Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Minggu, 18 Januari 2026

Cahaya Ilmu dalam Jejak Ulama



‘Allamal Insāna Mā Lam Ya‘lam: Cahaya Ilmu dalam Jejak Ulama

Allah SWT berfirman: “‘Allamal insāna mā lam ya‘lam”—Dialah yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah karunia Ilahi, bukan semata hasil kecerdasan manusia. Kebenaran ayat ini tercermin jelas dalam perjalanan hidup para ulama terdahulu yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan keselamatan demi menuntut ilmu.

Salah satu kisah yang masyhur adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Sejak muda beliau menempuh perjalanan jauh dari Baghdad ke Yaman, Hijaz, dan Syam hanya untuk mendengar satu hadis dari seorang perawi. Dalam kondisi miskin dan sering kelaparan, beliau tetap istiqamah belajar. Ketika ditanya apa yang mendorongnya bertahan, beliau menjawab bahwa ilmu bukan dicari untuk kemegahan dunia, melainkan sebagai amanah dari Allah. Melalui kesungguhan dan keikhlasan itulah, Allah mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak diketahui banyak orang pada zamannya.

Demikian pula Imam al-Bukhari, yang sejak kecil mengalami kebutaan. Ibunya senantiasa berdoa hingga Allah mengembalikan penglihatannya. Dengan nikmat itu, beliau menghafal ratusan ribu hadis dan menyeleksi dengan ketelitian luar biasa hingga lahirlah Shahih al-Bukhari. Perjalanan beliau menempuh berbagai negeri menjadi bukti bahwa ilmu yang Allah ajarkan lahir melalui kesabaran, adab, dan ketakwaan.

Dalam tradisi tasawuf dan akhlak, Imam al-Ghazali memberi teladan lain. Setelah mencapai puncak karier akademik, beliau justru merasakan kekosongan batin. Ia lalu meninggalkan jabatan, mengembara, beruzlah, dan membersihkan niat. Dari perjalanan ruhani itu lahir karya-karya besar yang hingga kini menjadi rujukan umat. Ilmu yang Allah ajarkan kepadanya bukan hanya pengetahuan rasional, tetapi hikmah yang menuntun hati.

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa “mā lam ya‘lam”—apa yang tidak diketahui manusia—dibukakan oleh Allah kepada hamba-hamba yang bersungguh-sungguh, rendah hati, dan menjaga adab. Ilmu bukan datang kepada mereka yang tergesa-gesa, tetapi kepada mereka yang sabar menapaki proses. Para ulama tidak hanya membaca kitab, tetapi juga “membaca” kehidupan dengan iman.

Di pesantren, kisah para ulama ini diturunkan dari generasi ke generasi agar santri memahami bahwa ilmu adalah amanah. Belajar bukan sekadar mengejar ijazah, melainkan membentuk akhlak, memperhalus jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ayat “‘allamal insāna mā lam ya‘lam” menjadi penguat bahwa setiap pemahaman yang benar adalah karunia yang harus disyukuri dan diamalkan.

Semoga Allah SWT menanamkan dalam diri kita semangat para ulama pencari ilmu, membukakan pintu-pintu pemahaman yang bermanfaat, dan menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai cahaya yang menuntun hidup kita di dunia dan akhirat. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar