Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Jumat, 16 Januari 2026

Isyarah Ghaib dan Niat Suci Pendirian PP. ATIM Kaliwungu

 

Manaqib dan Jejak Spiritual

Pondok Pesantren ATIM (Asrama Tarbiyatul Islam Muta’allimin) Kaliwungu

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji hanya milik Allah Subḥānahū wa Ta‘ālā, Tuhan semesta alam, yang dengan rahmat dan karunia-Nya cahaya ilmu senantiasa diturunkan ke bumi melalui para kekasih-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muḥammad Ṣallallāhu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarga, sahabat, serta para pewaris risalah beliau hingga akhir zaman.

Pondok Pesantren ATIM (Asrama Tarbiyatul Islam Muta’allimin) yang berada di Sekopek, Desa Sarirejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, bukan sekadar tempat belajar ilmu lahiriah, melainkan medan tarbiyah ruhani, tempat ditempanya jiwa-jiwa pencari ridha Allah. Pondok ini lahir dari niat suci, dibangun dengan doa, dan ditegakkan dengan keikhlasan para hamba Allah yang mengabdikan hidupnya untuk agama.

Isyarah Ghaib dan Niat Suci Pendirian

Dalam tuturan para sesepuh, berdirinya Pondok Pesantren ATIM diyakini tidak terlepas dari isyarah ruhani Nabiyullāh Khiḍir ‘Alaihis Salām. Isyarah tersebut menjadi petunjuk batin agar di tempat ini ditegakkan pendidikan Islam yang membumi, membina santri dengan kesederhanaan, serta menanamkan adab sebelum ilmu.

Isyarah ini bukan untuk diagungkan secara berlebihan, namun untuk dimaknai sebagai pengingat bahwa pondok ini berdiri bukan semata kehendak manusia, melainkan karena izin dan kehendak Allah SWT. Dari sinilah ruh ATIM tumbuh: sunyi dari hiruk-pikuk dunia, namun penuh cahaya keberkahan.

Nama pondok ini dalam perjalanannya pernah berubah-ubah, mengikuti fase dan keadaan. Hingga akhirnya disepakati nama Asrama Tarbiyatul Islam Muta’allimin (ATIM), sebuah nama yang mengandung doa agar setiap santri menjadi penuntut ilmu sejati yang ditempa lahir dan batin.

Kiai Sarbini: Peletak Dasar Keikhlasan

Pondok Pesantren ATIM dirintis dan diasuh oleh al-Maghfurlah Kiai Sarbini, sosok kiai yang hidupnya penuh kesederhanaan dan ketawadhuan. Beliau bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi menghadirkan keteladanan. Dalam diamnya ada hikmah, dalam kesabarannya ada pelajaran, dan dalam doanya ada kekuatan yang tidak terlihat oleh mata.

Kiai Sarbini mendidik santri bukan dengan kemewahan fasilitas, melainkan dengan kekuatan batin dan keikhlasan. Beliau menanamkan bahwa ilmu tidak akan masuk ke hati yang sombong, dan keberkahan tidak akan turun kepada jiwa yang malas. Setiap langkah beliau adalah dakwah, setiap diam beliau adalah nasihat.

Kiai Yasir dan Estafet Pengabdian

Sepeninggal Kiai Sarbini, perjuangan dilanjutkan oleh al-Maghfurlah Kiai Yasir, yang menjaga amanah dengan penuh kesetiaan. Beliau merawat pondok ini seperti merawat amanah dari langit, menjaga agar api keikhlasan tidak padam meski diterpa berbagai keterbatasan.

Di masa Kiai Yasir, Pondok Pesantren ATIM tetap berdiri sebagai pesantren rakyat, tempat bernaung santri-santri yang datang dengan bekal niat dan tekad, bukan harta. Beliau memperkuat tradisi tirakat, khidmah, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Kiai Mukhoton: Penjaga Ruh Pondok

Generasi ketiga kepengasuhan dilanjutkan oleh Almaghfurlah Kiai Mukhotob, yang memikul amanah besar untuk menjaga ruh dan cita-cita awal pondok. Dalam zaman yang serba cepat dan penuh godaan dunia, beliau berikhtiar agar Pondok Pesantren ATIM tetap berdiri di jalur kesederhanaan dan keikhlasan.

Beliau menyadari bahwa pondok ini bukan milik pribadi, melainkan titipan perjuangan para pendahulu dan amanah umat. Oleh karena itu, yang dijaga bukan sekadar bangunan, tetapi nilai, adab, dan ruh perjuangan.

Santri ATIM: Santri Perjuangan

Mayoritas santri Pondok Pesantren ATIM berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. Banyak dari mereka yang nyantri sambil bekerja, menata hidup antara mencari nafkah, mengaji, dan beribadah. Mereka datang dengan hati yang tulus, tidur di asrama sederhana, makan seadanya, namun kaya akan harapan dan doa.

Sebagian santri menimba ilmu formal di luar, seperti di PP APIK, MIM, Madrasah Aliyah Sunan Katong, dan lembaga lainnya. Namun mereka tetap kembali ke ATIM untuk bermukim, beristirahat, dan menjaga ikatan batin dengan pondok. ATIM menjadi rumah ruhani, tempat hati kembali ditenangkan.

Doa dan Harapan

Dalam manaqib dan haul ini, kita hadir bukan sekadar mengenang, tetapi mendoakan. Mendoakan para pendiri, pengasuh, guru, dan santri yang telah mendahului kita.

Allāhumma’ghfir lahum warḥamhum wa‘āfihim wa‘fu ‘anhum.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal khidmah mereka, mengalirkan pahala jariyah yang tiada putus, dan menempatkan mereka di sisi-Nya bersama para shiddiqin, shalihin, dan para kekasih Allah.

Tersimpan harapan besar agar kelak ada dzurriyah yang melanjutkan perjuangan Pondok Pesantren ATIM, menjaga amanah ini hingga akhir zaman, sehingga niat baik para pendiri terus hidup dan lestari sampai hari kiamat.

Semoga Pondok Pesantren ATIM senantiasa dijaga oleh Allah SWT, diliputi keberkahan, dan menjadi sumber cahaya ilmu serta akhlak bagi umat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Oleh. M. Abdul Azis Semarang Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar