Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Jumat, 23 Januari 2026

Tempat bersejarah di Jawa Tengah

Masjid Baiturrahman Alfalasy yang berlokasi di Dk. Ploso, Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dengan kaitan sejarah lampau Demak–pesisir–jalur sungai.
Gaya: sejarah religius-lokal, layak untuk buku masjid, arsip desa, proposal, atau naskah haul.


SEJARAH MASJID BAITURRAHMAN ALFALASY

Dukuh Ploso, Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah


I. Pendahuluan: Masjid sebagai Jejak Peradaban Islam Desa

Masjid dalam sejarah Islam Nusantara bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan penanda hadirnya peradaban, pusat pembentukan masyarakat, dan simpul dakwah. Di wilayah Demak—yang dikenal sebagai tanah kelahiran Kesultanan Islam pertama di Jawa—keberadaan masjid-masjid desa memiliki nilai historis yang sangat penting. Salah satunya adalah Masjid Baiturrahman Alfalasy, yang terletak di Dukuh Ploso, Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak.

Masjid ini berdiri sebagai saksi hidup perjalanan dakwah Islam di pedalaman Demak, yang terhubung erat dengan sejarah pesisir, jalur sungai, ulama kampung, serta tradisi gotong royong masyarakat Jawa Islam. Keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari peran pendirinya, Kyai Muhammad Salim bin Abdul aziz , seorang tokoh agama yang menanamkan fondasi keislaman masyarakat dengan pendekatan kearifan lokal.


II. Latar Geografis dan Sejarah Lampau Wilayah Ploso–Rejosari

Secara geografis, Dukuh Ploso, Desa Rejosari, Karangawen berada di kawasan dataran rendah Demak bagian selatan yang sejak masa lampau terhubung dengan jaringan sungai dan saluran air. Pada masa sebelum infrastruktur jalan berkembang, sungai menjadi jalur utama transportasi, perdagangan, dan dakwah. Aliran sungai inilah yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir Demak, Kudus, hingga Semarang.

Dalam sejarahnya, Demak bukan hanya pusat kekuasaan politik Kesultanan Islam, tetapi juga pusat penyebaran ulama dan santri ke wilayah-wilayah sekitar. Para murid, pengikut, dan jaringan dakwah Walisongo bergerak mengikuti jalur air dan permukiman agraris. Wilayah Rejosari dan sekitarnya termasuk dalam lingkar dakwah Islam pedesaan, tempat Islam tumbuh melalui masjid, langgar, dan pengajian rumah ke rumah.

Nama Ploso sendiri dalam tradisi Jawa sering dikaitkan dengan wilayah subur, dekat sumber air, dan pemukiman lama. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kawasan ini telah lama dihuni dan menjadi bagian dari jalur kehidupan masyarakat Islam sejak generasi awal.


III. Kyai Muhammad Salim Bin Abdul Aziz dan Awal Pendirian Masjid

Di tengah konteks sejarah itulah, muncul sosok Kyai Muhammad Salim, seorang alim kampung yang dikenal memiliki kedalaman ilmu agama, keteguhan akhlak, serta kedekatan dengan masyarakat. Beliau bukan hanya guru agama, tetapi juga pengayom sosial, tempat masyarakat bertanya tentang agama, adat, dan kehidupan.

Melihat kebutuhan umat akan tempat ibadah yang layak dan terpusat, Kyai Muhammad Salim menggagas pendirian Masjid Baiturrahman Alfalasy. Nama Baiturrahman (Rumah Kasih Sayang Allah) mencerminkan visi masjid sebagai ruang rahmat, bukan sekadar ritual, sementara nama Alfalasy diyakini sebagai penanda identitas dan kesinambungan keluarga, sanad, atau simbol perjuangan dakwah yang diwariskan.

Pendirian masjid dilakukan dengan swadaya masyarakat, tanpa pamrih dan tanpa kekuatan politik. Semua dibangun atas dasar niat ibadah, gotong royong, dan keyakinan akan pertolongan Allah.


IV. Kisah Tiang Penyangga dari Hulu Sungai: Simbol Sejarah dan Keberkahan

Salah satu kisah paling masyhur dan terus diwariskan secara lisan adalah asal-usul salah satu tiang penyangga utama masjid, yang dikirimkan melalui jalur sungai dari daerah atas (hulu). Pada masa itu, belum terdapat akses jalan memadai, sehingga sungai menjadi satu-satunya sarana pengangkutan material besar.

Kayu besar yang dijadikan tiang tersebut dipilih dengan cermat, baik dari segi kekuatan maupun kelayakannya. Proses pengiriman melalui sungai dilakukan dengan penuh kehati-hatian, disertai doa dan harapan, agar bangunan masjid berdiri kokoh dan membawa keberkahan.

Dalam pandangan masyarakat, peristiwa ini tidak sekadar teknis, tetapi memiliki makna simbolik yang dalam:

  • Sungai melambangkan aliran kehidupan dan ilmu

  • Tiang penyangga melambangkan iman dan istiqamah

  • Gotong royong melambangkan ukhuwah dan persatuan umat

Sebagaimana masjid-masjid tua di era Walisongo yang sering memiliki saka guru (tiang utama) dengan kisah spiritual, Masjid Baiturrahman Alfalasy pun mewarisi narasi sakral yang menyatu dengan alam dan usaha manusia.


V. Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Kehidupan Sosial

Sejak berdiri, Masjid Baiturrahman Alfalasy berfungsi sebagai:

  1. Tempat ibadah wajib dan sunnah

  2. Pusat pengajian Al-Qur’an dan kitab

  3. Tempat musyawarah warga

  4. Ruang penyelesaian persoalan sosial-keagamaan

Kyai Muhammad Salim menjadikan masjid ini sebagai ruang pendidikan akhlak, bukan hanya transfer ilmu. Tradisi shalat berjamaah, pengajian rutin, dan adab kepada guru serta sesama ditanamkan kuat. Dari masjid inilah lahir generasi yang menjaga agama, tradisi, dan harmoni sosial.


VI. Kesinambungan Sejarah hingga Masa Kini

Hingga kini, Masjid Baiturrahman Alfalasy tetap berdiri dan berfungsi sebagai penjaga warisan spiritual Dukuh Ploso. Setiap tiang, dinding, dan ruangnya mengandung doa para pendiri dan jejak sejarah panjang Islam Demak pedesaan.

Masjid ini menjadi pengingat bahwa:

Islam di Nusantara dibangun bukan dengan paksaan, tetapi dengan kesabaran, kearifan lokal, dan ketulusan para ulama desa.

Keberadaan masjid ini juga menjadi bagian dari sejarah besar Demak, yang denyutnya tidak hanya berada di pusat kota dan keraton, tetapi juga hidup di desa-desa seperti Rejosari dan Ploso.


Penutup

Masjid Baiturrahman Alfalasy bukan hanya bangunan ibadah, tetapi monumen hidup sejarah Islam lokal. Ia menyatukan alam (sungai), manusia (masyarakat), dan nilai ilahi (iman) dalam satu peradaban kecil yang bermakna besar.

Menjaga, merawat, dan menuliskan sejarah masjid ini berarti menjaga jati diri umat dan menghormati perjuangan para pendahulu, khususnya Kyai Muhammad Salim, yang telah meletakkan fondasi keimanan dengan penuh keikhlasan.

By. M. Abdul Azis Semarang Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar