Narasi Sejarah Lokal Kota Semarang
Jejak Peradaban, Dakwah, dan Perjuangan
1. Asal-usul Kota Semarang
Nama Semarang diyakini berasal dari kata “asem arang”, yaitu pohon asam yang tumbuh jarang-jarang di wilayah pesisir dan perbukitan. Wilayah ini sejak awal merupakan kawasan pertemuan antara laut, sungai, dan daratan, menjadikannya tempat strategis untuk perdagangan dan permukiman.
Sebelum menjadi kota besar, Semarang adalah bagian dari wilayah Kerajaan Demak, pusat dakwah Islam di Jawa pada abad ke-15–16. Daerah pesisir Semarang menjadi jalur penting penyebaran Islam oleh para ulama dan saudagar Muslim.
2. Semarang dalam Jalur Dakwah Islam
Perkembangan Islam di Semarang tidak terlepas dari peran Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga dan Sunan Pandanaran (Sunan Tembayat). Sunan Pandanaran diangkat sebagai bupati pertama Semarang oleh Kesultanan Demak, menandai awal pemerintahan Islam di wilayah ini.
Jejak dakwah Islam dapat dilihat dari:
Masjid Kauman Semarang – pusat dakwah dan pendidikan Islam awal
Kampung Melayu – kawasan saudagar Arab dan Muslim
Masjid Layur – masjid tua dengan menara khas sebagai penanda kawasan pelabuhan
Islam berkembang secara damai melalui perdagangan, budaya, dan keteladanan, berpadu dengan tradisi lokal.
3. Semarang sebagai Kota Pelabuhan dan Perdagangan
Letak strategis membuat Semarang berkembang menjadi kota pelabuhan penting sejak abad ke-17. Pedagang dari Arab, Gujarat, Tiongkok, dan Eropa berdatangan. Dari sinilah muncul kawasan:
Pecinan (perkampungan Tionghoa)
Kampung Arab dan Melayu
Kawasan Eropa (Kota Lama)
Akulturasi budaya membentuk karakter Semarang sebagai kota majemuk, toleran, dan kosmopolit.
4. Masa Kolonial dan Kota Lama
Pada masa Belanda, Semarang menjadi pusat administrasi dan ekonomi Hindia Belanda di Jawa Tengah. Bukti kuatnya tampak di Kota Lama Semarang, yang dibangun dengan gaya arsitektur Eropa.
Bangunan penting antara lain:
Gereja Blenduk (1753)
Gedung Marba
Lawang Sewu, kantor kereta api NIS
Semarang juga menjadi simpul transportasi darat dan laut yang menghubungkan hasil bumi dari pedalaman Jawa.
5. Perjuangan dan Semangat Nasionalisme
Semarang tidak hanya menjadi kota dagang, tetapi juga kota perjuangan. Puncaknya terjadi pada Pertempuran Lima Hari di Semarang (1945), ketika rakyat dan pemuda melawan pasukan Jepang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Monumen sejarah perjuangan antara lain:
Tugu Muda
Museum Mandala Bhakti
Lawang Sewu (sebagai saksi sejarah)
Peristiwa ini menegaskan peran Semarang dalam sejarah nasional Indonesia.
6. Warisan Budaya dan Rakyat
Sejarah Semarang hidup dalam budaya masyarakatnya:
Pasar Johar – pasar rakyat bersejarah karya arsitek Karsten
Kampung Batik Semarang
Kampung Bustaman – kampung tua dengan tradisi kuliner
Tradisi dugderan – menyambut Ramadan
Kuliner khas seperti lumpia, tahu gimbal, dan nasi ayam lahir dari pertemuan budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab.
7. Semarang Masa Kini: Kota Sejarah yang Terus Hidup
Kini, Semarang berkembang menjadi kota modern tanpa meninggalkan akar sejarahnya. Revitalisasi Kota Lama, pelestarian masjid tua, dan penguatan wisata sejarah menjadi bukti bahwa masa lalu bukan untuk dilupakan, tetapi dijadikan pondasi masa depan.
Penutup
Sejarah Kota Semarang adalah kisah tentang dakwah yang damai, perdagangan yang jujur, perjuangan yang berani, dan kebersamaan dalam keberagaman. Memahami sejarah lokal bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menanamkan nilai kebangsaan, toleransi, dan kearifan lokal kepada generasi penerus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar