santriwati Dzurriyah KH. Ibrohim Brumbung (Nyai Hj. Umronah, AH.), Mranggen, Kabupaten Demak, seorang Bu Nyai yang dikenal dalam pembinaan santri dan pengajaran Al-Qur’an.

Di bawah bimbingan Dzurriyahnya KH. Ibrohim (Nyai Hj. Umronah, AH.), Inarotul Ulya menempuh pendidikan tahfidz Al-Qur’an secara disiplin dan berkesinambungan. Proses menghafal Al-Qur’an dijalani dengan kesungguhan, kesabaran, serta penjagaan adab kepada guru. Lingkungan pesantren membentuk kebiasaan hidup sederhana, istiqamah dalam ibadah, serta komitmen kuat terhadap Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Melalui proses panjang dan penuh perjuangan, Inarotul Ulya berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an bil hifdzi. Capaian ini merupakan tonggak penting dalam sanad keilmuan nonformal beliau. Dalam tradisi pesantren, hafalan Al-Qur’an tidak hanya dimaknai sebagai prestasi individual, tetapi sebagai amanah keilmuan yang harus dijaga melalui muraja’ah, akhlak, dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Sanad tahfidz yang beliau miliki bersambung melalui bimbingan guru, sehingga keberkahan dan kemurnian bacaan Al-Qur’an tetap terjaga. Pendidikan pesantren ini membentuk kedalaman spiritual, ketenangan jiwa, serta keteguhan karakter yang menjadi modal utama dalam perjalanan hidup dan pengabdian.

Sanad Keilmuan Formal: Pendidikan Tinggi

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah dan pendalaman tahfidz Al-Qur’an, Inarotul Ulya melanjutkan pendidikan formal ke jenjang perguruan tinggi. Beliau menempuh pendidikan Strata Satu (S1) pada Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) di Universitas PGRI Semarang.

Pilihan program studi PG PAUD mencerminkan kepedulian beliau terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter generasi masa depan. Selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, beliau mempelajari ilmu pedagogi, psikologi perkembangan anak, metode pembelajaran, serta praktik pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak usia dini.

Pendidikan tinggi ini melengkapi latar belakang pesantren dan tahfidz Al-Qur’an yang telah beliau miliki. Ilmu akademik yang diperoleh menjadi sarana untuk mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam dunia pendidikan secara profesional dan kontekstual.

Integrasi Sanad Keilmuan dan Arah Pengabdian

Perjalanan keilmuan Inarotul Ulya menunjukkan integrasi yang kuat antara sanad keilmuan formal dan nonformal. Pendidikan MI, MTs, dan MA membentuk dasar akademik dan religius, pendidikan pesantren memperkuat spiritualitas dan akhlak, sementara pendidikan tinggi PG PAUD membekali kompetensi profesional sebagai pendidik.

Integrasi ini menempatkan Inarotul Ulya sebagai santriwati terdidik yang memiliki potensi besar dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. Dengan bekal hafalan 30 juz dan latar belakang akademik, beliau memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai keislaman, akhlak, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini.

Penutup

Sanad keilmuan formal dan nonformal Inarotul Ulya merupakan perjalanan ilmu yang utuh dan berkesinambungan. Berasal dari Kudu, Genuk, Semarang, beliau menempuh pendidikan di MI dan MTs Futuhiyyah Kudu, MA Ibrohimiyyah, pendidikan pesantren di bawah bimbingan Dzurriyah KH. Ibrohim (Nyai Hj. Umronah, AH) Brumbung Mranggen Demak hingga menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an bil hifdzi, serta pendidikan tinggi S1 PG PAUD di Universitas PGRI Semarang. Seluruh rangkaian ini membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi kepada umat dan masyarakat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar