Bilāl bin Rabāḥ r.a.
(Mu’azzin Rasulullah ﷺ dan Simbol Kemerdekaan Tauhid)
A. Asal-Usul dan Latar Sosial
Bilāl bin Rabāḥ r.a. berasal dari Habasyah (Ethiopia). Ayahnya bernama Rabāḥ dan ibunya Ḥamāmah, seorang budak perempuan. Bilāl hidup sebagai budak di Makkah dan dimiliki oleh Umayyah bin Khalaf, tokoh Quraisy yang dikenal kejam terhadap kaum Muslimin.
Dalam masyarakat Arab Jahiliyyah, status sosial Bilāl sangat rendah. Namun Islam datang untuk menghapus diskriminasi ras dan status sosial, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. al-Ḥujurāt [49]: 13)
Ayat ini menemukan manifestasi nyatanya dalam sosok Bilāl r.a.
B. Masuk Islam dan Keteguhan Iman
Bilāl termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam. Ketika keislamannya diketahui, ia disiksa dengan sangat kejam: dijemur di bawah terik matahari, dadanya ditindih batu besar, dan dipaksa kembali kepada kekafiran. Namun dari lisannya hanya keluar satu kalimat tauhid:
“Aḥad… Aḥad…” (Allah Maha Esa)
Keteguhan Bilāl menjadi cerminan firman Allah:
“Di antara manusia ada orang-orang yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah,’ kemudian apabila mereka disakiti karena (agama) Allah, mereka menganggap fitnah manusia seperti azab Allah.”
(QS. al-‘Ankabūt [29]: 10)
Bilāl tidak termasuk golongan ini; ia justru teguh hingga akhir.
C. Pembebasan oleh Abu Bakar ash-Ṣiddīq r.a.
Abu Bakar r.a. menebus dan memerdekakan Bilāl demi Allah semata. Tindakan ini menjadi teladan besar tentang pembebasan manusia dari perbudakan dalam Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Abu Bakar adalah tuanku, dan ia telah memerdekakan tuanku (Bilāl).”
(HR. al-Bukhārī)
D. Mu’azzin Pertama dalam Islam
Bilāl r.a. dipilih langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai mu’azzin pertama dalam sejarah Islam karena suara, keikhlasan, dan imannya. Ia mengumandangkan adzan yang menjadi panggilan tauhid bagi umat Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai Bilāl, berdirilah dan kumandangkan adzan.”
(HR. Abū Dāwud)
Tentang keutamaan adzan, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya manusia mengetahui keutamaan adzan, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
E. Kedudukan Mulia di Sisi Rasulullah ﷺ
Bilāl memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ pernah mendengar suara sandal Bilāl di surga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai Bilāl, aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Ketika ditanya amal apa yang paling diharapkan pahalanya, Bilāl menjawab bahwa ia senantiasa menjaga wudhu dan shalat sunnah setelahnya.
F. Bilāl dalam Sejarah Pasca Wafat Nabi ﷺ
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Bilāl merasa berat untuk kembali mengumandangkan adzan di Madinah. Ia kemudian ikut berjihad dan menetap di wilayah Syam. Dalam riwayat masyhur, ketika ia kembali ke Madinah dan mengumandangkan adzan, seluruh kota menangis karena rindu kepada Rasulullah ﷺ.
G. Wafat dan Warisan Spiritual
Bilāl bin Rabāḥ r.a. wafat di Syam sekitar tahun 20 H. Saat sakaratul maut, ia berkata dengan penuh kerinduan:
“Besok aku akan bertemu kekasih-kekasihku: Muhammad dan para sahabatnya.”
Bilāl meninggalkan warisan abadi:
keteladanan tauhid yang kokoh,
perjuangan melawan penindasan,
dan kemuliaan manusia berdasarkan iman, bukan status sosial.
Allah berfirman:
“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. al-Isrā’ [17]: 70)
Penutup
Bilāl bin Rabāḥ r.a. adalah bukti bahwa Islam mengangkat derajat manusia dari kehinaan menuju kemuliaan, dari perbudakan menuju kebebasan iman. Suara adzannya terus hidup dalam setiap panggilan shalat hingga akhir zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar