**Kisah Perjalanan Nyantri di Kota Santri
(Kaliwungu Kendal, 1997–2004)**
Perjalanan hidup sering kali dimulai dari langkah kecil yang penuh keberanian. Tahun 1997 menjadi awal kisah saya menapaki dunia pesantren di Kota Santri, Kaliwungu Kendal, Jawa Tengah. Saat itu saya baru saja lulus dari MTs Nurul Huda Tegowanu. Keinginan untuk melanjutkan mondok muncul, dan jalan itu terbuka melalui ajakan sepupu saya, Moch. Sodiq Maksum.
Dengan izin kedua orang tua, meski berat hati mereka melepas, saya berangkat menuju Kaliwungu. Kondisi ekonomi keluarga saat itu sederhana. Ongkos dan bekal sangat terbatas. Namun tekad untuk mencari ilmu lebih besar daripada kekhawatiran akan kesulitan hidup di perantauan. Dengan doa orang tua, saya menapakkan kaki di Kaliwungu dan tinggal di PP. ATIM Sekopek Sarirejo.
Hari-hari awal di pondok bukanlah masa yang mudah. Seorang santri perantau harus pandai bertahan hidup. Yang pertama saya pikirkan bukan kenyamanan, melainkan pekerjaan agar bisa makan dan tetap mondok. Saya mulai dengan blongsongi marning dan kedelai goreng. Dari situlah saya belajar bahwa santri tidak hanya belajar kitab, tetapi juga belajar mandiri.
Memasuki bulan Syawal, saya mendaftarkan diri di Sekolah Persiapan Madrasah Salafiyah Miftahul Hidayah (MSMH), bagian dari lingkungan salaf PP. APIK Kauman yang diasuh oleh KH. Imron Humaidulloh Irfan. Di sana saya mulai merasakan kehidupan santri yang lebih tertata antara ngaji dan sekolah.
Namun perjalanan hidup tak selalu lurus. Setelah satu tahun, saya pindah ke MIM di selatan Masjid Kauman Kaliwungu, menyesuaikan kondisi dan kemampuan diri. Perpindahan itu bukan kemunduran, melainkan ikhtiar agar tetap bisa belajar dalam keterbatasan.
Rutinitas harian di Kaliwungu sangat padat. Ba’da Subuh saya ngaji dengan Lurah Pondok, Kang Sahri dari Batang. Pagi hari sekitar jam 08.00 berangkat sekolah dengan berjalan kaki dari Sekopek menuju Kauman. Jarak itu ditempuh dengan langkah ringan meski kadang perut belum terisi penuh. Bagi santri, niat belajar membuat lelah terasa ringan.
Ba’da Dhuhur diisi dengan bekerja. Sore hingga malam kembali ke majelis ilmu. Ba’da Maghrib sampai ba’da Isya’ saya ngaji Al-Qur’an kepada almarhum KH. Slamet Qomaruddin, AH, putra dari Kyai Badawi Abdurrosid. Suasana ngaji penuh ketenangan. Bacaan Al-Qur’an menjadi penyejuk di tengah kerasnya perjuangan hidup.
Setiap bulan ada panin kitab, mengaji hingga khatam beberapa kitab. Dari situ saya belajar kesabaran dalam menuntut ilmu. Kitab demi kitab dibaca, dimaknai, dan dijelaskan. Tradisi itu menanamkan kecintaan terhadap ilmu agama yang mendalam.
Untuk bertahan hidup, berbagai pekerjaan saya jalani. Pernah nglongsong marning dan kedelai. Pernah bekerja membuat palet dan menjaga titipan sepeda di Cangkring Brangsong Kendal. Saya juga berjualan permen sachet seperti Hexos, Nano-nano, dan Kopiko. Pernah pula jualan rokok, aqua, dan minuman lainnya.
Pengalaman paling menantang adalah menjadi asongan di bus, menjual pepaya, semangka, melon, dan kacang bungkus. Keluar masuk bus, menawarkan dagangan kepada penumpang, kadang ditolak, kadang mendapat rezeki. Semua itu menempa mental dan mengajarkan tawakal.
Pekerjaan terakhir yang cukup lama (1 Tahun) saya jalani di Sekopek adalah membantu menggoreng tahu di tempat Mbak Aspiah. Dari dapur sederhana itu saya belajar bahwa rezeki datang dari kerja keras dan kejujuran. Tidak ada pekerjaan hina selama itu halal.
Tahun-tahun di Kaliwungu menjadi madrasah kehidupan. Kota Santri bukan hanya tempat belajar agama, tetapi tempat menempa mental, kemandirian, dan kesabaran. Dari jalan kaki ke sekolah, berdagang kecil-kecilan, hingga mengaji di malam hari—semua membentuk karakter.
Kini jika menoleh ke belakang, perjalanan 1997–2004 itu terasa seperti rangkaian ujian sekaligus nikmat. Berat dijalani, indah dikenang. Dari Kaliwungu saya belajar bahwa ilmu tidak selalu dibayar dengan uang, tetapi dengan perjuangan, keringat, dan doa.
Kota Santri telah menjadi bagian dari sejarah hidup saya. Jejaknya tertinggal di hati. Semoga semua guru yang telah mengajar, semua orang yang pernah membantu, dan semua tempat yang menjadi saksi perjuangan mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar