‘Allamal Insāna Mā Lam Ya‘lam dalam Jejak K. Masduki bin Yunus
Allah SWT berfirman: “‘Allamal insāna mā lam ya‘lam”—Dialah yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat ini bukan hanya menjadi fondasi ajaran Islam tentang ilmu, tetapi juga hidup dan nyata dalam perjalanan para kiai pesantren Nusantara, salah satunya K. Masduki bin Yunus.
Sejak masa mudanya, K. Masduki bin Yunus dikenal sebagai pribadi yang haus akan ilmu dan rendah hati dalam belajar. Beliau menempuh proses panjang menimba pengetahuan agama melalui guru-guru pesantren, dengan kesabaran dan ketekunan yang khas santri. Dalam keterbatasan sarana dan kehidupan yang sederhana, beliau meyakini bahwa ilmu bukan hasil kecerdasan semata, melainkan karunia Allah yang dibukakan melalui adab dan kesungguhan.
K. Masduki tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah diketahui. Prinsip inilah yang mencerminkan makna mā lam ya‘lam—bahwa selalu ada ruang ketidaktahuan yang harus disikapi dengan belajar dan tawaduk. Setiap majelis ilmu beliau datangi dengan niat ibadah, bukan untuk dipuji, melainkan untuk memperbaiki diri dan menguatkan iman. Dari proses itulah Allah membukakan pemahaman yang dalam dan menenteramkan.
Ilmu yang Allah ajarkan kepada K. Masduki bin Yunus tidak berhenti pada penguasaan kitab, tetapi menjelma menjadi akhlak dan pengabdian. Beliau dikenal lebih banyak memberi teladan daripada ceramah panjang. Cara hidupnya yang sederhana, istiqamah dalam ibadah, dan ketulusan membimbing masyarakat menjadi “pelajaran hidup” yang mudah dipahami oleh siapa pun. Inilah bentuk ilmu yang benar-benar bermanfaat.
Dalam mengajar dan membina umat, K. Masduki selalu menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Beliau mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan kering, dan pemahaman tanpa ketundukan kepada Allah bisa menyesatkan. Sikap ini sejalan dengan pesan ayat Al-‘Alaq: bahwa Allah mengajarkan manusia ilmu agar ia semakin mengenal Tuhannya, bukan semakin jauh dari-Nya.
Sebagaimana para kiai pesantren Nusantara lainnya, K. Masduki bin Yunus menjadi bukti bahwa ilmu yang Allah ajarkan kepada manusia sering kali lahir dari kesederhanaan dan keikhlasan. Beliau mungkin tidak menulis banyak kitab, tetapi jejak ilmunya tertanam dalam hati murid-murid, keluarga, dan masyarakat yang merasakan keteduhan dari kehadirannya.
Dengan demikian, ayat “‘Allamal insāna mā lam ya‘lam” menemukan wujud nyatanya dalam sosok K. Masduki bin Yunus: seorang kiai yang belajar sepanjang hayat, mengajar dengan keteladanan, dan mengamalkan ilmu dengan penuh rasa takut dan cinta kepada Allah.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal beliau, meluaskan rahmat-Nya, dan menjadikan keteladanan K. Masduki bin Yunus sebagai cahaya yang terus menyinari generasi setelahnya. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar