Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām dan Isyarah Ruhani
dalam Sejarah Pendirian Pondok Pesantren ATIM Kaliwungu
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji bagi Allah Subḥānahū wa Ta‘ālā, Dzat Yang Maha Mengetahui segala rahasia langit dan bumi. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muḥammad Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga, sahabat, serta seluruh pewaris risalah dan ilmu beliau hingga akhir zaman.
Dalam sejarah Islam, Allah SWT berkenan menampakkan hikmah-Nya melalui hamba-hamba pilihan yang diberi ilmu khusus dari sisi-Nya. Salah satu sosok agung tersebut adalah Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām, hamba Allah yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 60–82. Kisah beliau bukan sekadar sejarah, tetapi pelajaran tentang hakikat ilmu, adab, dan kebijaksanaan Ilahi yang bekerja melampaui batas akal manusia.
Khiḍir ‘Alaihissalām sebagai Simbol Ilmu dan Isyarah Ilahi
Allah SWT berfirman:
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahfi: 65)
Ayat ini menjadi dasar bahwa Khiḍir ‘Alaihissalām dianugerahi ilmu ladunnī, ilmu yang tidak diperoleh melalui proses belajar lahiriah, tetapi melalui karunia langsung dari Allah SWT. Dalam tradisi ulama tafsir dan tasawuf, Khiḍir ‘Alaihissalām dipahami sebagai simbol petunjuk Ilahi yang datang dalam bentuk isyarah, bukan syariat baru, melainkan penguat niat, peneguh langkah, dan pembuka jalan kebaikan.
Oleh sebab itu, para ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah selalu menegaskan bahwa setiap isyarah atau ilham—siapa pun sumbernya—harus tetap berada dalam koridor Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam bingkai inilah, kisah Khiḍir ‘Alaihissalām dipahami dan dimaknai oleh para kiai dan pesantren.
Isyarah Ruhani dalam Pendirian Pondok Pesantren ATIM
Dalam penuturan para sesepuh dan alumni Pondok Pesantren ATIM Kaliwungu, pendirian pondok ini diyakini tidak lepas dari isyarah ruhani yang dinisbatkan kepada Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām. Isyarah tersebut tidak dimaknai sebagai perintah kenabian, melainkan sebagai petunjuk batin yang menguatkan langkah pendirinya, al-Maghfurlah Kiai Sarbini, untuk menetap, mengabdi, dan mendirikan lembaga tarbiyah Islam di Sekopek, Sarirejo, Kaliwungu.
Isyarah ini dipahami oleh para kiai sebagai bentuk ta’yīd minallāh (penguatan dari Allah), agar di tempat tersebut ditegakkan pendidikan Islam yang sederhana, ikhlas, dan berpihak kepada umat kecil. Dari sinilah Pondok Pesantren ATIM tumbuh bukan sebagai pesantren megah, melainkan pesantren perjuangan.
Sebagaimana Khiḍir ‘Alaihissalām membimbing Nabi Musa ‘Alaihissalām dengan hikmah yang tersembunyi di balik peristiwa, demikian pula pondok ini berdiri dengan hikmah yang tidak selalu tampak secara lahiriah.
Spirit Khiḍir dalam Laku Hidup Pesantren ATIM
Nilai-nilai yang hidup di Pondok Pesantren ATIM memiliki kesesuaian yang kuat dengan hikmah Khiḍir ‘Alaihissalām, antara lain:
Kesederhanaan sebagai jalan ilmu
Seperti perbuatan Khiḍir yang tampak “aneh” secara lahir, namun penuh hikmah, kehidupan di ATIM dibangun dalam kesederhanaan yang mendidik jiwa, bukan kemewahan yang melalaikan.Adab sebelum ilmu
Nabi Musa ‘Alaihissalām ditegur bukan karena kekurangan ilmu, tetapi karena belum mampu bersabar dalam adab. Di ATIM, adab kepada guru, sesama santri, dan masyarakat menjadi fondasi utama pendidikan.Ilmu sebagai amanah, bukan kebanggaan
Khiḍir tidak menampakkan keilmuannya untuk dipuji. Demikian pula di ATIM, santri diajarkan agar ilmu menjadi sarana khidmah, bukan alat kesombongan.
Santri Perjuangan dan Jejak Hikmah Ilahi
Mayoritas santri Pondok Pesantren ATIM berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. Banyak yang nyantri sambil bekerja, menanggung lapar, letih, dan keterbatasan. Namun justru dari kondisi inilah tumbuh santri-santri yang kuat secara mental dan ikhlas secara batin.
Dalam kacamata hikmah Khiḍir ‘Alaihissalām, apa yang tampak berat dan kurang di mata manusia, sering kali justru menjadi jalan keselamatan dan keberkahan di sisi Allah. Sebagaimana perahu orang miskin dirusak untuk menyelamatkannya dari perampasan, demikian pula kesederhanaan ATIM menjadi pelindung dari fitnah dunia.
Doa dan Harapan Keberlanjutan Amanah
Isyarah ruhani yang mengiringi berdirinya Pondok Pesantren ATIM tidak berhenti pada satu generasi. Amanah ini dilanjutkan oleh Kiai Yasir dan generasi berikutnya Kiai Mukhotob, dengan satu tujuan: menjaga agar niat baik para pendiri tetap hidup dan tidak menyimpang dari jalur keikhlasan.
Tersimpan harapan dan doa, semoga Allah SWT menyiapkan dzurriyah dan penerus yang shalih, yang mampu menjaga pondok ini hingga akhir zaman, sehingga amal jariyah para pendiri terus mengalir sampai hari kiamat.
Allāhumma aj‘al hādzal ma‘hada ma‘hadan mubārakan, wa ajrī khairahu ilā yaumil qiyāmah.
Penutup
Mengaitkan Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihissalām dengan sejarah Pondok Pesantren ATIM bukan untuk mengagungkan kisah, melainkan untuk menjaga ruh hikmah, adab, dan keikhlasan. Sebab pesantren sejatinya bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi tempat dididiknya hati agar tunduk kepada kehendak Allah.
Semoga Pondok Pesantren ATIM senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, dijaga oleh doa para kiai dan wali-Nya, serta menjadi cahaya ilmu dan akhlak bagi umat hingga akhir zaman.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Oleh. M. Abdul Azis Semarang Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar