Assalamu 'alaikum wr.wb

Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.

“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.

(John Quincy Adams)

Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…

Selasa, 10 Februari 2026

Cerita Sang Alumni PP. Darul Hikam Curug tegowanu


Awal Perjalanan dan Panggilan Hati

Tahun-tahun itu menjadi penanda perjalanan hidup yang tak mudah dilupakan. Periode 2007–2010 di PP. Darul Hikam Curug Tegowanu Grobogan bukan sekadar masa mondok, tetapi masa pembentukan jiwa. Ada kisah panjang yang tak semuanya dapat diungkapkan dengan kata-kata, karena sebagian hanya bisa dirasakan oleh hati yang pernah menjalaninya.

Awal mula langkah itu bukan lahir dari rencana besar, melainkan dari nasihat seorang guru mulia, almarhum al-mukarrom Romo KH. Baidlowi Syamsuri Brabo. Seusai ngaji Posonan di PP. Sirojuttolibin Brabo, beliau memberi petunjuk agar melanjutkan nyantri ke Darul Hikam Curug. Nasihat itu diterima sebagai isyarah, bukan sekadar saran. Bagi santri, dawuh guru adalah arah jalan.

Dengan niat sederhana namun kuat, selepas bulan Syawal 2007, langkah kaki menuju Curug dimulai. Sowan ke Ndalem KH. Abdul Jalil Hasyim dilakukan dengan penuh takzim. Niatnya satu: ingin nyantri. Bekal lahir nyaris tak ada, hanya “cengkir” — kencenge pikir, tekad bulat yang menguatkan hati.

Tidak ada bayangan kemudahan, yang ada hanya keyakinan bahwa siapa yang berjalan menuju ilmu, Allah akan membukakan jalan.

Hidup dalam Keterbatasan

Hari-hari awal di pondok mengajarkan arti hidup sederhana. Tidak semua santri datang dengan bekal cukup. Ketika kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan, musyawarah dengan pengurus pondok menjadi titik penting. Dari situlah muncul jalan pengabdian.

Keputusan diambil: ikut ngabdi di Ndalem Agus Lutfil Khakim, putra pertama KH. Abdul Jalil Hasyim. Bukan pekerjaan ringan, tetapi justru di situlah pelajaran kehidupan dimulai.

Setiap pagi dimulai dengan mencuci pakaian, membantu memasak, dan kulakan gorengan. Aktivitas sederhana itu dilakukan dengan niat khidmah. Setelah itu berangkat sekolah Madin Salaf pagi di Madrasah Salafiyah Curug.

Tidak ada keluhan, karena setiap lelah diyakini bernilai ibadah. Hidup santri bukan soal kenyamanan, tapi keberkahan.

Ritme Kehidupan Santri

Selepas ba’da dhuhur, perjalanan belum selesai. Sawah menjadi bagian dari rutinitas. Kadang sore, kadang hingga malam, tetap membantu ndalem. Di sela-sela itu, ngaji tetap menjadi inti kehidupan.

Tiga tahun berjalan dalam ritme yang hampir sama. Bangun sebelum fajar, bekerja, belajar, mengaji, lalu mengulanginya lagi esok hari. Tidak ada kemewahan, tidak ada kelonggaran, tetapi ada ketenangan.

Di PP. Darul Hikam, ada dua kamar yang menjadi saksi perjalanan. Satu kamar pondok tempat berbaur dengan santri lain. Satu lagi kamar ndalem, di sebelah timurnya Agus Baihaqi. Dua ruang itu bukan sekadar tempat tidur, tetapi ruang pembentukan mental, kesabaran, dan keikhlasan.

Pelajaran yang Tak Tertulis

Pesantren tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi kehidupan. Dari khidmah dipelajari tawadhu’. Dari keterbatasan dipelajari syukur. Dari lelah dipelajari sabar.

Banyak hal yang tidak bisa diceritakan secara rinci, bukan karena dilupakan, tetapi karena terlalu dalam untuk diungkapkan. Ada ujian batin, ada pergulatan hati, ada momen jatuh bangun iman.

Namun satu yang pasti, semua itu menempa diri. Pesantren membentuk cara pandang hidup: bahwa kemuliaan bukan pada harta, tetapi pada adab dan ilmu.

Jejak yang Terus Hidup

Kini, masa itu telah berlalu, tetapi jejaknya tetap hidup. PP. Darul Hikam Curug bukan hanya tempat belajar, melainkan tempat menempa diri. Guru-guru, ndalem, sawah, madrasah, dan kamar-kamar sederhana menjadi saksi perjalanan seorang santri yang datang tanpa bekal, tetapi pulang membawa nilai hidup.

Nasihat KH. Baidlowi Syamsuri Brabo terbukti menjadi pembuka jalan. KH. Abdul Jalil Hasyim dan keluarga ndalem menjadi bagian dari proses pembelajaran kehidupan. Semua terangkai dalam takdir yang indah.

Pada akhirnya, perjalanan nyantri bukan soal berapa lama tinggal, tetapi bagaimana nilai pesantren hidup dalam diri. Apa yang ditanam di masa itu semoga menjadi amal jariyah, menjadi cahaya dalam langkah kehidupan.

Dan kisah ini, meski tak semua terucap, tetap hidup dalam doa dan rasa syukur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar