Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Senin, 19 Januari 2026

Sejarah & Keistimewaan Hajar Aswad




A. Sejarah Hajar Aswad

Hajar Aswad (الحجر الأسود) berarti batu hitam. Ia terletak di sudut timur Ka‘bah, menjadi titik awal dan akhir thawaf umat Islam ketika menunaikan ibadah haji dan umrah.

1. Asal-usul Hajar Aswad

Menurut riwayat sahih, Hajar Aswad berasal dari surga. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hajar Aswad turun dari surga, warnanya lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa anak Adam menjadikannya hitam.”
(HR. Tirmidzi, Ahmad)

Batu ini diturunkan Allah SWT sebagai tanda suci dan simbol ikatan antara langit dan bumi.

2. Masa Nabi Ibrahim AS

Ketika Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS membangun Ka‘bah atas perintah Allah, Malaikat Jibril AS membawa Hajar Aswad untuk diletakkan di sudut Ka‘bah. Sejak saat itu, Hajar Aswad menjadi bagian tak terpisahkan dari bangunan suci tersebut.

3. Peristiwa Sengketa Quraisy

Beberapa tahun sebelum kenabian Muhammad ﷺ, Ka‘bah direnovasi oleh kabilah Quraisy. Terjadi perselisihan sengit tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad.

Rasulullah ﷺ—yang saat itu dikenal sebagai Al-Amīn—menjadi penengah. Beliau membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu meminta seluruh pemimpin kabilah mengangkat bersama. Setelah itu, beliau sendiri meletakkannya pada posisinya. Peristiwa ini menjadi bukti kebijaksanaan dan kemuliaan akhlak Nabi ﷺ sejak muda.


B. Keistimewaan Hajar Aswad

1. Batu dari Surga

Tidak ada benda fisik lain di bumi yang secara tegas disebut dalam hadis sebagai berasal dari surga selain Hajar Aswad. Ini menunjukkan kedudukannya yang istimewa, namun tetap dalam koridor tauhid.

2. Menjadi Saksi di Hari Kiamat

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Demi Allah, sungguh Allah akan membangkitkan Hajar Aswad pada hari kiamat. Ia memiliki dua mata dan lisan, untuk bersaksi bagi siapa saja yang menyentuhnya dengan benar.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Yang dimaksud dengan benar adalah menyentuhnya dengan iman, bukan dengan keyakinan mistis.

3. Sunnah Mencium dan Menyentuh

Mencium atau menyentuh Hajar Aswad adalah sunnah, bukan kewajiban. Umar bin Khattab RA berkata:

“Aku tahu engkau hanyalah batu, tidak memberi manfaat dan mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ucapan ini menjadi landasan teologis bahwa penghormatan kepada Hajar Aswad bukan penyembahan, melainkan ketaatan kepada sunnah Nabi ﷺ.

4. Titik Awal Ibadah Thawaf

Hajar Aswad menandai awal dan akhir satu putaran thawaf. Secara simbolik, ini mengajarkan bahwa seluruh ibadah harus dimulai dan diakhiri dengan ketaatan kepada Allah.

5. Simbol Tauhid dan Kepasrahan

Dalam pandangan ulama, Hajar Aswad melambangkan:

  • Ketaatan tanpa mempertanyakan perintah Allah

  • Kesatuan umat Islam

  • Hubungan antara amal lahir dan iman batin


C. Kedudukan Hajar Aswad dalam Aqidah Islam

Islam melarang pengkultusan benda. Hajar Aswad dimuliakan karena:

  1. Perintah Allah

  2. Sunnah Rasulullah ﷺ

  3. Sejarah kenabian

Bukan karena kekuatan gaib atau unsur mistis. Inilah perbedaan mendasar antara ta‘zhīm (penghormatan) dan ta‘būd (penyembahan).


D. Penutup

Hajar Aswad bukan sekadar batu, melainkan saksi sejarah tauhid, pengingat ketaatan Nabi Ibrahim AS, kebijaksanaan Rasulullah ﷺ, dan kesatuan umat Islam sepanjang zaman. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan pada benda, melainkan pada ketaatan kepada Allah SWT.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar