Cahaya dari Alfalasy: K. Masduki bin Yunus
Di Ploso, di antara jejak-jejak waktu yang berbisik, lahirlah seorang ulama yang jiwanya seperti lentera yang tak pernah padam. K. Masduki bin Yunus berjalan di dunia ini bukan untuk terlihat, melainkan untuk menebar cahaya tauhid: Allah Pengeranku, Muhammad Nabiku, Al-Qur’an Kitabku. Setiap langkahnya menuntun santri dan masyarakat ke arah kebaikan, menyalakan pelita di hati mereka yang mencari petunjuk.
Ilmu yang beliau ajarkan bagaikan sungai yang mengalir lembut namun terus menembus bumi. Tidak sekadar kata-kata, tetapi hidup yang dijalani sebagai teladan. Dari rumah sederhana hingga pesantren Alfalasy, ia menanamkan nilai-nilai keimanan yang mendasar: pengakuan bahwa segala kuasa milik Allah, bahwa Nabi Muhammad adalah teladan abadi, dan Al-Qur’an adalah peta yang menuntun setiap jiwa menuju kebaikan.
Kesederhanaan beliau bukan kekurangan, melainkan kemegahan hati. Senyum yang tak pernah pudar, tutur kata yang menenangkan, dan doa yang tak henti mengalir—semua itu adalah jejak kebaikan yang memancar tanpa henti. Santri yang pernah singgah di bawah bimbingannya belajar bahwa kemuliaan hidup bukan dari harta atau pamrih, melainkan dari ketulusan, akhlak, dan pengabdian yang ikhlas.
Beliau menekankan bahwa setiap amal lahir dari niat yang bersih. Segala langkah, sekecil apa pun, menjadi ibadah ketika diniatkan karena Allah. Dari hal itu, santri belajar arti kesadaran penuh: bahwa Tuhan mengawasi, membimbing, dan memberkahi setiap usaha yang dilakukan dengan hati yang tulus. Setiap doa yang beliau panjatkan adalah cahaya yang menenangkan jiwa, menguatkan hati, dan mengalir keberkahan bagi banyak orang.
Rasulullah Saw. selalu hadir dalam setiap pengajaran beliau. Keteladanan Nabi bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi hidup melalui setiap kata, nasihat, dan tindakan beliau. Santri dan masyarakat yang pernah belajar darinya bukan hanya meniru, tetapi meresapi akhlak yang memuliakan: kesabaran, kasih sayang, dan keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran.
Al-Qur’an menjadi pedoman yang hidup. Dalam setiap nasihat, tersirat ayat-ayat yang menuntun hati agar tetap lurus, teguh, dan bermanfaat bagi sesama. Bagi K. Masduki, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan; ia adalah sungai yang menyejukkan, cahaya yang menuntun, dan jembatan yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Setiap hurufnya menjadi doa yang menyejukkan hati dan menguatkan iman.
Ilmu yang beliau wariskan tidak pernah berhenti. Dari Alfalasy, pengaruhnya merambah jauh, bukan untuk nama atau ketenaran, tetapi untuk membimbing hati, menanamkan tauhid, dan menebar manfaat. Setiap santri yang pernah belajar darinya membawa pelajaran itu sepanjang hidup, menyalurkan cahaya tauhid, dan menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak kebaikan yang sama.
Kesederhanaan dan ketulusan beliau seperti embun pagi yang menyejukkan, memberi hidup pada hati yang kering dan jiwa yang lelah. Ia menunjukkan bahwa kekuatan spiritual lahir dari kepatuhan pada Allah, pengikhlasan mengikuti Nabi, dan kesungguhan memegang Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Setiap amalnya adalah doa, setiap senyumnya adalah cahaya, dan setiap langkahnya adalah inspirasi yang tak lekang oleh waktu.
Kini, meski jasadnya telah tiada, cahaya ilmu dan teladannya tetap mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Semoga Allah Swt. menerima setiap amalnya, menempatkan jiwanya di surga yang penuh cahaya, dan menjadikan ilmu serta pengabdiannya sebagai amal jariyah yang terus membawa manfaat bagi banyak orang. Dari Alfalasy, untuk Indonesia, dan bagi dunia, ia tetap hidup dalam doa, teladan, dan setiap hati yang merindukan kebaikan.
K. Masduki bin Yunus, dengan ajaran tauhidnya—Allah Pengeranku, Muhammad Nabiku, Al-Qur’an Kitabku—telah menyalakan lentera yang akan terus menerangi jalan generasi. Semoga keberkahan selalu menyertai ilmu yang ia sebarkan, semoga setiap ajarannya menjadi rahmat yang abadi, dan semoga kita semua mampu meneladani hidupnya: tulus, sederhana, dan penuh manfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar