Jiwa yang Kembali dengan Ridho dan Diridhoi Allah
1. Konsep Jiwa yang Kembali
Jiwa manusia bukan sekadar jasad, tetapi ruh yang terus-menerus mencari kedamaian dan kebahagiaan sejati.
Jiwa yang kembali kepada Allah adalah jiwa yang tidak gelisah, tidak tersesat, dan kembali pada fitrah penciptaannya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai jiwa yang tenang (an-nafs al-muṭma’innah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Ayat ini menunjukkan tujuan tertinggi manusia: pulang kepada Allah dengan keridhaan dan diterima-Nya.
2. Ridho sebagai Tujuan Jiwa
Ridho Allah adalah kedamaian abadi bagi hati yang bersih.
Ridho tidak hanya diperoleh di akhirat, tetapi mulai dibangun sejak dunia melalui:
Tawakkal – menyerahkan urusan pada Allah
Syukur – menerima nikmat dan musibah dengan lapang
Ikhlas – setiap amal hanya untuk Allah
Sabar – menghadapi ujian tanpa keluh kesah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa ridha dengan ketentuan Allah, maka Allah pun ridha kepadanya.”
(HR. Tirmidzi)
3. Jiwa yang Diridhoi: Hakikat Syafaat dan Pertolongan
Jiwa yang kembali dengan ridho akan mendapat syafaat Nabi Muhammad ﷺ di akhirat. Syafaat adalah rahmat Allah yang diturunkan melalui Nabi-Nya kepada umat yang taat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Syafaatku bagi umatku yang berdosa besar, dengan izin Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Dengan kata lain:
Jiwa yang ridho → siap menerima pertolongan dan syafaat
Jiwa yang derhaka → terpisah dari kedamaian dan pertolongan
4. Pulang dengan Ridho dan Kedamaian
Jiwa yang kembali kepada Allah dengan ridho berarti selesai dari semua urusan duniawi dan diterima dalam keadaan:
Hati tenang
Jiwa damai
Amalan diterima
Kesalahan diampuni
Ini adalah kesempurnaan perjalanan manusia, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama:
“Ridho Allah adalah harta paling berharga, lebih tinggi dari surga itu sendiri.”
5. Jalan Menuju Ridho Allah
Beberapa langkah yang menuntun jiwa pulang dalam ridho:
Ikhlas beribadah tanpa pamrih
Bertawakkal dan menyerahkan hasil
Memperbaiki hubungan dengan sesama manusia
Membaca Al-Qur’an dan dzikir hati
Beramal sholeh yang istiqamah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada seorang hamba pun yang kembali kepada Allah dengan ridho kecuali Allah juga ridha kepadanya dan menempatkannya dalam surga-Nya.”
(HR. Ahmad)
6. Tasawuf: Jiwa yang Tenang dalam Ridho
Para sufi menekankan bahwa ridho bukan pasif. Ia adalah puncak kesadaran hati:
Dunia tidak mengikat
Hati tidak terguncang oleh nafsu atau emosi
Jiwa sepenuhnya berserah kepada kehendak Allah
Imam Al-Ghazali berkata:
“Ridho Allah adalah nafas jiwa. Tanpa ridho, hidup adalah gelisah.”
7. Ciri-ciri Jiwa yang Kembali dengan Ridho
Tenang dalam segala keadaan
Bersyukur saat lapang, sabar saat sempit
Tidak terguncang oleh pujian atau celaan
Selalu berharap syafaat Nabi ﷺ
Tidak takut menghadapi kematian karena yakin Allah ridha
8. Penutup
Jiwa yang kembali dengan ridho dan diridhai Allah adalah puncak kehidupan manusia.
Ia adalah:
Hati yang damai
Jiwa yang selamat
Amal yang diterima
Akhir yang mulia
Semoga Allah menjadikan kita termasuk an-nafs al-muṭma’innah yang kembali dalam ridho dan diridhai-Nya, dikumpulkan dengan Nabi Muhammad ﷺ, para salafussholeh, dan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar