Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Minggu, 18 Januari 2026

Ilmu sebagai Karunia Ilahi


عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Dia (Allah) mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 5)

‘Allamal Insāna Mā Lam Ya‘lam: Ilmu sebagai Karunia Ilahi

Ayat “‘allamal insāna mā lam ya‘lam” merupakan penegasan agung bahwa sumber segala ilmu adalah Allah SWT. Manusia pada hakikatnya lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, lemah, dan membutuhkan bimbingan. Namun dengan kasih sayang-Nya, Allah menganugerahkan kemampuan belajar, berpikir, memahami, dan mengembangkan pengetahuan. Setiap ilmu yang dimiliki manusia, baik ilmu agama maupun ilmu dunia, pada akhirnya adalah karunia dari Allah.

Ayat ini turun dalam rangkaian wahyu pertama, yang dimulai dengan perintah “Iqra’”—bacalah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam meletakkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi peradaban. Perintah membaca tidak hanya bermakna membaca teks, tetapi juga membaca realitas, alam semesta, dan perjalanan hidup. Semua itu menjadi sarana agar manusia mengenal Tuhannya dan memahami tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.

Makna “mā lam ya‘lam” mengandung pesan mendalam bahwa cakupan ilmu Allah tidak terbatas. Apa yang hari ini tidak diketahui manusia, esok hari bisa Allah bukakan melalui proses belajar dan pengalaman. Karena itu, ayat ini menumbuhkan sikap rendah hati dalam diri seorang penuntut ilmu. Semakin banyak ilmu yang dipelajari, seharusnya semakin sadar bahwa masih sangat banyak hal yang belum diketahui.

Dalam tradisi pesantren, ayat ini menjadi pengingat bahwa ilmu bukan semata hasil kecerdasan, tetapi buah dari pertolongan Allah yang disertai adab, kesungguhan, dan doa. Santri diajarkan untuk memulai belajar dengan niat yang lurus, menghormati guru, bersabar dalam proses, serta mengamalkan ilmu yang diperoleh. Tanpa adab dan keikhlasan, ilmu bisa menjadi kering dan kehilangan keberkahannya.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa Allah mengangkat derajat manusia dengan ilmu. Ilmu membedakan manusia dari makhluk lainnya, dan ilmu pula yang menjadikan manusia mulia jika digunakan untuk kebaikan. Namun sebaliknya, ilmu yang tidak disandarkan kepada Allah dapat menyeret manusia pada kesombongan dan kerusakan. Oleh karena itu, ilmu harus selalu diiringi iman dan akhlak.

Dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, ayat “‘allamal insāna mā lam ya‘lam” menjadi dasar pentingnya pendidikan berkelanjutan. Orang tua, guru, dan kiai memikul amanah untuk menyalurkan ilmu dengan penuh tanggung jawab, sementara anak dan murid dituntut untuk menjaga adab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Proses belajar bukan hanya di bangku sekolah atau pesantren, tetapi berlangsung sepanjang hayat.

Dengan demikian, ayat ini bukan hanya pernyataan tentang asal-usul ilmu, tetapi juga panggilan spiritual agar manusia terus belajar, bersyukur, dan menyadari keterbatasannya. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mencintai ilmu, diberi pemahaman yang benar, serta mampu mengamalkan ilmu tersebut untuk kemaslahatan dan keberkahan hidup. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar