Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Selasa, 10 Februari 2026

Di balik perjalanan nyantri di PP. Darul Hikam

 Di balik perjalanan nyantri, tidak semua kisah berisi kemudahan dan kenangan indah. Ada pula peristiwa yang terasa berat, bahkan membekas di hati. Namun dalam tradisi pesantren, setiap kejadian diyakini memiliki hikmah dan sababiyah keberkahan. Begitu pula yang pernah saya alami di PP. Darul Hikam Curug.

Kegiatan sehari-hari saya selain khidmah di ndalem adalah menjadi muadzin (tidak muadzin 5 waktu)masjid pondok. Tugas itu saya jalani dengan penuh tanggung jawab. Setiap adzan saya niatkan sebagai panggilan ibadah, sekaligus latihan menjaga keikhlasan.

Pada masa itu, kebiasaan di masjid setelah adzan biasanya langsung menunggu iqamah tanpa pujian atau sholawatan. Namun dengan niat menghidupkan syiar, setelah adzan saya isi dengan pujian dan sholawat. Harapannya agar suasana masjid lebih hidup dan hati para jamaah tergerak untuk berdzikir.

Hari itu, waktu Dhuhur telah tiba. Seperti biasa saya mengambil air wudhu, lalu naik untuk adzan. Setelah adzan selesai, saya melantunkan pujian sebagaimana kebiasaan yang sudah saya mulai.

Kebiasaan Mbah Yai adalah melaksanakan sholat sunnah qabliyah Dhuhur terlebih dahulu sebelum jamaah. Namun saat itu, entah karena kurangnya pemahaman atau terburu waktu, saya langsung mengumandangkan iqamah.

Ternyata Mbah Yai baru saja memasuki masjid dan hendak melaksanakan qabliyah. Melihat iqamah sudah dikumandangkan, beliau menunjukkan ketidaksenangan. Dalam spontanitas seorang guru yang sedang mendidik santri, beliau menegur dengan keras.

Saya pun terkena sabetan serban beliau. Bagi sebagian orang mungkin itu menyakitkan, tetapi di dunia pesantren, itu sering dimaknai sebagai bentuk ta’dib (pendidikan adab). Saat itu hati saya terkejut, malu, dan merasa bersalah.

Namun seiring waktu, saya memahami bahwa kejadian itu menjadi pelajaran besar tentang adab, ketepatan melihat situasi, dan memahami kebiasaan guru. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga kepekaan dan tata krama.

Kini peristiwa itu menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Bukan sebagai luka, tetapi sebagai pengingat bahwa jalan mencari ilmu penuh ujian. Saya justru berharap kejadian itu menjadi sababiyah turunnya berkah ilmu dan ridha guru.

Dengan penuh hormat dan doa, semoga Mbah Yai mendapatkan nikmat dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Aamiin. Dan semoga saya dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa, menjadikannya bekal untuk hidup yang lebih tawadhu’ dan berhati-hati dalam berkhidmah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar