Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Jumat, 23 Januari 2026

Dzun Nūrain, Penjaga Al-Qur’an

‘Utsmān bin ‘Affān r.a.

(Dzun Nūrain, Penjaga Al-Qur’an dan Khalifah Mulia)

A. Nasab dan Kedudukan

Nama lengkap beliau adalah ‘Utsmān bin ‘Affān bin Abī al-‘Āsh al-Umawī al-Qurasyī. Ia lahir di Makkah sekitar tahun 576 M dari keluarga terpandang Quraisy, Bani Umayyah. Sejak sebelum Islam, ‘Utsmān dikenal sebagai sosok lembut, jujur, pemalu, dan dermawan—sifat yang kelak makin bercahaya setelah masuk Islam.

‘Utsmān termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam, masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Ṣiddīq r.a. Keislamannya merupakan pukulan besar bagi kaum Quraisy karena pengaruh sosial dan ekonominya yang kuat.


B. Dzun Nūrain: Pemilik Dua Cahaya

‘Utsmān mendapat gelar Dzun Nūrain (Pemilik Dua Cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah ﷺ, yakni Ruqayyah r.a. dan setelah wafatnya Ruqayyah, beliau menikahi Ummu Kultsum r.a. Tidak ada seorang pun dalam sejarah Islam yang mendapatkan keistimewaan ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya aku memiliki putri yang ketiga, niscaya akan aku nikahkan dengan ‘Utsmān.”
(HR. al-Ṭabarānī)

Hal ini menunjukkan kedudukan ‘Utsmān yang sangat mulia di sisi Nabi ﷺ.


C. Keutamaan Akhlak dan Rasa Malu

‘Utsmān r.a. dikenal memiliki sifat ḥayā’ (malu) yang luar biasa. Bahkan Rasulullah ﷺ memuliakan sifat ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidakkah aku merasa malu kepada seorang yang para malaikat pun merasa malu kepadanya?”
(HR. Muslim)

Sifat malu ini adalah bagian dari iman, sebagaimana ditegaskan Nabi ﷺ dalam hadis lain:

“Malu itu bagian dari iman.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)


D. ‘Utsmān dalam Al-Qur’an: Derma dan Pengorbanan

Walaupun tidak disebutkan secara eksplisit dengan nama, banyak ulama menafsirkan ayat-ayat tentang infak dan pengorbanan besar di jalan Allah sebagai gambaran keutamaan sahabat seperti ‘Utsmān.

Di antaranya firman Allah:

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai…”
(QS. al-Baqarah [2]: 261)

Ayat ini sering dikaitkan dengan kedermawanan ‘Utsmān, terutama saat ia membiayai pasukan Perang Tabuk dengan harta pribadinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak ada yang membahayakan ‘Utsmān setelah apa yang ia lakukan hari ini.”
(HR. al-Tirmiżī)


E. Penjaga Al-Qur’an: Kodifikasi Mushaf ‘Utsmānī

Jasa terbesar ‘Utsmān r.a. bagi umat Islam adalah pengumpulan dan standarisasi Al-Qur’an dalam satu mushaf resmi, yang dikenal sebagai Mushaf ‘Utsmānī. Langkah ini diambil untuk mencegah perpecahan umat akibat perbedaan dialek bacaan.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.”
(QS. al-Ḥijr [15]: 9)

Para ulama sepakat bahwa usaha ‘Utsmān adalah bagian dari realisasi janji Allah dalam menjaga Al-Qur’an.


F. ‘Utsmān sebagai Khalifah Ketiga

‘Utsmān r.a. menjadi khalifah ketiga setelah wafatnya ‘Umar bin al-Khaṭṭāb r.a. Masa pemerintahannya ditandai dengan perluasan wilayah Islam, pembangunan infrastruktur, serta penyebaran mushaf Al-Qur’an ke berbagai daerah.

Namun, di akhir masa kekhalifahannya, muncul fitnah besar yang berujung pada syahidnya ‘Utsmān dalam keadaan berpuasa dan membaca Al-Qur’an—sebuah akhir hidup yang penuh kemuliaan.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang ujian yang akan menimpa ‘Utsmān:

“Wahai ‘Utsmān, sesungguhnya Allah akan memakaikanmu sebuah baju (kekhalifahan). Jika orang-orang ingin menanggalkannya darimu, maka janganlah engkau melepaskannya.”
(HR. al-Tirmiżī)


G. Warisan Spiritual

‘Utsmān bin ‘Affān r.a. meninggalkan warisan besar berupa:

  • keteladanan akhlak malu dan kelembutan,

  • pengorbanan harta tanpa batas,

  • dan jasa monumental dalam penjagaan kemurnian Al-Qur’an.

Ia termasuk sahabat yang dijamin surga, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsmān di surga…”
(HR. al-Tirmiżī)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar