K. Masduki bin Yunus: Jejak Sunyi Seorang Pendidik
Ia tidak datang dengan gemuruh nama,
melainkan dengan langkah pelan dan istiqamah.
Di Dukuh Ploso, Rejosari—
di antara anak-anak desa dan lantunan ayat suci,
ia menanam ilmu tanpa pernah menghitung hasil.
K. Masduki bin Yunus,
seorang guru Madrasah Diniyah,
pengajar Al-Qur’an,
dan khotib Jum’ah yang setia pada mimbar umat.
Kesederhanaan adalah pakaiannya,
keikhlasan adalah bahasa pengabdiannya.
Kepada anak-anak,
ia tidak memulai dari istilah yang tinggi,
melainkan dari kalimat iman yang paling dasar:
Islam agamaku, Allah Tuhanku,
Muhammad Nabiku, Al-Qur’an Kitabku.
Dari sanalah tauhid tumbuh,
pelan namun mengakar kuat.
Ilmu baginya bukan untuk disimpan,
melainkan untuk diturunkan.
Bukan untuk meninggikan diri,
tetapi untuk memuliakan manusia.
Ia mengajar bukan agar dikenang,
melainkan agar kebenaran tetap hidup.
Jejaknya mungkin sunyi,
namun tertanam dalam kehidupan banyak orang.
Dalam bacaan shalat yang lurus,
dalam adab yang terjaga,
dalam iman yang diwariskan lintas generasi.
Nama K. Masduki bin Yunus
adalah kisah tentang pendidik desa
yang setia menjaga cahaya ilmu,
agar tidak padam di tengah zaman yang terus berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar