Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā’ r.a.
(Putri Rasulullah ﷺ dan Pemimpin Perempuan Surga)
A. Nasab dan Kedudukan Mulia
Nama lengkap beliau adalah Fāṭimah binti Muḥammad bin ‘Abdullāh ﷺ, putri bungsu Rasulullah ﷺ dari Sayyidah Khadījah binti Khuwaylid r.a. Ia lahir di Makkah sekitar tahun 605 M dan tumbuh dalam lingkungan kenabian yang sarat wahyu, kesabaran, dan perjuangan.
Sayyidah Fāṭimah termasuk Ahlul Bait Rasulullah ﷺ, memiliki kedudukan istimewa baik dalam sejarah Islam maupun dalam ajaran Al-Qur’an dan Hadis.
B. Kehidupan Awal dan Kesabaran
Sejak kecil, Fāṭimah menyaksikan penderitaan dakwah Islam. Ia sering menemani Rasulullah ﷺ ketika beliau dicaci dan disakiti kaum Quraisy. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Fāṭimah membersihkan kotoran yang pernah dilemparkan ke punggung Nabi saat beliau shalat di sekitar Ka‘bah.
Rasulullah ﷺ menyebut Fāṭimah sebagai Ummu Abīhā (ibu bagi ayahnya), karena perhatiannya yang besar kepada Nabi ﷺ.
C. Fāṭimah dalam Al-Qur’an: Ahlul Bait yang Disucikan
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
(QS. al-Aḥzāb [33]: 33)
Para ulama tafsir menyebut bahwa ayat ini mencakup Rasulullah ﷺ, ‘Alī r.a., Fāṭimah r.a., Ḥasan dan Ḥusain r.a., sebagaimana ditegaskan dalam Hadis Kisa’.
D. Kedudukan dalam Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ sangat mencintai putrinya ini. Cinta tersebut bukan sekadar hubungan darah, melainkan juga pengakuan atas kemuliaan iman dan akhlaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Fāṭimah adalah bagian dariku. Barang siapa menyakitinya, maka ia telah menyakitiku.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Dalam hadis lain:
“Sesungguhnya Fāṭimah adalah pemimpin para perempuan penghuni surga.”
(HR. al-Tirmiżī)
Hadis-hadis ini menunjukkan posisi Fāṭimah yang sangat tinggi dalam Islam.
E. Pernikahan dengan ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a.
Sayyidah Fāṭimah menikah dengan ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a., sahabat dekat dan sepupu Rasulullah ﷺ. Pernikahan mereka dikenal sederhana namun penuh keberkahan.
Dari pernikahan ini lahir Ḥasan dan Ḥusain r.a., dua cucu Rasulullah ﷺ yang sangat dicintai Nabi ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ḥasan dan Ḥusain adalah dua pemimpin pemuda surga.”
(HR. al-Tirmiżī)
F. Keteladanan Zuhud dan Akhlak
Fāṭimah hidup dalam kesederhanaan. Ia bekerja keras di rumah, menggiling gandum hingga tangannya kasar. Ketika ia meminta pembantu, Rasulullah ﷺ mengajarkannya tasbih, tahmid, dan takbir sebagai kekuatan ruhani.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada seorang pembantu?”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati seorang mukmin adalah kedekatan dengan Allah.
G. Wafat dan Kerinduan kepada Rasulullah ﷺ
Sayyidah Fāṭimah r.a. wafat sekitar enam bulan setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Ia adalah anggota keluarga Nabi yang pertama menyusul beliau wafat, sebagaimana disampaikan Nabi ﷺ sendiri dalam sebuah bisikan.
Peristiwa ini menegaskan kedekatan ruhani Fāṭimah dengan Rasulullah ﷺ, hingga ia tak lama berpisah dengannya.
H. Warisan Spiritual dalam Islam
Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā’ r.a. meninggalkan warisan besar:
teladan kesabaran dan kesucian hati,
pengabdian kepada orang tua dan keluarga,
kesederhanaan dalam hidup,
serta peran strategis perempuan dalam menjaga nilai Islam.
Ia adalah simbol bahwa kemuliaan perempuan dalam Islam terletak pada iman, akhlak, dan pengorbanan, bukan kemewahan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar