Sejarah Air Zam-Zam
(Mukjizat Ilahi dari Zaman Nabi Ibrāhīm hingga Akhir Zaman)
A. Asal-Usul Air Zam-Zam
Air Zam-Zam adalah air suci yang memancar di lembah Makkah, tepatnya di sekitar Ka‘bah. Sejarahnya bermula dari kisah Nabi Ibrāhīm ‘alaihissalām, istrinya Hājar, dan putranya Ismā‘īl ‘alaihissalām.
Atas perintah Allah, Nabi Ibrāhīm meninggalkan Hājar dan bayi Ismā‘īl di lembah tandus tanpa tanaman dan air. Dalam kepasrahan penuh iman, Nabi Ibrāhīm berdoa:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati…”
(QS. Ibrāhīm [14]: 37)
Doa ini menjadi awal dari mukjizat besar yang terus mengalir hingga hari ini.
B. Sa‘i Hājar dan Munculnya Zam-Zam
Ketika perbekalan habis dan Ismā‘īl kehausan, Hājar berlari bolak-balik antara Bukit Ṣafā dan Marwah sebanyak tujuh kali, mencari air dengan penuh ikhtiar dan tawakkal.
Allah kemudian mengutus Malaikat Jibrīl yang menghentakkan sayap atau tumitnya ke tanah, lalu memancarlah air. Hājar berkata: “Zam-zam” (berkumpullah, jangan mengalir ke mana-mana), hingga air itu tertahan dan menjadi mata air.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Semoga Allah merahmati ibu Ismā‘īl. Seandainya ia tidak menahan air Zam-Zam, niscaya Zam-Zam akan menjadi sungai yang mengalir.”
(HR. al-Bukhārī)
Peristiwa ini diabadikan dalam ritual sa‘i pada ibadah haji dan umrah.
C. Zam-Zam dalam Perspektif Al-Qur’an
Walaupun nama “Zam-Zam” tidak disebut secara eksplisit, Al-Qur’an mengabadikan makna, tempat, dan peristiwanya melalui kisah Nabi Ibrāhīm dan keluarganya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Ṣafā dan Marwah adalah sebagian dari syi‘ar Allah.”
(QS. al-Baqarah [2]: 158)
Ayat ini menegaskan bahwa peristiwa Hājar dan Zam-Zam bukan kisah biasa, melainkan syiar ibadah yang disucikan Allah.
D. Zam-Zam pada Masa Nabi Muhammad ﷺ
Sumur Zam-Zam sempat tertutup pada masa jahiliyah hingga kemudian ditemukan kembali oleh ‘Abdul Muṭṭalib, kakek Rasulullah ﷺ. Penemuan ini disertai mimpi dan petunjuk ilahi, menunjukkan bahwa Zam-Zam dijaga langsung oleh Allah.
Pada masa Rasulullah ﷺ, air Zam-Zam digunakan untuk minum, wudhu, dan pengobatan. Nabi ﷺ sangat memuliakan air ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Air Zam-Zam sesuai dengan niat orang yang meminumnya.”
(HR. Ibn Mājah)
Dalam riwayat lain:
“Sebaik-baik air di muka bumi adalah air Zam-Zam.”
(HR. aṭ-Ṭabarānī)
E. Keutamaan dan Keberkahan Air Zam-Zam
Air Zam-Zam memiliki keutamaan yang tidak dimiliki air lain:
Mengenyangkan dan menyembuhkan,
Dikaitkan dengan doa dan niat,
Tidak pernah kering sejak ribuan tahun.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ia adalah makanan yang mengenyangkan dan obat dari penyakit.”
(HR. Muslim)
Karena itu, para ulama menganjurkan membaca doa saat meminum Zam-Zam, sebagaimana dilakukan oleh para salaf.
F. Dimensi Tauhid dan Spiritualitas Zam-Zam
Zam-Zam bukan sekadar air fisik, melainkan simbol tauhid, ikhtiar, dan tawakkal:
Hājar berusaha (sa‘i),
Ismā‘īl menangis,
lalu Allah menurunkan pertolongan.
Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. aṭ-Ṭalāq [65]: 2–3)
Zam-Zam adalah manifestasi ayat ini dalam sejarah nyata.
G. Zam-Zam hingga Akhir Zaman
Hingga kini, air Zam-Zam terus mengalir tanpa henti, menjadi bukti penjagaan Allah terhadap Baitullah dan syiar Nabi Ibrāhīm. Jutaan jamaah haji dan umrah meminumnya setiap tahun, mengikat umat Islam dengan sejarah tauhid lintas zaman.
Penutup
Sejarah Air Zam-Zam adalah sejarah iman yang dibalas dengan rahmat, ikhtiar yang disempurnakan dengan mukjizat, dan doa yang dijawab lintas generasi. Ia mengalir bukan hanya di Makkah, tetapi juga di hati kaum beriman hingga hari kiamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar