Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Minggu, 18 Januari 2026

Man jadda wajada

Man Jadda Wajada: Kesungguhan yang Mengantarkan pada Keberhasilan

Ungkapan “Man jadda wajada” merupakan kalimat hikmah yang sangat populer di tengah umat Islam, khususnya dalam tradisi pendidikan pesantren. Kalimat ini bermakna sederhana namun sangat dalam: barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan hasil. Meski bukan ayat Al-Qur’an maupun hadis secara tekstual, makna yang dikandungnya selaras dengan ajaran Islam tentang ikhtiar, kesabaran, dan tawakal kepada Allah SWT.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berpangku tangan menunggu nasib. Sebaliknya, Islam memerintahkan manusia untuk berusaha sekuat tenaga, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Kesungguhan dalam berikhtiar adalah bentuk ketaatan, sedangkan kepasrahan setelah usaha adalah wujud keimanan.

Allah SWT berfirman bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ayat ini menegaskan bahwa perubahan, keberhasilan, dan kemuliaan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, kerja keras, dan ketekunan.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, man jadda wajada mengajarkan bahwa keberhasilan bukan milik orang yang paling pintar semata, melainkan milik mereka yang paling tekun dan tidak mudah menyerah. Banyak orang memiliki potensi besar, namun gagal meraih hasil karena kurang disiplin, cepat putus asa, atau berhenti di tengah jalan. Sebaliknya, tidak sedikit orang dengan kemampuan biasa-biasa saja justru berhasil karena keteguhan hati dan konsistensi dalam berusaha.

Nilai man jadda wajada sangat kuat dalam tradisi pesantren. Para santri diajarkan bahwa ilmu tidak akan diperoleh hanya dengan kecerdasan, tetapi dengan kesabaran, tirakat, adab kepada guru, dan ketekunan belajar. Bangun sebelum subuh, mengaji hingga larut malam, menghafal dengan istiqamah, dan melayani guru dengan ikhlas adalah bagian dari kesungguhan yang kelak membuahkan hasil, meski sering kali tidak langsung terlihat.

Para kiai dan ulama besar yang kita kenal hari ini bukanlah orang-orang yang hidupnya mudah sejak awal. Mereka melewati masa-masa sulit, keterbatasan ekonomi, perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, bahkan ujian fisik dan batin. Namun satu hal yang menyatukan mereka adalah kesungguhan yang tidak pernah padam. Mereka yakin bahwa setiap tetes keringat dalam jalan ilmu dan kebaikan tidak akan disia-siakan oleh Allah SWT.

Dalam kehidupan keluarga, prinsip man jadda wajada juga memiliki peran penting. Orang tua yang bersungguh-sungguh mendidik anak dengan keteladanan, doa, dan kesabaran, insyaAllah akan menuai buah kebaikan di kemudian hari. Pendidikan iman, akhlak, dan tanggung jawab memang tidak selalu menunjukkan hasil instan, tetapi kesungguhan yang konsisten akan melahirkan generasi yang kuat dan berkarakter.

Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat dan bekerja. Kejujuran dalam mencari nafkah, ketekunan dalam menjalankan amanah, dan kesungguhan dalam melayani sesama adalah bentuk nyata dari man jadda wajada. Rezeki yang halal dan berkah tidak datang dari jalan pintas, melainkan dari usaha yang bersih, niat yang lurus, dan kesabaran dalam proses.

Namun penting dipahami bahwa man jadda wajada tidak boleh dilepaskan dari nilai tawakal. Kesungguhan tanpa tawakal dapat melahirkan kesombongan, sedangkan tawakal tanpa kesungguhan dapat menjelma menjadi kemalasan yang dibungkus dalih agama. Islam mengajarkan keseimbangan: bekerja sekuat tenaga seolah-olah segalanya bergantung pada usaha, lalu berserah diri sepenuhnya seolah-olah segalanya bergantung pada Allah.

Dalam perjalanan hidup, tidak semua usaha langsung berbuah sesuai harapan. Ada kalanya kesungguhan diuji dengan kegagalan, penundaan, atau hasil yang tidak sesuai rencana. Di sinilah makna man jadda wajada menjadi lebih dalam: hasil tidak selalu berupa keberhasilan lahiriah, tetapi bisa berupa kedewasaan, kesabaran, kekuatan iman, dan hikmah hidup.

Orang yang bersungguh-sungguh tidak akan rugi. Jika berhasil, ia bersyukur. Jika belum berhasil, ia belajar dan memperbaiki diri. Jika diuji, ia bersabar. Semua keadaan itu bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Oleh karena itu, man jadda wajada bukan sekadar slogan motivasi, melainkan prinsip hidup seorang mukmin. Ia menanamkan etos kerja, daya juang, dan optimisme yang berpijak pada iman. Prinsip ini relevan sepanjang zaman, baik bagi santri, pelajar, orang tua, pemimpin, maupun masyarakat umum.

Akhirnya, marilah kita jadikan man jadda wajada sebagai pegangan dalam menapaki kehidupan. Bersungguh-sungguhlah dalam ibadah, ilmu, pekerjaan, dan pengabdian. Jangan takut lelah dalam kebaikan, karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang ikhlas.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan, lalu menganugerahi kita hasil terbaik menurut kehendak-Nya, di dunia maupun di akhirat. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar