DARI PP. ATIM UNTUK INDONESIA
I. Pesantren Kecil dan Cita-cita Besar
Pondok Pesantren ATIM Sekopek mungkin tidak berdiri di tengah gemerlap kota besar, tidak pula dikenal karena kemewahan bangunannya. Namun sejak awal berdirinya, ATIM membawa sesuatu yang jauh lebih besar: niat tulus mencetak manusia beriman, berilmu, dan berakhlak. Dari ruang-ruang sederhana itulah, perjalanan panjang pengabdian dimulai.
Pesantren selalu lahir dari keprihatinan dan harapan. Keprihatinan atas kondisi umat, dan harapan akan lahirnya generasi yang mampu menjaga agama sekaligus merawat bangsa. ATIM berdiri di atas kesadaran itu. Ia tidak sekadar mengajarkan kitab, tetapi menanamkan nilai—tentang keikhlasan, kesabaran, adab, dan tanggung jawab sosial.
Santri ATIM sejak awal diajarkan bahwa ilmu bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diamalkan. Bahwa hidup bukan sekadar tentang diri sendiri, tetapi tentang kebermanfaatan. Dari sinilah lahir watak santri ATIM: sederhana dalam hidup, namun besar dalam cita-cita.
II. ATIM dan Tradisi Pesantren Nusantara
ATIM adalah bagian dari mata rantai panjang pesantren Nusantara yang telah berabad-abad menjaga Indonesia. Jauh sebelum negeri ini bernama Indonesia, pesantren sudah menjadi benteng akidah, pusat pendidikan rakyat, dan penjaga moral masyarakat. Dari pesantrenlah lahir ulama, pemimpin, pejuang, dan pendidik bangsa.
Tradisi pesantren—termasuk di ATIM—tidak membentuk manusia yang kaku, tetapi manusia yang lentur dan bijaksana. Santri diajarkan hidup bersama perbedaan, menghormati adat, dan berdakwah dengan hikmah. Inilah nilai penting yang sangat relevan bagi Indonesia yang majemuk.
ATIM mewarisi tradisi itu: Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Islam yang membumi, Islam yang tidak memusuhi budaya, tetapi membimbingnya. Santri ATIM belajar bahwa menjadi Muslim yang baik berarti juga menjadi warga bangsa yang bertanggung jawab.
Dalam diamnya, pesantren seperti ATIM telah memberi kontribusi nyata bagi Indonesia:
mencetak manusia yang tahan godaan kekuasaan,
tidak silau jabatan,
dan tetap berpihak pada kebenaran meski harus berjalan sunyi.
III. Alumni ATIM: Menyebar, Mengabdi, dan Menjadi Cahaya
Hari ini, alumni PP. ATIM Sekopek telah menyebar ke berbagai penjuru. Ada yang tetap berada di jalur keilmuan dan dakwah, ada yang terjun ke dunia pendidikan, ekonomi, sosial, bahkan pemerintahan. Mereka mungkin berbeda profesi, tetapi memiliki akar nilai yang sama.
Alumni ATIM bukan dituntut untuk seragam, tetapi seirama dalam nilai. Dalam kejujuran bekerja, dalam kesantunan berbicara, dalam keteguhan menjaga amanah. Di situlah ATIM hidup—bukan pada papan nama, tetapi pada akhlak alumninya.
Indonesia hari ini membutuhkan sosok-sosok seperti itu:
orang-orang yang tidak mudah terprovokasi,
tidak gemar memecah-belah,
dan mampu menjadi peneduh di tengah kegaduhan.
Alumni ATIM dipanggil untuk hadir sebagai penjaga akal sehat dan moral publik. Tidak harus dengan mimbar besar, cukup dengan menjadi pribadi yang bisa dipercaya. Sebab di tengah krisis keteladanan, satu contoh baik sering lebih berharga daripada seribu nasihat.
IV. Motivasi: Tanggung Jawab Moral Alumni Pesantren
Menjadi alumni pesantren bukan sekadar status masa lalu, melainkan amanah seumur hidup. Ilmu yang pernah dipelajari, doa guru yang pernah dipanjatkan, dan adab yang pernah ditanamkan—semuanya menuntut pertanggungjawaban.
Alumni ATIM tidak boleh berhenti pada nostalgia. Pesantren tidak ingin dikenang, tetapi dilanjutkan nilai-nilainya. Setiap alumni adalah duta pesantren di tengah masyarakat. Jika akhlaknya baik, pesantren akan dihormati. Jika ilmunya diamalkan, pesantren akan hidup.
Ingatlah:
Santri tidak diukur dari seberapa tinggi jabatannya, tetapi seberapa besar manfaatnya
Kesuksesan bukan soal popularitas, tetapi keberkahan
Dakwah paling kuat adalah keteladanan hidup
Dalam konteks Indonesia, alumni ATIM memiliki peran strategis: menjadi jembatan antara agama dan kebangsaan, antara nilai Islam dan realitas sosial. Di situlah pesantren memberi sumbangan terbaiknya untuk negeri.
V. Penutup: Dari ATIM, untuk Indonesia yang Lebih Bermartabat
“Dari PP. ATIM untuk Indonesia” bukan sekadar slogan. Ia adalah pernyataan sikap. Bahwa pesantren berdiri untuk bangsa. Bahwa santri hadir untuk masa depan. Bahwa Islam dan Indonesia bukan dua hal yang bertentangan, tetapi saling menguatkan.
ATIM telah menunaikan tugasnya dengan mendidik dan membina. Kini estafet berada di tangan para alumninya. Indonesia menunggu kontribusi nyata: dalam bentuk kejujuran, kerja keras, kepedulian, dan doa yang tidak putus.
Semoga alumni PP. ATIM Sekopek senantiasa:
menjaga iman di tengah godaan zaman,
menjaga akhlak di tengah perubahan,
dan menjaga Indonesia dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Karena dari pesantren yang mungkin kecil di peta,
telah lahir cahaya-cahaya besar untuk Indonesia.
By. M. Abdul Azis Semarang Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar