لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS. At-Taubah: 40)
La Taḥzan Innallāha Ma‘anā: Ketenangan di Tengah Ujian
Ungkapan “Lā taḥzan innallāha ma‘anā” adalah kalimat penghibur yang keluar dari lisan Nabi Muhammad ﷺ kepada sahabat tercintanya, Abu Bakar ash-Shiddiq ra., pada saat yang sangat genting dalam peristiwa hijrah. Ketika keduanya bersembunyi di Gua Tsur dan musuh sudah berada sangat dekat, Rasulullah ﷺ tidak memilih kepanikan, tetapi menenangkan sahabatnya dengan keyakinan yang penuh: jangan bersedih, Allah bersama kita.
Kalimat ini bukan sekadar nasihat emosional, melainkan pernyataan iman yang paling tinggi. Ia mengajarkan bahwa rasa takut dan sedih adalah fitrah manusia, namun iman hadir untuk mengendalikannya. Ketika seseorang yakin bahwa Allah selalu menyertai hamba-Nya yang beriman, maka kesedihan tidak akan menguasai hati, dan ketakutan tidak akan melumpuhkan langkah.
Makna “Allah bersama kita” bukan berarti kebersamaan fisik, melainkan kebersamaan dalam bentuk pertolongan, penjagaan, dan bimbingan. Allah bersama orang-orang yang beriman dengan rahmat-Nya, bersama orang yang bertakwa dengan perlindungan-Nya, dan bersama orang yang bersabar dengan pertolongan-Nya. Keyakinan inilah yang menjadikan Nabi dan Abu Bakar tetap tenang meski berada di ambang bahaya.
Dalam kehidupan, setiap manusia pasti pernah berada di “gua” masing-masing: saat ekonomi sempit, keluarga diuji, kesehatan melemah, atau jalan hidup terasa buntu. Pada saat itulah kalimat “lā taḥzan innallāha ma‘anā” menjadi obat bagi jiwa. Ia mengingatkan bahwa pertolongan Allah sering kali datang bukan ketika masalah telah hilang, tetapi ketika hati telah tenang dan yakin.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa kesedihan tidak boleh mengalahkan kepercayaan kepada Allah. Bersedih boleh, menangis boleh, tetapi putus asa tidak dibenarkan. Orang beriman boleh lemah secara fisik, tetapi tidak boleh runtuh secara spiritual. Selama Allah bersama kita, tidak ada keadaan yang benar-benar tanpa harapan.
Lebih jauh, kalimat ini mendidik umat Islam untuk tidak bergantung sepenuhnya pada sebab-sebab duniawi. Jumlah yang sedikit, kekuatan yang terbatas, dan kondisi yang terdesak bukanlah penghalang jika Allah telah berkehendak menolong. Sejarah hijrah membuktikan bahwa kemenangan besar sering kali diawali dari keadaan yang tampak lemah di mata manusia.
Oleh karena itu, “lā taḥzan innallāha ma‘anā” adalah ajakan untuk menata hati: agar tetap tenang dalam ujian, tetap lurus dalam perjuangan, dan tetap husnuzan kepada Allah dalam setiap keadaan. Siapa pun yang menyimpan kalimat ini di dalam hatinya, niscaya akan menemukan kekuatan baru untuk melangkah.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu yakin akan pertolongan-Nya, diberi ketenangan di tengah ujian, dan dikuatkan iman hingga akhir hayat. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar