Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Minggu, 18 Januari 2026

kebenaran makna lahir dari ketepatan metode

Pentingnya Ilmu Nahwu: “Ayyu ‘Ilmin Idzā Lam Yu‘raf Nahwuhu Falā Yufhamu Kalāmuhu”

Dalam khazanah keilmuan Islam, terdapat ungkapan hikmah yang sangat masyhur di kalangan ulama bahasa Arab dan pesantren:

“Ayyu ‘ilmin idzā lam yu‘raf nahwuhu falā yufhamu kalāmuhu.”
Artinya: Ilmu apa pun, apabila tidak diketahui kaidah nahwunya, maka pembicaraannya tidak akan dapat dipahami.

Ungkapan ini menegaskan bahwa ilmu nahwu bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam memahami bahasa Arab, khususnya bahasa Al-Qur’an, hadis, dan kitab-kitab turats para ulama. Tanpa penguasaan nahwu, seseorang berpotensi salah memahami makna, keliru menarik kesimpulan, bahkan terjatuh pada pemahaman yang menyimpang.

Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat kaya dengan struktur dan perubahan akhir kata (i‘rāb). Perbedaan harakat pada satu kata saja dapat mengubah makna secara total. Di sinilah letak urgensi ilmu nahwu: ia berfungsi sebagai penjaga makna, penentu maksud, dan pengarah pemahaman. Tanpa nahwu, sebuah kalimat hanya menjadi rangkaian kata yang samar dan mudah disalahartikan.

Dalam konteks keilmuan Islam, hampir seluruh disiplin ilmu bersumber dari teks Arab: tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, akidah, hingga tasawuf. Semua disiplin tersebut tidak mungkin dipahami secara benar tanpa kemampuan membaca struktur kalimatnya. Oleh karena itu, para ulama klasik meletakkan nahwu sebagai ilmu alat (‘ilm al-ālah), yakni ilmu yang berfungsi membuka pintu bagi ilmu-ilmu lainnya.

Pesantren sejak dahulu menyadari pentingnya kaidah ini. Kitab-kitab nahwu seperti Jurumiyah, Imrithi, dan Alfiyah Ibnu Malik dipelajari secara bertahap bukan semata-mata untuk menghafal bait atau rumus, tetapi untuk membentuk cara berpikir ilmiah, teliti, dan sistematis dalam memahami teks. Santri diajarkan bahwa kesalahan dalam satu harakat bisa berdampak pada kesalahan pemahaman hukum dan akidah.

Ungkapan “falā yufhamu kalāmuhu” juga mengandung peringatan bahwa tanpa dasar yang kuat, seseorang bisa berbicara banyak namun tidak dipahami, atau lebih buruk lagi: merasa paham padahal keliru. Inilah yang sering terjadi ketika seseorang membaca Al-Qur’an atau hadis hanya dengan terjemahan, tanpa memahami struktur bahasa aslinya. Terjemahan membantu, tetapi tidak pernah bisa sepenuhnya menggantikan kaidah bahasa.

Lebih jauh, prinsip ini tidak hanya relevan dalam ilmu nahwu, tetapi juga mengajarkan adab keilmuan: bahwa setiap ilmu memiliki pintu masuknya masing-masing. Barang siapa ingin memetik buah ilmu, ia harus sabar mempelajari akarnya. Jalan pintas dalam ilmu sering kali berujung pada kesalahpahaman.

Karena itu, mempelajari nahwu sejatinya adalah bentuk kesungguhan menjaga amanah ilmu. Ia melatih ketelitian, kesabaran, dan kerendahan hati. Seorang penuntut ilmu menyadari bahwa pemahaman tidak datang secara instan, tetapi melalui proses belajar yang tertib dan berjenjang.

Dengan demikian, ungkapan “Ayyu ‘ilmin idzā lam yu‘raf nahwuhu falā yufhamu kalāmuhu” adalah nasihat lintas zaman. Ia mengingatkan bahwa kebenaran makna lahir dari ketepatan metode, dan pemahaman yang benar tidak mungkin lahir tanpa dasar ilmu yang kuat.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu, memahami makna dengan benar, serta mengamalkan ilmu tersebut dengan penuh keikhlasan dan adab. Āmīn.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar