Rindu kepada Ka’bah, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi adalah rindu yang tumbuh dari iman. Setiap muslim yang pernah menatapnya, atau bahkan yang baru membayangkannya, pasti merasakan getaran yang berbeda di hati. Tanah Haramain bukan sekadar tempat, melainkan pusat kerinduan ruhani, tempat doa-doa dipanjatkan dengan air mata, dan tempat hati merasa pulang kepada Allah. Kerinduan itu kadang hadir di sepertiga malam, saat nama Makkah dan Madinah terlintas dalam doa.
Kerinduan itu pula yang ingin aku gantungkan dalam doa untuk keluargaku: Ibu Mahmudah binti Zaenuri, Abah Lasiman bin Yasir, dan Umi Suharti binti Muhiyak. Semoga Allah memberi kesempatan langkah mereka menjejak pelataran Masjidil Haram, memandang Ka’bah dengan mata yang basah oleh syukur, dan bershalawat di Raudhah Masjid Nabawi dengan hati penuh cinta kepada Rasulullah ﷺ. Semoga setiap rindu mereka dicatat sebagai doa yang kelak Allah ijabahi.
Untuk istriku tercinta Inarotul Ulya, dan anak-anakku I’anatul Auliya, Zuyinatus Syifa’iyah, serta Ahmad Ashiful Baroya, kerinduan ke Haramain semoga menjadi warisan iman dalam keluarga kami. Semoga mereka tumbuh dengan cinta kepada Makkah dan Madinah, rindu pada adzan Masjidil Haram, dan rindu pada shalawat di Masjid Nabawi. Ya Allah, panggil kami sekeluarga menjadi tamu-Mu, berkumpul di depan Ka’bah dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan.
Kerinduan ini juga kuhadiahkan doa untuk para almarhum: Alm. K. Masduki bin Yunus, alm. M. Lutfil Khakim bin Masduki, dan alm. Abdul Khalim bin Masduki. Semoga Allah menghadiahkan pahala ziarah dan shalawat kami kepada mereka, melapangkan kubur mereka, menerangi alam barzakh mereka, dan mengumpulkan mereka kelak di surga bersama orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ. Rindu Haramain semoga menjadi wasilah rahmat bagi mereka.
Dan untuk saudara-saudaraku semuanya, semoga Allah tanamkan rindu yang sama di hati kita. Rindu yang menggerakkan doa, rindu yang mendorong amal, rindu yang mendekatkan kepada Allah. Semoga suatu hari Allah mempertemukan kami di tanah Haramain, atau jika tidak di dunia, maka di surga-Nya kelak. Karena sejatinya rindu ke Haramain adalah rindu untuk lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. 🤍
Tidak ada komentar:
Posting Komentar