K. Muhammad Salim bin K. Abdul Aziz: Ulama Kampung Penjaga Tradisi Ilmu dan Dakwah di Rejosari–Karangawen
A. Identitas dan Latar Belakang Keluarga
K. Muhammad Salim bin K. Abdul Aziz merupakan salah satu ulama kharismatik yang memiliki pengaruh kuat bagi masyarakat di wilayah Ploso Rejosari Karangawen dan sekitarnya. Beliau lahir dari keluarga religius yang dikenal menjaga tradisi keilmuan Islam dan kehidupan santri.
Sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan yang agamis. Didikan ayahandanya, K. Abdul Aziz, membentuk karakter beliau sebagai pribadi yang sederhana, tekun beribadah, dan mencintai ilmu agama. Masa kecil beliau diwarnai dengan kegiatan mengaji Al-Qur’an, belajar dasar-dasar agama, serta berkhidmah kepada orang tua dan guru.
Memasuki usia remaja dan dewasa, beliau semakin dikenal sebagai sosok yang gemar menuntut ilmu, menjaga adab, serta memiliki semangat dakwah. Hingga masa tuanya, beliau tetap aktif membimbing umat.
Menurut Penuturan K. Nur Muhammad (Semarang) K. Maskur Damanhuri ( Karang Pacing Rejosari) dan K. Masruron ( Tlogorejo Tegowanu) Kiai Muhammad Salim Meninggal Kamis, 2 Ramadhan 1391 H/21 Oktober 1971. Beliau wafat lebih dari 56 tahun yang lalu dan hingga kini haulnya masih rutin diselenggarakan, menandakan pengaruh dan kecintaan masyarakat yang terus hidup.
B. Riwayat Pendidikan dan Sanad Keilmuan
Sebagaimana tradisi ulama Jawa pada masanya, K. Muhammad Salim menempuh pendidikan agama melalui sistem ngaji pesantren dan talaqqi kepada para kiai. Beliau belajar Al-Qur’an, fikih, tauhid, dan tasawuf dari para ulama di wilayah Demak–Semarang dan sekitarnya (data rinci nama guru dan lama belajar dapat ditambahkan dari hasil wawancara keluarga/santri).
Sanad keilmuan beliau bersambung melalui jalur pesantren tradisional Ahlussunnah wal Jama’ah yang menekankan:
Fikih madzhab Syafi’i
Aqidah Asy’ari–Maturidi
Tasawuf akhlaki ala ulama salaf
Model pendidikan ini membentuk beliau menjadi ulama yang moderat, bijak, dan dekat dengan masyarakat.
C. Bidang Keahlian
Keilmuan yang melekat pada diri beliau antara lain:
Ilmu Fikih ibadah dan muamalah
Pengajaran Al-Qur’an dan dasar-dasar agama
Pembinaan akhlak dan spiritualitas masyarakat
Tradisi tahlil, dzikir, dan amaliyah Aswaja
Beliau dikenal bukan sebagai ulama panggung, tetapi ulama pembina umat di tingkat akar rumput.
D. Domisili dan Kondisi Sosial Masyarakat
Beliau berdomisili di wilayah Ploso Rejosari Karangawen, sebuah lingkungan masyarakat religius dengan tradisi Islam yang kuat. Pada masa beliau hidup, masyarakat masih sangat bergantung pada peran kiai sebagai rujukan:
Persoalan agama
Nasihat keluarga
Penyelesaian konflik sosial
Bimbingan spiritual
Dalam kondisi sosial-ekonomi masyarakat desa yang sederhana, kehadiran beliau menjadi penopang moral dan spiritual.
E. Peran Dakwah di Masyarakat
Kontribusi dakwah beliau antara lain:
Membina pengajian rutin masyarakat
Mengajar santri dan anak-anak membaca Al-Qur’an
Membimbing amaliyah keagamaan masyarakat
Menjadi rujukan keagamaan warga
Rumah beliau sering menjadi tempat mengaji dan musyawarah. Dakwah beliau dilakukan dengan pendekatan lembut dan keteladanan, bukan dengan konfrontasi.
F. Patriotisme dan Nasionalisme
Sebagaimana ulama kampung pada masanya, bentuk nasionalisme beliau diwujudkan dalam:
Menjaga kerukunan umat
Menguatkan moral masyarakat
Mendukung stabilitas sosial desa
Menanamkan cinta agama dan tanah air
Nilai-nilai ini sejalan dengan tradisi ulama Nusantara yang memadukan Islam dan kebangsaan.
G. Kelebihan dan Karomah (Dalam Perspektif Masyarakat)
Dalam pandangan masyarakat, beliau dikenal sebagai:
Pribadi istiqamah ibadah
Doanya sering dimintakan oleh warga
Sosok yang menenangkan saat memberi nasihat
Hidup sederhana dan wara’
Catatan karomah lebih tepat digali melalui wawancara lisan dari murid dan keluarga.
H. Peninggalan yang Masih Ada
Beberapa peninggalan yang masih dapat disaksikan:
Makam beliau di wilayah Ploso Rejosari yang rutin diziarahi
Masjid Jami' Baiturrohman Alfalasy (Ploso)
Tradisi haul tahunan yang dihadiri ribuan jamaah
Santri dan keturunan yang meneruskan nilai-nilai beliau
Tradisi pengajian masyarakat yang beliau rintis
Haul beliau menjadi bukti bahwa pengaruh spiritualnya tetap hidup.
I. Kekhasan Sosok
Kekhasan K. Muhammad Salim adalah:
Dakwah sunyi tapi berdampak luas
Tidak mengejar popularitas
Fokus pada pembinaan umat
Mengajarkan agama dengan teladan hidup
Beliau mewakili tipologi ulama kampung penjaga tradisi Islam Nusantara.
J. Metode Penulisan dan Sumber Data (Menyesuaikan Program)
Tulisan ini dapat dikembangkan melalui:
1. Heuristik
Ziarah makam
Dokumentasi haul
Arsip keluarga
Wawancara dzurriyah dan santri
2. Verifikasi
Mencocokkan cerita lisan
Validasi tahun dan peristiwa
3. Interpretasi
Memahami peran beliau dalam konteks masyarakat desa
4. Historiografi
Menyusun narasi biografi sistematis
Penutup
K. Muhammad Salim bin K. Abdul Aziz adalah contoh nyata ulama Nusantara yang mengabdikan hidupnya untuk umat tanpa mencari ketenaran. Warisan beliau bukan berupa bangunan megah, tetapi ilmu, akhlak, dan tradisi keagamaan yang terus hidup.
Haul yang rutin diselenggarakan Setiap tanggal 20 Sya'ban (Ruwah) menjadi bukti bahwa jasa beliau tidak dilupakan masyarakat.
Al-Fatihah untuk beliau.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar