Islam agamaku, Allah Pengeranku, Muhammad Nabiku, Al-Qur’an Kitabku
Islam Agamaku, Allah Pengeranku, Muhammad Nabiku, Al-Qur’an Kitabku: Jalan Hidup dalam Ajaran K. Masduki bin Yunus
Kalimat “Islam agamaku, Allah Pengeranku, Muhammad Nabiku, Al-Qur’an Kitabku” adalah pernyataan iman yang paling sederhana sekaligus paling mendasar. Ia bukan sekadar hafalan lisan, melainkan ikrar hidup yang menuntut pembuktian dalam sikap, amal, dan akhlak sehari-hari. Kalimat inilah yang sejak lama ditanamkan oleh para kiai pesantren kepada umat, termasuk oleh K. Masduki bin Yunus, sebagai fondasi keislaman yang kokoh dan menenteramkan.
Bagi K. Masduki bin Yunus, Islam bukan hanya identitas, tetapi jalan hidup yang harus dijalani dengan keikhlasan dan kesungguhan. Islam dipahami sebagai agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya. Karena itu, beliau selalu menekankan bahwa menjadi Muslim tidak cukup dengan pengakuan, tetapi harus tercermin dalam kejujuran, kesederhanaan, kesabaran, dan kepedulian sosial.
Ungkapan “Allah Pengeranku” menegaskan tauhid sebagai inti ajaran Islam. K. Masduki bin Yunus dikenal sebagai pribadi yang sangat menjaga kemurnian tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mendidik keluarga dan masyarakat agar tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah. Dalam suka maupun duka, beliau menunjukkan keteguhan hati: bekerja dengan sungguh-sungguh, berikhtiar secara maksimal, tetapi tetap menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT. Tauhid baginya bukan wacana, melainkan ketenangan batin yang membimbing setiap langkah.
Sementara itu, “Muhammad Nabiku” adalah pernyataan kecintaan dan keteladanan. K. Masduki bin Yunus sering menekankan bahwa mencintai Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya dengan shalawat di lisan, tetapi dengan meneladani akhlaknya. Kesantunan beliau dalam berbicara, kelembutan dalam menasihati, serta sikap tidak mudah menghakimi adalah cermin dari upaya meneladani Rasulullah ﷺ. Dalam mendidik umat, beliau memilih jalan hikmah, sebagaimana Nabi mengajarkan dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Adapun “Al-Qur’an Kitabku” menjadi penegasan bahwa Al-Qur’an adalah sumber nilai dan pedoman hidup. K. Masduki bin Yunus mengajarkan agar Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dipahami dan diamalkan sesuai kemampuan. Beliau menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini, dengan pendekatan yang lembut dan membumi. Al-Qur’an diposisikan sebagai cahaya yang menerangi kehidupan, bukan sebagai beban yang menakutkan.
Dalam praktiknya, ajaran K. Masduki bin Yunus sangat sederhana namun mendalam. Beliau tidak banyak menuntut, tetapi memberi contoh. Tidak banyak berbicara tentang kehebatan, tetapi menunjukkan ketekunan. Dari situlah masyarakat belajar bahwa Islam yang sejati adalah Islam yang menghadirkan keteduhan, bukan kegaduhan; yang melahirkan akhlak, bukan sekadar simbol.
Kalimat “Islam agamaku, Allah Pengeranku, Muhammad Nabiku, Al-Qur’an Kitabku” menjadi semacam wasiat hidup yang diwariskan K. Masduki bin Yunus kepada generasi setelahnya. Ia mengajarkan bahwa iman harus dijaga, tauhid harus diteguhkan, Rasulullah harus dicintai dan diteladani, serta Al-Qur’an harus dijadikan penuntun hidup dari lahir hingga akhir hayat.
Dengan demikian, ajaran K. Masduki bin Yunus bukan hanya berada di ruang pengajian, tetapi hidup dalam keseharian umat. Beliau membuktikan bahwa keislaman yang utuh tidak selalu ditunjukkan dengan kemegahan, melainkan dengan keteguhan iman, keluhuran akhlak, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal dan pengabdian K. Masduki bin Yunus, meluaskan rahmat-Nya, serta menjadikan ajaran dan keteladanannya sebagai cahaya bagi anak-cucu dan umat hingga akhir zaman. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar