M. Lutfil Khakim Bin Masduki Yunus
Dalam tradisi pesantren, seorang santri tidak hanya ditempa melalui ilmu dan ibadah, tetapi juga melalui pembinaan hati dan akhlak. Nilai inilah yang tampak kuat dalam diri seorang santri yang dikenal gemar menjalin silaturrahmi dan menjaga hatinya agar tetap bersih dari rasa dengki, iri, dan sakit hati. Sikap tersebut bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari proses panjang pendidikan jiwa, pengendalian diri, serta pemahaman mendalam tentang makna hidup dan persaudaraan.
Sejak awal menempuh kehidupan sebagai santri, ia dibiasakan untuk hidup bersama orang lain dengan berbagai latar belakang, karakter, dan kebiasaan. Dalam suasana seperti itu, perbedaan tidak dapat dihindari. Namun, ia memilih untuk menyikapinya dengan kelapangan dada. Baginya, menjaga hubungan baik jauh lebih penting daripada mempertahankan ego pribadi. Prinsip ini menjadikannya pribadi yang mudah bergaul dan diterima di berbagai lingkungan.
Kegemarannya dalam bersilaturrahmi tercermin dari kebiasaan menyambung hubungan, berkunjung, menyapa, dan menjaga komunikasi dengan keluarga, guru, sesama santri, serta masyarakat. Silaturrahmi tidak ia maknai sebatas kunjungan fisik, tetapi juga sebagai upaya menjaga perasaan, menghormati sesama, dan tidak memutus hubungan meskipun terdapat perbedaan pendapat. Ia meyakini bahwa silaturrahmi adalah amalan yang menghadirkan keberkahan umur, kelapangan rezeki, dan ketenangan batin.
Dalam pergaulan sehari-hari, santri ini dikenal sebagai pribadi yang tidak mudah tersinggung. Ia berusaha menjaga hati agar tidak dikuasai emosi sesaat. Ketika menghadapi ucapan atau perlakuan yang kurang berkenan, ia memilih diam, merenung, dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Sikap ini lahir dari keyakinan bahwa menyimpan sakit hati hanya akan memberatkan jiwa dan menghalangi keberkahan hidup.
Tidak pernah menyimpan sakit hati bukan berarti ia tidak pernah terluka, melainkan ia memilih untuk tidak membiarkan luka itu menetap di dalam hati. Ia belajar memaafkan, bukan karena orang lain selalu benar, tetapi karena memaafkan adalah bentuk kemenangan atas diri sendiri. Prinsip ini ia pegang sebagai bagian dari ajaran akhlak Islam yang menempatkan kebersihan hati sebagai pondasi keimanan.
Lingkungan pesantren mengajarkan bahwa hati adalah pusat amal. Ilmu yang tinggi tidak akan bermakna tanpa hati yang bersih. Pemahaman inilah yang membuat santri tersebut senantiasa berusaha menjaga niat, lisan, dan perbuatan. Ia menghindari ghibah, prasangka buruk, serta sikap yang dapat merusak ukhuwah. Dalam setiap interaksi, ia berupaya menghadirkan sikap rendah hati dan saling menghargai.
Kebiasaan menjaga silaturrahmi dan hati yang lapang menjadikan santri ini dicintai oleh banyak orang. Kehadirannya membawa rasa nyaman, tidak menimbulkan jarak, dan tidak menyisakan konflik. Ia tidak dikenal sebagai sosok yang banyak bicara, namun sikap dan perilakunya menjadi nasihat yang hidup. Keteladanan inilah yang membuatnya dihormati tanpa harus meminta penghormatan.
Dalam kehidupan yang terus berjalan, ia memahami bahwa manusia tidak lepas dari kesalahan, baik sengaja maupun tidak. Oleh karena itu, ia memilih jalan pemaafan sebagai cara menjaga kedamaian batin. Ia meyakini bahwa hati yang bersih adalah anugerah besar, dan menjaganya adalah bagian dari ibadah yang sering kali luput dari perhatian banyak orang.
Nilai silaturrahmi dan tidak menyimpan sakit hati juga menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan hati yang lapang, ia mampu berperan sebagai penyejuk di tengah perbedaan dan potensi konflik. Ia lebih memilih menyatukan daripada memisahkan, mendekatkan daripada menjauhkan. Sikap ini menjadikan dirinya pribadi yang membawa maslahat bagi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, santri yang gemar silaturrahmi dan tidak pernah menyimpan sakit hati adalah cerminan dari keberhasilan pendidikan akhlak. Ia menunjukkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada banyaknya ilmu atau panjangnya gelar, tetapi pada kemampuan menjaga hubungan dan membersihkan hati. Semoga sikap ini senantiasa terjaga, diberkahi oleh Allah SWT, dan menjadi teladan bagi generasi selanjutnya dalam membangun kehidupan yang damai, rukun, dan penuh keberkahan. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar