Hajar Aswad dalam Sejarah Peradaban Bumi: Perspektif Al-Qur’an dan Hadis
1. Hajar Aswad: Batu dari Langit dalam Sejarah Tauhid
Hajar Aswad (ٱلْحَجَرُ ٱلْأَسْوَد) adalah batu suci yang terletak di sudut timur Ka‘bah al-Musyarrifah. Sejak awal sejarah manusia, Ka‘bah dan Hajar Aswad bukan sekadar simbol arsitektural, tetapi penanda perjanjian tauhid antara langit dan bumi.
Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Hajar Aswad diturunkan dari surga, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Hajar Aswad turun dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, lalu dosa-dosa manusia menjadikannya hitam.”
(HR. Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim)
Hadis ini menegaskan bahwa Hajar Aswad adalah benda langit (samawi), saksi sejarah awal penciptaan manusia dan perjalanan spiritual umat manusia di bumi.
2. Hajar Aswad dalam Zaman Nabi Ibrahim dan Ismail
Peran historis Hajar Aswad mencapai puncaknya pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya Nabi Ismail ‘alaihissalam, saat keduanya diperintahkan membangun Ka‘bah.
Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail…”
(QS. Al-Baqarah: 127)
Dalam berbagai riwayat tafsir (Ibnu Katsir, al-Tabari), disebutkan bahwa Malaikat Jibril ‘alaihissalam membawa Hajar Aswad kepada Nabi Ibrahim untuk diletakkan di sudut Ka‘bah sebagai titik awal thawaf.
Dengan demikian, Hajar Aswad menjadi:
Poros ibadah thawaf
Simbol keterhubungan bumi dan langit
Penanda kesinambungan risalah tauhid sejak Ibrahim hingga Muhammad ﷺ
3. Hajar Aswad sebagai Saksi Perjanjian Anak Adam
Dalam tradisi tafsir dan atsar ulama salaf, Hajar Aswad juga dikaitkan dengan Mitsaq Bani Adam (perjanjian primordial manusia dengan Allah).
Allah berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengambil kesaksian dari anak cucu Adam…”
(QS. Al-A‘raf: 172)
Sebagian ulama menyebutkan bahwa Hajar Aswad kelak akan bersaksi pada hari kiamat bagi orang-orang yang menyentuhnya dengan iman dan tauhid.
Sabda Nabi ﷺ:
“Demi Allah, Allah akan membangkitkan Hajar Aswad pada hari kiamat, ia memiliki dua mata dan lisan untuk bersaksi bagi orang yang menyentuhnya dengan benar.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Ini menegaskan bahwa Hajar Aswad bukan batu biasa, melainkan makhluk Allah yang diberi peran eskatologis.
4. Hajar Aswad dalam Masa Jahiliyah dan Peristiwa Agung Nabi Muhammad ﷺ
Pada masa pra-Islam, bangsa Quraisy tetap memuliakan Hajar Aswad, meski telah tercemar oleh praktik syirik. Namun Allah menjaga kehormatannya melalui peristiwa monumental sebelum kenabian Muhammad ﷺ.
Ketika Ka‘bah direnovasi dan terjadi perselisihan antar kabilah tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Nabi Muhammad ﷺ—yang saat itu dikenal sebagai al-Amīn—memberi solusi bijak:
Hajar Aswad diletakkan di atas kain
Semua pemimpin kabilah mengangkatnya bersama
Nabi Muhammad ﷺ sendiri yang menempatkannya di sudut Ka‘bah
Peristiwa ini menegaskan:
Hajar Aswad sebagai pemersatu peradaban
Nabi Muhammad ﷺ sebagai figur keadilan universal bahkan sebelum risalah
5. Kedudukan Hajar Aswad dalam Syariat Islam
Dalam Islam, mengusap atau mencium Hajar Aswad adalah sunnah, bukan kewajiban. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dengan tegas menyatakan:
“Aku tahu engkau hanyalah batu. Jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pernyataan ini menjadi kaidah penting akidah Ahlussunnah:
Hajar Aswad dihormati, bukan disembah
Tauhid tetap murni, bebas dari kultus benda
6. Hajar Aswad dalam Perspektif Peradaban Global
Dari sudut pandang sejarah peradaban:
Hajar Aswad adalah artefak keimanan tertua di muka bumi
Ia telah disentuh oleh para nabi, sahabat, ulama, dan miliaran manusia lintas zaman
Menjadi sumbu spiritual dunia, di mana manusia dari berbagai ras, bangsa, dan bahasa bertawaf dalam satu arah dan satu Tuhan
Ia melampaui:
Sejarah bangsa
Batas geografis
Zaman dan kekuasaan politik
7. Makna Filosofis dan Tasawuf Hajar Aswad
Dalam tasawuf, Hajar Aswad dimaknai sebagai:
Simbol qalb (hati) manusia
Awalnya putih (fitrah)
Menjadi hitam karena dosa
Disucikan kembali dengan taubat, iman, dan thawaf kehidupan
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Setiap anak Adam dilahirkan di atas fitrah.”
(HR. Muslim)
Penutup
Hajar Aswad adalah:
Batu langit dalam bumi
Saksi tauhid sejak Adam hingga akhir zaman
Simbol persatuan umat manusia
Bukti bahwa peradaban Islam berdiri di atas iman, bukan mitos
Ia mengajarkan bahwa yang mulia bukan batunya, tetapi ketaatan di baliknya.
Semoga Allah memberi kita kesempatan menyentuhnya dengan iman, dan menjadikannya saksi kebaikan kita di hari perhitungan kelak.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar