Suatu malam di Balai RW Kudu Genuk, rapat warga kembali digelar. Kursi plastik berderet rapi, meski ada dua yang kakinya goyang—warisan rapat sejak zaman belum banjir. Di luar, air selokan terdengar mengalir pelan, seperti ikut mendengarkan.
Pak RW membuka rapat dengan suara tenang, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita mulai. Agenda malam ini soal kebersihan lingkungan dan kesiapsiagaan banjir.”
Warga langsung fokus. Soal banjir memang bukan hal baru di Kudu Genuk, tapi selalu terasa baru datang setiap hujan turun.
Pak RT 04 angkat tangan, “Pak RW, got di wilayah saya sudah dibersihkan.”
“Alhamdulillah,” kata Pak RW.
“Tapi bersihnya hanya sampai hujan pertama, Pak. Hujan kedua, gotnya isi lagi. Bukan air, tapi sandal.”
Warga tertawa. Pak RW mengangguk pelan, sudah hafal siklusnya.
Giliran Pak RT 08 laporan, “Kalau di wilayah saya, warga sudah siap banjir, Pak.”
“Siap bagaimana maksudnya?” tanya Pak RW.
“Kasur sudah naik ke lemari, motor sudah parkir di rumah tetangga yang lantainya lebih tinggi, dan anak-anak sudah hafal: hujan deras berarti berenang gratis.”
Rapat makin cair. Masuk pembahasan ronda malam, Pak RW bertanya, “Ronda jalan?”
Pak RT 11 menjawab jujur, “Jalan, Pak. Tapi kadang rondanya pindah ke warung kopi. Alasannya, sekalian mengawasi wilayah dari kejauhan.”
Puncaknya saat iuran lingkungan dibahas. Pak RW bertanya dengan nada hati-hati, “Bagaimana kesadaran warga?”
Pak RT 07 tersenyum, “Kesadarannya tinggi, Pak. Pembayarannya yang masih rendah.”
Rapat ditutup dengan doa. Hujan belum turun, banjir belum datang, tapi tawa malam itu cukup menguatkan. Karena warga Kudu Genuk tahu, hidup di daerah rawan banjir memang berat, tapi kalau dijalani bareng-bareng, sambil tertawa, rasanya lebih ringan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar