Profil dan Kontribusi Keagamaan Masduki bin Yunus
Masduki bin Yunus merupakan salah satu tokoh pendidik agama Islam lokal yang berperan penting dalam pengembangan pendidikan keagamaan masyarakat pedesaan di Dukuh Ploso, Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Ia adalah putra dari Bapak Yunus bin Wasimin dan dikenal luas oleh masyarakat setempat sebagai guru Madrasah Diniyah (Madin), guru ngaji Al-Qur’an, serta khotib Jum’ah di Masjid Jami’ Baiturrohman Ploso (Alfalasy). Peran-peran tersebut dijalankan secara konsisten dalam kurun waktu yang panjang sebagai bentuk pengabdian keagamaan dan sosial.
Latar belakang kehidupan Masduki bin Yunus tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-keagamaan masyarakat pedesaan Demak yang religius dan sarat dengan tradisi Islam. Lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar membentuk karakter keagamaan yang kuat, ditandai dengan kesederhanaan hidup, ketaatan beragama, serta kepedulian terhadap pendidikan Islam. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam pembentukan kepribadian Masduki bin Yunus sebagai pendidik dan tokoh agama yang menjunjung tinggi keikhlasan dan keteladanan.
Dalam bidang pendidikan Islam, Masduki bin Yunus mengabdikan diri sebagai guru Madrasah Diniyah, lembaga pendidikan nonformal yang berperan strategis dalam memberikan pendidikan agama dasar kepada anak-anak. Sebagai pendidik Madin, ia tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing moral dan spiritual. Materi yang diajarkan meliputi ilmu-ilmu dasar keislaman, seperti Ilmu Tauhid, akhlak, fiqih dasar, serta bacaan Al-Qur’an. Pengajaran tersebut diarahkan untuk membentuk pemahaman dasar keagamaan yang kokoh sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah sejak usia dini.
Salah satu aspek penting dalam praktik pendidikan yang dilakukan Masduki bin Yunus adalah pendekatan pedagogis yang sederhana dan kontekstual. Ia menyadari bahwa anak-anak Madrasah Diniyah memiliki latar belakang dan kemampuan yang beragam, sehingga metode pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif dan psikologis peserta didik. Oleh karena itu, materi keagamaan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta metode yang tidak memberatkan.
Dalam pengajaran Ilmu Tauhid, Masduki bin Yunus menekankan pentingnya penanaman konsep keimanan secara bertahap dan berkelanjutan. Tauhid diposisikan sebagai fondasi utama dalam pendidikan Islam, karena pemahaman yang benar tentang keesaan Allah akan memengaruhi sikap, perilaku, dan cara pandang seseorang dalam menjalani kehidupan. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia menggunakan metode yang bersifat edukatif sekaligus kultural, salah satunya melalui tembang sederhana berbahasa Jawa.
Penggunaan tembang berbahasa Jawa dalam pembelajaran tauhid merupakan bentuk adaptasi terhadap budaya lokal. Tembang tersebut berisi pengenalan identitas dasar keislaman, seperti agama, Tuhan, Nabi, dan kitab suci, yang dirangkai dalam kalimat sederhana dan mudah dihafal. Contoh tembang yang diajarkan adalah:
Islam agamaku, Allah Pengeranku,
Muhammad Nabiku, Al-Qur’an Kitabku.
Secara pedagogis, metode ini memiliki keunggulan karena memadukan unsur kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam proses pembelajaran. Anak-anak tidak hanya menghafal konsep keimanan, tetapi juga merasakannya melalui aktivitas yang menyenangkan. Dengan demikian, nilai-nilai tauhid dapat tertanam secara lebih kuat dan berkelanjutan dalam ingatan serta kesadaran keagamaan peserta didik.
Selain berperan sebagai guru Madrasah Diniyah, Masduki bin Yunus juga aktif sebagai guru ngaji Al-Qur’an. Dalam peran ini, ia membimbing santri dalam membaca Al-Qur’an secara bertahap, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah, pembelajaran tajwid dasar, hingga pembacaan Al-Qur’an yang tartil. Proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan yang sabar dan persuasif, sehingga menciptakan suasana belajar yang kondusif dan mendorong motivasi santri untuk terus belajar.
Keikhlasan merupakan nilai utama yang tercermin dalam aktivitas pendidikan Masduki bin Yunus. Ia menjalankan tugasnya sebagai pendidik bukan semata-mata sebagai profesi, melainkan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada masyarakat. Orientasi pengabdian ini tercermin dari konsistensinya dalam mengajar, kesederhanaan hidup, serta komitmennya untuk terus membimbing santri tanpa mengutamakan imbalan materi.
Dalam ranah dakwah, Masduki bin Yunus dipercaya oleh masyarakat sebagai khotib Jum’ah di Masjid Jami’ Baiturrohman Ploso (Alfalasy). Kepercayaan ini menunjukkan pengakuan masyarakat terhadap kompetensi keilmuan, integritas moral, dan keteladanan beliau. Khutbah-khutbah yang disampaikan berfokus pada penguatan keimanan, pembinaan akhlak, serta peningkatan kesadaran beragama masyarakat. Materi khutbah disusun dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan kebutuhan jamaah, sehingga pesan-pesan keagamaan yang disampaikan bersifat aplikatif dan relevan.
Dari perspektif sosiologis, peran Masduki bin Yunus sebagai tokoh agama lokal memiliki signifikansi yang besar. Meskipun tidak dikenal secara luas di luar wilayahnya, kontribusinya dalam menjaga kesinambungan tradisi keislaman di tingkat lokal sangat nyata. Melalui pendidikan Madrasah Diniyah, pengajaran Al-Qur’an, dan khutbah Jum’ah, ia berperan sebagai agen transmisi nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah kepada generasi muda dan masyarakat umum.
Pengabdian Masduki bin Yunus mencerminkan bentuk dakwah dan pendidikan Islam yang berbasis komunitas (community-based education). Model pengabdian ini menunjukkan bahwa pembangunan kualitas keagamaan masyarakat tidak selalu bergantung pada figur nasional atau lembaga besar, tetapi dapat tumbuh secara efektif melalui peran tokoh-tokoh lokal yang memiliki komitmen, keteladanan, dan kedekatan dengan masyarakat.
Dengan demikian, Masduki bin Yunus dapat dipandang sebagai representasi pendidik dan tokoh agama lokal yang berkontribusi signifikan dalam pembinaan kehidupan religius masyarakat pedesaan. Ilmu, keteladanan, dan metode pendidikan yang ia terapkan menjadi warisan keagamaan yang bernilai dan berkelanjutan. Dalam perspektif pendidikan Islam, pengabdian beliau merupakan bentuk nyata dari amal jariyah yang terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar