Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Senin, 12 Januari 2026

Metode Pengajaran Tauhid bagi Anak Madrasah Diniyah

 K. Masduki bin Yunus dan Metode Pengajaran Tauhid bagi Anak Madrasah Diniyah

(Studi Tokoh dan Pendekatan Pedagogis Kultural)

1. Profil Singkat K. Masduki bin Yunus sebagai Pendidik Tradisional

K. Masduki bin Yunus merupakan seorang guru Madrasah Diniyah, pengajar Al-Qur’an, sekaligus khatib Jum’at di Masjid Jami’ Baiturrohman (Alfalasy), Dukuh Ploso, Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Beliau dikenal sebagai pendidik agama yang ikhlas, sederhana, dan konsisten membina anak-anak desa melalui pengajaran dasar aqidah, ibadah, dan akhlak.

Dalam konteks pendidikan Islam tradisional, figur K. Masduki bin Yunus dapat dikategorikan sebagai pendidik berbasis komunitas (community-based religious educator), yang mentransmisikan ilmu agama melalui pendekatan kultural dan keteladanan.

Sumber:
Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.


2. Tembang Anak Madin sebagai Representasi Metode Pengajaran K. Masduki bin Yunus

Penggunaan Tembang Anak Madin dalam pengajaran Ilmu Tauhid mencerminkan metode khas K. Masduki bin Yunus, yaitu menyederhanakan konsep teologis agar sesuai dengan daya tangkap anak-anak. Metode ini menunjukkan kesadaran pedagogis bahwa tauhid, sebagai ilmu paling fundamental, harus diperkenalkan secara bertahap dan menyenangkan.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip tadarruj fi at-ta’lim (bertahap dalam pengajaran), sebagaimana ditegaskan oleh Ibn Khaldun bahwa anak didik tidak boleh dibebani konsep yang melampaui kesiapan intelektualnya.

Sumber:
Ibn Khaldun. Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr.


3. Pendidikan Adab sebagai Fondasi Tauhid dalam Metode K. Masduki bin Yunus

Bait awal tembang:

Bocah cilik-cilik
Jejer marik-marik
Sandhangane resik
Tumuindak seng becik

menunjukkan bahwa K. Masduki bin Yunus mendahulukan pembentukan adab dan akhlak sebelum penyampaian konsep aqidah. Hal ini mencerminkan prinsip pendidikan ulama klasik bahwa adab merupakan pintu masuk ilmu.

Imam Malik bin Anas menyatakan bahwa seorang murid hendaknya mempelajari adab sebelum memperdalam ilmu.

Sumber:
Al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulum al-Din, Juz I.
Al-Qadhi ‘Iyadh. Tartib al-Madarik.

Dalam praktiknya, K. Masduki bin Yunus tidak hanya mengajarkan adab melalui nasihat, tetapi juga melalui pembiasaan dan keteladanan, seperti menuntut kerapian, kebersihan, dan sikap sopan saat mengaji.


4. Penanaman Tauhid Dasar melalui Bahasa Lokal

Bait tauhid:

Islam agamaku
Allah Pengeranku
Muhammad Nabiku
Al-Qur’an Kitabku

merepresentasikan metode K. Masduki bin Yunus dalam menanamkan aqidah Islamiyah melalui bahasa Jawa yang sederhana dan afirmatif. Strategi ini bertujuan agar anak-anak mengenal identitas keislaman secara kuat sebelum mempelajari dalil dan perdebatan teologis.

Model pengajaran ini sejalan dengan tradisi pengajaran kitab Aqidatul Awam, yang juga menggunakan bahasa ringkas dan nadham agar mudah dihafal oleh pemula.

Sumber:
Ahmad al-Marzuki. Aqidatul Awam.
Al-Bayjuri. Syarh Aqidatul Awam.


5. Hubungan Guru–Murid dalam Perspektif K. Masduki bin Yunus

Bait terakhir:

Ayo menyang ngaji
Seng mulang Pak Yai
Ojo podo wedi
Mundak ora ngerti

menggambarkan relasi edukatif yang dibangun K. Masduki bin Yunus, yaitu hubungan guru dan murid yang bersahabat, tidak menakutkan, dan penuh dorongan psikologis. Anak-anak diajak untuk tidak takut belajar dan tidak malu ketika belum memahami pelajaran.

Konsep ini sejalan dengan etika menuntut ilmu dalam Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Az-Zarnuji bahwa murid harus berani belajar dan guru harus menciptakan suasana yang mendukung.

Sumber:
Az-Zarnuji. Ta’lim al-Muta’allim.


6. K. Masduki bin Yunus sebagai Representasi Pendidikan Islam Nusantara

Metode pengajaran tauhid melalui tembang menunjukkan bahwa K. Masduki bin Yunus menjalankan pendidikan Islam berbasis kearifan lokal, yang menjadi ciri khas Islam Nusantara. Pendekatan ini tidak memisahkan agama dari budaya, melainkan menjadikan budaya sebagai media dakwah dan pendidikan.

Pendekatan kultural seperti ini dipandang efektif dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai Islam di tingkat akar rumput.

Sumber:
Abdurrahman Wahid. Islamku, Islam Anda, Islam Kita.
Azyumardi Azra. Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal.


7. Kesimpulan Studi Tokoh

Berdasarkan analisis tersebut, K. Masduki bin Yunus dapat diposisikan sebagai tokoh pendidik agama lokal yang memiliki kontribusi nyata dalam transmisi ilmu tauhid kepada anak-anak melalui metode:

  1. Sederhana dan bertahap

  2. Berbasis budaya lokal

  3. Menekankan adab dan keteladanan

  4. Ramah terhadap psikologi anak

Tembang Anak Madin bukan sekadar nyanyian pengiring pembelajaran, melainkan representasi dari filosofi pendidikan tauhid K. Masduki bin Yunus yang membumi, berkelanjutan, dan berorientasi pada pembentukan iman serta akhlak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar