A. Sejarah Hajar Aswad
Hajar Aswad (الحجر الأسود) berarti batu hitam. Ia terletak di sudut timur Ka‘bah, menjadi titik awal dan akhir thawaf umat Islam ketika menunaikan ibadah haji dan umrah.
1. Asal-usul Hajar Aswad
Menurut riwayat sahih, Hajar Aswad berasal dari surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hajar Aswad turun dari surga, warnanya lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa anak Adam menjadikannya hitam.”
(HR. Tirmidzi, Ahmad)
Batu ini diturunkan Allah SWT sebagai tanda suci dan simbol ikatan antara langit dan bumi.
2. Masa Nabi Ibrahim AS
Ketika Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS membangun Ka‘bah atas perintah Allah, Malaikat Jibril AS membawa Hajar Aswad untuk diletakkan di sudut Ka‘bah. Sejak saat itu, Hajar Aswad menjadi bagian tak terpisahkan dari bangunan suci tersebut.
3. Peristiwa Sengketa Quraisy
Beberapa tahun sebelum kenabian Muhammad ﷺ, Ka‘bah direnovasi oleh kabilah Quraisy. Terjadi perselisihan sengit tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad.
Rasulullah ﷺ—yang saat itu dikenal sebagai Al-Amīn—menjadi penengah. Beliau membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu meminta seluruh pemimpin kabilah mengangkat bersama. Setelah itu, beliau sendiri meletakkannya pada posisinya. Peristiwa ini menjadi bukti kebijaksanaan dan kemuliaan akhlak Nabi ﷺ sejak muda.
B. Keistimewaan Hajar Aswad
1. Batu dari Surga
Tidak ada benda fisik lain di bumi yang secara tegas disebut dalam hadis sebagai berasal dari surga selain Hajar Aswad. Ini menunjukkan kedudukannya yang istimewa, namun tetap dalam koridor tauhid.
2. Menjadi Saksi di Hari Kiamat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Allah, sungguh Allah akan membangkitkan Hajar Aswad pada hari kiamat. Ia memiliki dua mata dan lisan, untuk bersaksi bagi siapa saja yang menyentuhnya dengan benar.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Yang dimaksud dengan benar adalah menyentuhnya dengan iman, bukan dengan keyakinan mistis.
3. Sunnah Mencium dan Menyentuh
Mencium atau menyentuh Hajar Aswad adalah sunnah, bukan kewajiban. Umar bin Khattab RA berkata:
“Aku tahu engkau hanyalah batu, tidak memberi manfaat dan mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ucapan ini menjadi landasan teologis bahwa penghormatan kepada Hajar Aswad bukan penyembahan, melainkan ketaatan kepada sunnah Nabi ﷺ.
4. Titik Awal Ibadah Thawaf
Hajar Aswad menandai awal dan akhir satu putaran thawaf. Secara simbolik, ini mengajarkan bahwa seluruh ibadah harus dimulai dan diakhiri dengan ketaatan kepada Allah.
5. Simbol Tauhid dan Kepasrahan
Dalam pandangan ulama, Hajar Aswad melambangkan:
Ketaatan tanpa mempertanyakan perintah Allah
Kesatuan umat Islam
Hubungan antara amal lahir dan iman batin
C. Kedudukan Hajar Aswad dalam Aqidah Islam
Islam melarang pengkultusan benda. Hajar Aswad dimuliakan karena:
Perintah Allah
Sunnah Rasulullah ﷺ
Sejarah kenabian
Bukan karena kekuatan gaib atau unsur mistis. Inilah perbedaan mendasar antara ta‘zhīm (penghormatan) dan ta‘būd (penyembahan).
D. Penutup
Hajar Aswad bukan sekadar batu, melainkan saksi sejarah tauhid, pengingat ketaatan Nabi Ibrahim AS, kebijaksanaan Rasulullah ﷺ, dan kesatuan umat Islam sepanjang zaman. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan pada benda, melainkan pada ketaatan kepada Allah SWT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar