Biografi dan Sejarah
Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām
Pendahuluan
Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām adalah sosok agung dalam khazanah Islam yang kehadirannya melampaui batas ruang dan waktu. Beliau dikenal sebagai hamba Allah yang dianugerahi ilmu ladunnī, yaitu ilmu langsung dari Allah SWT, yang tidak diperoleh melalui proses belajar lahiriah sebagaimana umumnya manusia. Kisah beliau diabadikan secara jelas dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 60–82, dan menjadi pelajaran abadi tentang hakikat ilmu, adab, dan kebijaksanaan Ilahi.
Keberadaan Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām tidak hanya dikenal dalam Islam, tetapi juga dalam tradisi spiritual umat-umat terdahulu. Namun dalam Islam, posisi beliau ditempatkan secara luhur sebagai hamba Allah yang saleh, pembimbing para nabi, dan penjaga rahasia hikmah Ilahi.
Asal-Usul dan Kedudukan
Para ulama berbeda pendapat mengenai status Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām: apakah beliau seorang nabi atau wali agung. Mayoritas ulama tafsir seperti Imam Al-Qurthubi, Imam Al-Baidhawi, dan sebagian mufassir klasik berpendapat bahwa Khiḍir adalah seorang nabi, berdasarkan firman Allah:
“Dan Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahfi: 65)
Ilmu dari sisi Allah (ʿilman ladunnā) ini menunjukkan kedudukan kenabian, karena ilmu tersebut bukan hasil ijtihad atau pembelajaran biasa, melainkan wahyu dan ilham langsung dari Allah SWT.
Nama “Khiḍir” berasal dari kata al-khaḍrā’ (hijau). Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa di mana pun beliau duduk atau berpijak, tanah di sekitarnya menjadi hijau dan subur, sebagai simbol kehidupan dan keberkahan.
Kisah Pertemuan dengan Nabi Musa ‘Alaihissalām
Kisah paling masyhur tentang Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām adalah pertemuannya dengan Nabi Musa ‘Alaihissalām, sebagaimana diabadikan dalam Surat Al-Kahfi. Nabi Musa, yang dikenal sebagai nabi besar dan pemilik syariat, diperintahkan oleh Allah untuk belajar kepada Khiḍir tentang hakikat ilmu dan hikmah Ilahi.
Dalam perjalanan tersebut, terjadi tiga peristiwa besar:
Perusakan perahu orang miskin,
Pembunuhan seorang anak,
Perbaikan tembok tanpa meminta upah.
Secara lahiriah, perbuatan Khiḍir tampak keliru dan tidak dapat diterima oleh akal dan syariat Nabi Musa. Namun pada akhirnya, Khiḍir menjelaskan bahwa semua perbuatannya dilakukan atas perintah Allah dan mengandung hikmah besar yang belum diketahui oleh Nabi Musa.
Dari kisah ini, umat Islam diajarkan bahwa:
Tidak semua kebenaran dapat dipahami oleh akal semata,
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu,
Adab kepada guru lebih utama daripada kepandaian.
Ilmu Ladunni dan Hikmah Batin
Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām dikenal sebagai simbol ilmu batin (hakikat), sementara Nabi Musa ‘Alaihissalām melambangkan ilmu lahir (syariat). Keduanya tidak saling menafikan, tetapi saling melengkapi.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa syariat tanpa hakikat akan kering, sedangkan hakikat tanpa syariat akan sesat. Dalam diri Khiḍir, Allah memperlihatkan bagaimana ilmu hakikat berjalan lurus di bawah kehendak-Nya, bukan atas hawa nafsu.
Karena itulah, banyak ulama dan wali Allah menyebut bahwa Khiḍir ‘Alaihissalām menjadi pembimbing ruhani bagi para kekasih Allah yang dikehendaki-Nya, bukan dalam bentuk ajaran baru, melainkan dalam bentuk penguatan iman, istiqamah, dan keikhlasan.
Apakah Nabiyullāh Khiḍir Masih Hidup?
Mengenai usia Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām, para ulama juga berbeda pendapat. Sebagian besar ulama tasawuf dan riwayat menyebutkan bahwa beliau masih hidup hingga hari ini atas izin Allah, sebagaimana Nabi Isa ‘Alaihissalām. Pendapat ini didasarkan pada berbagai atsar dan pengalaman ruhani para ulama salaf.
Namun sebagian ulama hadis bersikap tawaqquf (tidak memastikan), karena tidak ada dalil qath‘i yang secara tegas menyatakan wafat atau hidupnya beliau. Dalam hal ini, umat Islam diajarkan untuk bersikap adil dan tidak berlebihan.
Yang pasti, keberadaan Khiḍir ‘Alaihissalām—hidup atau wafat—tidak mengurangi kedudukan dan pelajaran besar dari kisah beliau.
Nabiyullāh Khiḍir dalam Tradisi Ulama dan Pesantren
Dalam tradisi pesantren dan tasawuf Nusantara, Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām sering disebut sebagai simbol penjaga ilmu, adab, dan keikhlasan. Banyak kiai dan ulama mengajarkan bahwa siapa pun yang ikhlas menuntut ilmu dan mengabdi kepada Allah, maka Allah akan membukakan jalan ilmu yang tidak disangka-sangka.
Isyarah atau petunjuk batin yang dinisbatkan kepada Khiḍir tidak dimaknai sebagai sumber hukum atau syariat baru, melainkan sebagai penguat niat dan istiqamah, selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Penutup dan Hikmah
Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām adalah pengingat abadi bahwa:
Ilmu Allah tidak terbatas,
Tidak semua hikmah dapat dipahami seketika,
Adab lebih tinggi dari kepandaian,
Keikhlasan adalah kunci dibukanya rahasia kebaikan.
Semoga Allah SWT menjadikan kisah Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām sebagai pelajaran bagi kita semua dalam menuntut ilmu, menjalani hidup, dan menerima takdir-Nya dengan penuh tawakkal.
Allāhumma zidnā ‘ilmā, warzuqnā fahmā, waj‘alnā min ‘ibādikas ṣāliḥīn.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Oleh. M. Abdul Azis Semarang Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar