Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Senin, 12 Januari 2026

Asal-usul Sanad Dalā’il al-Khayrāt

Sanad Dalā’il al-Khayrāt adalah rantai transmisi (ijazah) dari Imam Abu Abdullah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli—penyusun kitab ini—yang diteruskan oleh para ulama sufi hingga sampai ke Nusantara. Keistimewaannya, sanad ini menjaga otentisitas bacaan shalawat, memastikan keterhubungan spiritual antara pembaca dengan penulis dan Rasulullah ﷺ.


🕌 Asal-usul Sanad Dalā’il al-Khayrāt

  • Pengarang: Imam Abu Abdullah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli (w. 870 H/1465 M), seorang sufi besar dari Maroko.
  • Kitab: Dalā’il al-Khayrāt wa Shawāriqu al-Anwār fī Dhikr al-Shalāt ‘ala al-Nabiyy al-Mukhtār, berisi kumpulan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
  • Sanad awal: Imam al-Jazuli menerima inspirasi shalawat ini dari pengalaman spiritual dan tradisi sufi Syadziliyah.

🌟 Rantai Sanad Utama

Sanad Dalā’il al-Khayrāt biasanya disebut dalam tawasul sebelum membaca kitab. Rantai sanad yang umum di pesantren Nusantara adalah:

  1. Imam al-Jazuli – Penulis kitab Dalā’il al-Khayrāt.
  2. Syekh Abdul Qadir al-Jailani – Wali besar Baghdad, sering disebut dalam tawasul bersama Imam al-Jazuli.
  3. Para imam mazhab empat – Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi‘i, Imam Ahmad bin Hanbal.
  4. Ulama Haramain – Sanad diteruskan melalui ulama Makkah dan Madinah.
  5. Ulama Nusantara – Dibawa oleh ulama Jawa seperti KH. Sholeh Darat (Semarang), KH. Yasin Jekulo Kudus, KH. Ahmad Basyir Kudus, dan lainnya.

📖 Contoh Tawasul Sanad Dalā’il al-Khayrāt

Dalam tradisi pesantren, sebelum membaca Dalā’il, biasanya dibacakan tawasul:

  • Kepada Nabi Muhammad ﷺ dan keluarganya.
  • Kepada Imam al-Jazuli (pengarang kitab).
  • Kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  • Kepada para imam mazhab.
  • Kepada guru-guru yang memberi ijazah bacaan Dalā’il.

Hal ini menegaskan bahwa bacaan shalawat bukan sekadar teks, tetapi amalan yang bersanad.


🌟 Keistimewaan Sanad Dalā’il al-Khayrāt

  • Menjaga otentisitas: Membaca Dalā’il dengan ijazah memastikan keterhubungan dengan Imam al-Jazuli.
  • Keberkahan sanad: Sanad menghubungkan pembaca dengan para ulama dan Rasulullah ﷺ.
  • Tradisi pesantren: Di Jawa, ijazah Dalā’il menjadi salah satu amalan utama yang diwariskan dari kiai ke santri.
  • Kekuatan spiritual: Diyakini membawa ketenangan, perlindungan, dan keberkahan hidup.

📊 Ringkasan

Aspek Penjelasan
Pengarang Imam al-Jazuli (Maroko, w. 1465 M)
Rantai sanad Nabi Muhammad ﷺ → Imam al-Jazuli → Syekh Abdul Qadir Jailani → Imam Mazhab → Ulama Haramain → Ulama Nusantara
Tradisi Nusantara Diteruskan oleh KH. Sholeh Darat, KH. Yasin Jekulo, KH. Ahmad Basyir Kudus
Keistimewaan Menjaga otentisitas, membawa keberkahan, memperkuat cinta Rasulullah ﷺ

🎯 Kesimpulan

Sanad Dalā’il al-Khayrāt adalah rantai ijazah yang menghubungkan pembaca dengan Imam al-Jazuli dan Rasulullah ﷺ. Keistimewaannya terletak pada keberkahan sanad, otentisitas bacaan, dan tradisi pesantren Nusantara yang menjadikannya amalan utama dalam haul, pengajian, dan tirakat.

Sources: NU Online – Wirid Dalā’il al-Khayrāt; IMMIM Pangkep – Sanad Dalā’il al-Khayrāt di Nusantara; Dalailalkhayrat.com – Introduction & Benefits

Tidak ada komentar:

Posting Komentar