‘Alī bin Abī Ṭālib r.a.
(Sepupu, Menantu Rasulullah ﷺ, dan Singa Allah)
A. Nasab dan Kedudukan
Nama lengkap beliau adalah ‘Alī bin Abī Ṭālib bin ‘Abd al-Muṭṭalib al-Hāsyimī al-Qurasyī. Ia lahir di Makkah sekitar tahun 600 M dari keluarga Bani Hāsyim. Ayahnya, Abū Ṭālib, adalah paman yang melindungi Rasulullah ﷺ sejak masa awal dakwah, sementara ibunya, Fāṭimah binti Asad, termasuk perempuan pertama yang masuk Islam.
‘Alī tumbuh dan diasuh langsung di rumah Rasulullah ﷺ. Karena itu, akhlak, iman, dan ilmunya terbentuk dalam bimbingan Nabi sejak usia belia. Ia termasuk anak pertama yang memeluk Islam dan menjadi saksi hidup fase awal risalah kenabian.
B. Keutamaan Keimanan dan Pengorbanan
Salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam adalah malam hijrah. Ketika kaum Quraisy berencana membunuh Rasulullah ﷺ, ‘Alī r.a. tidur di ranjang Nabi untuk mengecoh mereka. Tindakan ini menunjukkan keberanian dan ketawakkalan yang luar biasa.
Allah berfirman:
“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”
(QS. al-Baqarah [2]: 207)
Banyak mufassir mengaitkan ayat ini dengan pengorbanan ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a.
C. Pintu Ilmu Nabi
‘Alī r.a. dikenal luas sebagai sahabat yang paling dalam ilmunya, terutama dalam bidang fikih, tafsir, dan hikmah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku adalah kota ilmu, dan ‘Alī adalah pintunya.”
(HR. al-Ḥākim dan al-Tirmiżī)
Hadis ini menegaskan bahwa ilmu Rasulullah ﷺ mengalir kepada umat melalui para sahabat, dan ‘Alī merupakan salah satu gerbang terpentingnya.
Allah berfirman tentang keutamaan ilmu:
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. al-Mujādilah [58]: 11)
D. Keberanian dan Peran dalam Perang
‘Alī r.a. adalah panglima pemberani dalam berbagai peperangan, termasuk Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar. Pada Perang Khaibar, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Akan aku berikan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Panji itu kemudian diberikan kepada ‘Alī, dan melalui tangannya Allah memberi kemenangan.
E. Menantu Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bait
‘Alī r.a. menikah dengan Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā’ r.a., putri Rasulullah ﷺ. Dari pernikahan ini lahir Hasan dan Husain r.a., dua cucu Nabi yang mulia.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
(QS. al-Aḥzāb [33]: 33)
Ayat ini menjadi dasar kemuliaan Ahlul Bait Rasulullah ﷺ, termasuk ‘Alī r.a.
F. ‘Alī sebagai Khalifah Keempat
Setelah wafatnya ‘Utsmān bin ‘Affān r.a., ‘Alī diangkat menjadi khalifah keempat. Masa pemerintahannya penuh ujian dan fitnah, namun ia tetap memimpin dengan keadilan, kezuhudan, dan keteguhan pada prinsip syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“‘Alī bersama kebenaran dan kebenaran bersama ‘Alī.”
(HR. al-Tirmiżī)
Ungkapan ini menunjukkan integritas moral dan spiritual ‘Alī dalam menghadapi berbagai konflik umat.
G. Wafat dan Warisan Keutamaan
Sayyidina ‘Alī r.a. wafat pada tahun 40 H akibat serangan kaum Khawarij saat menuju masjid untuk shalat Subuh di Kufah. Ia wafat sebagai syahid, meninggalkan warisan berupa ilmu, keadilan, keberanian, dan keteladanan akhlak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Engkau dariku dan aku darimu.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Hadis ini menegaskan kedekatan spiritual antara Rasulullah ﷺ dan ‘Alī r.a.
Penutup
Sayyidina ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a. adalah figur sentral dalam sejarah Nabi Muhammad ﷺ—sebagai keluarga, sahabat, murid, panglima, dan pemimpin umat. Kepribadiannya memadukan ilmu dan amal, keberanian dan kebijaksanaan, zuhud dan tanggung jawab sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar