Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Minggu, 18 Januari 2026

Keyakinan sebagai Syarat Manfaat Ilmu dan Amal


كُلُّ مَا لَمْ يُعْتَقَدْ لَمْ يُنْتَفَعْ بِهِ
“Segala sesuatu yang tidak diyakini (diimani dengan benar), maka tidak akan memberi manfaat.”


Keyakinan sebagai Syarat Manfaat Ilmu dan Amal

(Kullumā Lam Yu‘taqad Lam Yuntafa‘ Bih)

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama menegaskan bahwa keyakinan (i‘tiqād) merupakan fondasi utama bagi kemanfaatan ilmu dan amal. Salah satu ungkapan hikmah yang mencerminkan prinsip ini adalah:

“Kullumā lam yu‘taqad lam yuntafa‘ bih.”
Artinya: Segala sesuatu yang tidak diyakini, maka tidak akan dapat diambil manfaat darinya.

Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam. Ia menegaskan bahwa ilmu, amal, nasihat, bahkan ibadah, tidak akan menghasilkan dampak spiritual dan moral yang sejati apabila tidak dilandasi oleh keyakinan yang benar dan mantap di dalam hati. Dalam Islam, keyakinan bukan sekadar pengetahuan rasional, tetapi pembenaran hati (taṣdīq al-qalb) yang melahirkan sikap tunduk dan komitmen.

Keyakinan dalam Perspektif Akidah

Dalam ilmu akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah, iman didefinisikan sebagai:

“Taṣdīq bil-qalb, iqrār bil-lisān, wa ‘amal bil-arkān.”
(Iman adalah pembenaran dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pembuktian dengan perbuatan).

Dari definisi ini tampak jelas bahwa pembenaran hati menjadi inti iman. Tanpa i‘tiqād yang kuat, amal lahiriah hanya menjadi rutinitas kosong. Seseorang mungkin mengerjakan ibadah, mempelajari ilmu, atau melakukan kebaikan, tetapi bila hatinya ragu atau tidak yakin, maka manfaatnya menjadi lemah, bahkan bisa hilang sama sekali.

Ilmu Tanpa Keyakinan Tidak Membuahkan Hikmah

Banyak orang berilmu, tetapi ilmunya tidak membawa ketenangan, akhlak mulia, atau kedekatan kepada Allah. Hal ini terjadi karena ilmu tersebut tidak disertai keyakinan dan pengamalan. Ilmu hanya berhenti di akal, tidak turun ke hati.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat (‘ilm nāfi‘) adalah ilmu yang:

  1. Mengantarkan pada ma‘rifatullah,

  2. Menumbuhkan rasa takut dan cinta kepada Allah,

  3. Mendorong amal saleh dan akhlak yang baik.

Tanpa i‘tiqād yang benar, ilmu berubah menjadi alat perdebatan, kebanggaan diri, bahkan sumber kesesatan. Inilah yang dimaksud oleh ungkapan lam yuntafa‘ bih—tidak memberi manfaat hakiki.

Amal Tanpa Keyakinan Kehilangan Nilai

Prinsip ini juga berlaku dalam amal ibadah. Shalat, puasa, zakat, dan haji tidak hanya dinilai dari gerakan lahiriah, tetapi dari keyakinan dan keikhlasan yang menyertainya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Niat yang benar lahir dari keyakinan yang lurus. Tanpa keyakinan kepada Allah, hari akhir, dan balasan amal, ibadah mudah ditinggalkan atau dikerjakan tanpa ruh.

Pendidikan Iman sebagai Fondasi

Dalam pendidikan keluarga, pesantren, dan masyarakat, kaidah “kullumā lam yu‘taqad lam yuntafa‘ bih” menjadi pengingat bahwa penanaman iman harus mendahului transfer pengetahuan. Anak-anak tidak cukup hanya diajari membaca, menghafal, atau memahami hukum-hukum agama, tetapi harus dibangun keyakinannya kepada Allah, Rasul-Nya, dan kebenaran ajaran Islam.

Inilah sebabnya para kiai dan ulama pesantren selalu menekankan penguatan akidah sebelum memperdalam fikih dan ilmu alat. Akidah yang kuat akan menjadikan ilmu hidup, amal istiqamah, dan akhlak terjaga.

Relevansi di Zaman Modern

Di era modern, banyak informasi agama mudah diakses, namun tidak semuanya membawa manfaat. Tanpa keyakinan dan manhaj yang lurus, seseorang bisa mengetahui banyak hal tetapi kehilangan arah. Ungkapan ini menjadi kritik halus terhadap ilmu instan tanpa pondasi iman.

Dengan demikian, keyakinan adalah ruh, sedangkan ilmu dan amal adalah jasad. Tanpa ruh, jasad tidak bernilai. Inilah hakikat pesan dari ungkapan “kullumā lam yu‘taqad lam yuntafa‘ bih.”

Semoga Allah SWT meneguhkan keyakinan kita, menjadikan ilmu kita bermanfaat, amal kita diterima, dan hidup kita penuh keberkahan. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Rujukan (Marāji‘)

  1. Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz I, Bab Ilmu dan Niat.

  2. Al-Sanusi, Umm al-Barāhīn (Akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah).

  3. Al-Baihaqi, Syu‘ab al-Īmān.

  4. Imam an-Nawawi, Syarḥ Arba‘īn an-Nawawiyyah, Hadis Niat.

  5. Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, pembahasan iman dan amal.

  6. Al-Zarnuji, Ta‘līm al-Muta‘allim, Bab adab dan tujuan ilmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar