Biografi
Kiai Sarbini
Pendiri Pondok Pesantren ATIM Kaliwungu, Kendal, Jawa tengah Indonesia
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Kiai Sarbini adalah salah satu sosok ulama kampung yang namanya mungkin tidak banyak tercatat dalam buku-buku besar, namun jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam kehidupan umat dan para santri. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sederhana, istiqamah dalam ibadah, serta teguh dalam mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Islam. Dari tangan beliau, Pondok Pesantren ATIM (Asrama Tarbiyatul Islam Muta’allimin) di Sekopek, Sarirejo, Kaliwungu, Kendal, lahir dan tumbuh sebagai pesantren perjuangan.
Latar Belakang dan Kepribadian
Kiai Sarbini tumbuh dalam lingkungan masyarakat religius yang menjunjung tinggi nilai adab, kesederhanaan, dan pengabdian. Sejak usia muda, beliau dikenal sebagai pribadi yang pendiam namun dalam, sedikit bicara namun sarat makna. Kesederhanaan hidup menjadi ciri utama beliau; berpakaian apa adanya, makan seadanya, dan menjauhkan diri dari gemerlap dunia.
Dalam keseharian, beliau memperbanyak ibadah, riyadhah, dan tirakat. Shalat berjamaah, dzikir, wirid, serta khidmah kepada masyarakat menjadi bagian dari rutinitas hidup beliau. Dari laku hidup inilah terbentuk wibawa ruhani yang membuat masyarakat dan santri menaruh hormat dan kepercayaan kepadanya.
Awal Perintisan Pondok Pesantren ATIM
Pondok Pesantren ATIM dirintis oleh Kiai Sarbini bukan dengan perencanaan megah, melainkan dengan niat suci dan doa panjang. Beliau meyakini bahwa pendidikan Islam harus hadir bagi siapa saja, terutama bagi anak-anak dari kalangan masyarakat sederhana yang memiliki semangat menuntut ilmu namun terbatas secara ekonomi.
Dalam penuturan para sesepuh dan alumni, pendirian pondok ini tidak lepas dari isyarah ruhani yang diyakini berasal dari Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihis Salām. Isyarah tersebut menjadi penguat batin bagi Kiai Sarbini untuk menetap dan mengabdi di tempat tersebut, menjadikannya pusat tarbiyah dan pembinaan santri.
Pada masa awal, bangunan pondok sangat sederhana. Tidak jarang santri tidur beralaskan tikar seadanya, belajar di ruang yang terbatas, dan memenuhi kebutuhan hidup dengan penuh kesabaran. Namun di balik kesederhanaan itu, terdapat keteguhan niat dan keberkahan yang dirasakan oleh para santri.
Metode Pendidikan dan Keteladanan
Kiai Sarbini mendidik santri bukan hanya dengan pengajaran kitab, tetapi dengan keteladanan hidup. Beliau menanamkan bahwa adab lebih utama daripada ilmu, dan keikhlasan adalah kunci keberkahan. Santri dididik untuk menghormati guru, menjaga lisan, serta membiasakan diri hidup mandiri dan sederhana.
Beliau tidak pernah memaksa santri untuk menjadi apa, namun membimbing mereka agar menjadi manusia yang bermanfaat. Dalam banyak kesempatan, Kiai Sarbini lebih memilih diam dan mendoakan santrinya daripada menegur dengan kata-kata keras. Sikap ini meninggalkan kesan mendalam dan membentuk karakter santri yang lembut namun kuat.
Peran Sosial dan Pengabdian
Selain mengasuh pondok, Kiai Sarbini juga aktif membimbing masyarakat sekitar. Beliau sering diminta memimpin doa, tahlil, pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan. Namun, beliau selalu menjaga diri dari popularitas dan penghormatan berlebihan. Baginya, cukup Allah yang mengetahui amal perbuatannya.
Kiai Sarbini dikenal sebagai peneduh umat. Ketika masyarakat menghadapi persoalan, beliau menjadi tempat bertanya dan mengadu. Nasihatnya sederhana, namun mengena, selalu mengajak kembali kepada Allah, kesabaran, dan keikhlasan.
Wafat dan Warisan Perjuangan
Setelah menunaikan amanah hidupnya dengan penuh kesederhanaan, Kiai Sarbini wafat dalam keadaan husnul khatimah, meninggalkan duka mendalam bagi santri dan masyarakat. Namun, wafatnya beliau bukan akhir dari perjuangan. Pondok Pesantren ATIM yang beliau dirikan terus hidup dan berkembang, dilanjutkan oleh para penerus yang menjaga amanah dan ruh perjuangan beliau.
Warisan terbesar Kiai Sarbini bukanlah bangunan atau harta, melainkan nilai keikhlasan, ketawadhuan, dan semangat pengabdian. Nilai-nilai inilah yang terus hidup dalam diri para santri dan alumni, menjadi cahaya penuntun dalam kehidupan mereka.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya kepada Kiai Sarbini, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.
Allāhumma’ghfir lahu warḥamhu wa aj‘al mā khallafahu ṣadaqatan jāriyah.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Oleh. M. Abdul Azis Semarang Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar