Cahaya yang Tak Pernah Padam: M. Lutfil Khakim
Di lorong-lorong waktu yang terus berjalan, ada nama yang tetap menebar sinarnya—M. Lutfil Khakim bin Masduki Yunus. Sosok yang hadir seperti angin sejuk di tengah terik kehidupan, membawa ketenangan tanpa harus mengumumkan kehadirannya. Senyumnya lembut, kata-katanya sederhana, namun setiap jejak langkahnya meninggalkan jejak cahaya yang tak lekang oleh waktu.
Ia berjalan di dunia ini bukan untuk terlihat, tetapi untuk menebar kebaikan. Tidak ada hiasan dunia yang ia cari; hanya ketulusan, hanya doa yang mengalir tanpa pamrih. Di mata keluarga, ia adalah sandaran; di mata sahabat, ia adalah pelita; dan bagi masyarakat, ia adalah teladan yang hidup. Kehadirannya seolah memberi tahu bahwa kebesaran hati tidak selalu berteriak, kadang ia berbisik lembut melalui tindakan yang nyata.
Kesederhanaannya adalah bahasa jiwanya. Rumah yang ia tinggali sederhana, pakaiannya tidak mencolok, namun aura kebaikannya mampu menerangi hati siapa pun yang singgah. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan bukan diukur dari gemerlap dunia, tetapi dari seberapa tulus hati memberi, seberapa ikhlas jiwa membimbing, dan seberapa dalam doa yang dipanjatkan bagi orang lain.
Di Alfalasy dan di setiap sudut kehidupannya, ia menebar ilmu dan kasih sayang. Anak-anaknya meneladani langkahnya; santri meneladani tutur katanya. Setiap nasihatnya bukan sekadar kata, tapi cermin dari hati yang murni, yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan untuk menebar manfaat bagi sebanyak mungkin makhluk. Dari kecil hingga besar, setiap orang yang mengenalnya belajar bahwa ketulusan tidak butuh sorotan—ia cukup dengan diam, menyinari, dan mengalirkan damai.
Dalam dunia yang kadang keras dan penuh hiruk-pikuk, M. Lutfil adalah lembah yang tenang. Ia menghadapi tantangan bukan dengan kemarahan, tetapi dengan ketenangan dan kesabaran. Ia mengajarkan bahwa keteguhan bukan tentang keras kepala, tetapi tentang mampu menebar kebaikan meski badai menghantam. Dan di setiap badai, ia tetap tegak, tetap menebar ketenangan bagi mereka yang berada di dekatnya.
Doa-doanya mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Untuk keluarga, sahabat, dan masyarakat, ia memohon keberkahan, perlindungan, dan rahmat Allah Swt. Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah doa yang menenangkan, memberi harapan, dan membangkitkan semangat untuk terus berjalan di jalan kebenaran. Doa-doanya adalah cahaya, yang meski ia telah pergi, terus membimbing langkah yang tersisa.
Ia adalah contoh nyata bahwa hidup yang bermakna tidak diukur dari panjangnya usia, tetapi dari luasnya kasih yang ditaburkan. Ia menunjukkan bahwa ketulusan adalah warisan yang abadi; kesederhanaan adalah kemuliaan; dan amal yang ikhlas adalah cahaya yang tak pernah padam. Dari setiap pertemuan dengannya, seseorang pulang dengan hati yang lebih ringan, jiwa yang lebih damai, dan semangat yang diperbarui.
Kini, jasadnya mungkin telah tiada, namun aura dan teladannya tetap hidup. Dalam doa yang kita panjatkan, dalam ingatan yang tersimpan, dan dalam setiap tindakan baik yang ia inspirasi, M. Lutfil tetap hadir. Ia seperti bintang yang tidak pernah padam, menerangi malam gelap, menuntun setiap langkah yang ragu, dan mengingatkan bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya.
Semoga Allah Swt. menerima setiap amalnya, menempatkan jiwanya di surga yang penuh cahaya, dan memberinya kedamaian yang abadi. Semoga setiap langkah dan doa yang ia tinggalkan menjadi cahaya bagi kita semua, pengingat bahwa kehidupan yang benar-benar mulia adalah kehidupan yang memberi, menebar, dan mengalirkan kasih tanpa henti.
M. Lutfil Khakim, namamu abadi dalam hati kami. Dalam diam, dalam doa, dalam setiap teladan yang kau tinggalkan, kami belajar bahwa kebaikan sejati adalah seperti air: mengalir, menyejukkan, dan tak pernah berhenti. Dari hidupmu, kami belajar cara hidup yang tulus, sederhana, dan bermakna—dan dari doa kami, semoga Allah selalu menjaga cahaya itu tetap menyala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar