Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Minggu, 18 Januari 2026

Cahaya Ilmu dalam Jejak Kiai Pesantren Nusantara

 

عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Dia (Allah) mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 5)


Cahaya Ilmu dalam Jejak Kiai Pesantren Nusantara

Allah SWT menegaskan bahwa Dialah yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat “‘allamal insāna mā lam ya‘lam” bukan hanya tercermin dalam perjalanan ulama Timur Tengah, tetapi hidup nyata dalam jejak para kiai pesantren Nusantara yang dengan kesederhanaan dan ketekunan mewariskan ilmu dan akhlak kepada umat.

Salah satu teladan besar adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sejak muda beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa, lalu melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Makkah. Di tengah keterbatasan hidup, beliau menekuni hadis, fikih, dan tasawuf dengan disiplin tinggi. Sepulangnya ke tanah air, ilmu yang Allah bukakan kepadanya tidak hanya melahirkan karya dan pesantren Tebuireng, tetapi juga menguatkan sendi keagamaan dan kebangsaan umat. Ilmu beliau menjadi cahaya yang menerangi masyarakat, bukan alat untuk meninggikan diri.

Jejak serupa tampak pada KH. Ahmad Dahlan, yang sejak muda gelisah melihat praktik keagamaan umat yang kehilangan ruh ilmu. Dengan ketekunan belajar di Makkah dan keberanian berpikir, beliau berusaha mengembalikan semangat belajar Al-Qur’an secara mendalam dan beramal secara nyata. Ilmu yang Allah ajarkan kepadanya diwujudkan dalam gerakan pendidikan dan sosial yang terus hidup hingga kini.

Dalam tradisi pesantren salaf, kita mengenal KH. Bisri Musthofa dari Rembang. Dengan kecintaan mendalam pada Al-Qur’an dan bahasa Arab, beliau menyusun tafsir Al-Ibriz berbahasa Jawa agar masyarakat awam dapat memahami kalam Allah. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang diajarkan Allah tidak berhenti pada penguasaan kitab, tetapi diterjemahkan menjadi kemanfaatan bagi umat.

Ada pula KH. Wahab Chasbullah, yang sejak muda gemar berdiskusi, belajar lintas guru, dan menimba hikmah dari berbagai majelis. Ilmu yang Allah karuniakan kepadanya menjelma menjadi kemampuan merangkul perbedaan, membangun persatuan ulama, dan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama‘ah di Nusantara. Inilah ilmu yang hidup—berakar pada adab dan keikhlasan.

Di banyak pesantren desa, kisah-kisah kiai sederhana juga menjadi saksi ayat ini. Ada kiai yang bertahun-tahun mengajar tanpa upah, menghafal kitab di tengah keterbatasan, dan menghidupi santri dengan doa. Allah mengajarkan kepada mereka ilmu yang mungkin tidak tertulis di lembaran kitab, tetapi tertanam kuat di hati: ilmu keikhlasan, kesabaran, dan keteladanan.

Semua kisah ini menegaskan bahwa “‘allamal insāna mā lam ya‘lam” bekerja melalui proses panjang: riyadhah, adab kepada guru, kesungguhan belajar, dan ketulusan mengabdi. Ilmu para kiai Nusantara bukan sekadar hafalan, tetapi cahaya yang menuntun masyarakat menuju kebaikan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita penerus yang setia, mencintai ilmu seperti para kiai mencintainya, mengamalkan ilmu dengan rendah hati, dan mewariskan kebaikan kepada generasi setelah kita. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar