Awal mula menuntut ilmu, diam. Yang kedua, mendengar dengan tekun. Yang ketiga, faham dan hafal. Yang keempat, mengamalkannya. dan yang kelima, menyebar luaskannya.
Sebagian orang mengatakan kesempatan hanya datang sekali, itu tidak benar. Kesempatan itu selalu datang,
Tapi Anda harus siap menanggapinya.
Lebih baik menjaga mulut tetap tertutup dan biarkan orang lain menganggap anda bodoh, dari pada membuka mulut dan menegaskan semua anggapan mereka.
Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tapi jika kita tidak kehilangan semangat.
Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan dan keamanan, Semua yang di mulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu.
Kita harus saling memaafkan dan kemudian melupakan apa yang telah kita maafkan.
dalam menghadapi perubahan dan untuk jadi manusia unggul ada satu jalan yang harus kita lakukan
اذا تاملت هذه الرسالة علمت انها خلصة عمر وزبدة دهر حوى من المباحث المهمات واعان عند نزول الملمات وانار مشكلات لمسائل المدلهمات " Ketika kamu merenungkan catatanku ini niscaya akan tau, catatan ini merupakan inti sari karya seumur dan rangkuman ilmu sepanjang masa berisikan bahasan - bahasan penting, memberikan solusi ketika muncul masalah yang mendera dan akan menerangi lorong -lorong masalah yang gelap."
Assalamu 'alaikum wr.wb
Assalamu alaikum Wr.Wb , Selamat Datang. Terima kasih telah Mengunjungi Blog ini, Semoga ada manfaatnya bagi diri pribadi dan pembaca, amien.
Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…
“Jika tindakan Anda memberi INSPIRASI bagi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih, dan MENJADI LEBIH, Anda adalah seorang LEADER”.
(John Quincy Adams)
Kepada pengunjung yang ingin “Meng-copas” atau Men-Share tulisan yang ada di blog ini dipersilahkan.Selamat Menikmati dan Jangan Lupa Untuk meninggalkan jejak DI SINI Ya…
Jumat, 23 Maret 2012
Kaum Intelektual yang sholeh
Kesempurnaan pribadi nerupakan tujuan hakiki
umat manusia pada umumnya. Karena manusia yang kaffah yaitu manusia di
dalam keyakinannya tak luntur oleh gejolak jiwa dunia, selalu memegang
teguh pendirianya pada agama Islam. Manusia sempurna (insan kamil),
dapat tercapai jika ia selalu bertakwa kepada Allah dengan
seyakin-yakinnya takwa dan matipun dalam keadaan beriman kepada Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran Ayat 120)
Orang yang beriman mereka yang benar-benar menjalankan semua perintah dan menjahui segala yang di larang serta ia mampu mewujudkan keyakinannya dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang ma’ruf, karena orang-orang yang beruntung adalah mereka yang mengerjakan amal salih.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. (Al Bayyinah Ayat 7)
Iman berarti berkeyakinan diri dari dalam hati bahwa di dalam kekuatan batin dan jiwanya mengakui Tuhan yang satu, mengucapkan dalam lisan dan mampu mempertanggung jawabkan semua keyakinannya hanya untuk Tuhan yang esa serta mengamalkannya. Dalam menjalankan perbuatan disegala hal yang ia lakukan berkeyakinan bahwa setiap desah nafas dan langkah kaki ada yang mengatur dan dari iman itu bahwa ia selalu di awasi oleh Allah yang maha melihat dan mendengar.
Sesungguhnya iman merupakan prinsip dasar bagi seseorang tak ada yang mendefinisikannya secara benar. Kalau merujuk dari al Qur’an kata iman selalu di persandingkan dengan kata lain semisal: beriman kepada Allah dan hari akhir, berbuat kebaikan, mencegah perbuatan mungkar, beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para nabi, berzakat, mendirikan sholat, menepati janji dll. Mereka itulah yang di sebut orang-orang yang beriman.
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. (Al Baqarah Ayat 3)
Kesalehan berasal dari kata “Salih” mempunyai arti hal yang baik atau bagus lawan kata dari “fasad” (buruk atau rusak). Menurut pakar linguistik dari Jepang Toshihiko Izutsu, meyatakan hubungan sematik yang menyatukan antara salih dan iman selalu bersama sama dan tak terpisahkan, jadi salih adalah keimanan yang sepenuhnya terwujud dalam perilaku dan sikap lahir dan batin. Jadi pada dasarnya ketika seseorang melaksanakan keyakinannya yang di perintahkan Ilahi Rabbi berarti patut disebut orang yang salih.
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula)”. (Al An’aam Ayat 158)
Intelektual menurut Gramsci dalam bukunya “Selection From Prison Notebook” (1978) adalah semua manusia adalah intelektual akan tetapi tidak semua manusia di masyarakat memiliki peran dan fungsi intelektual. Sedangkan menurut Julien Benda (1867-1956) dalam karyanya “La Trahison Des Cleres”, mengatakan intelektual dengan kata cendekiawan yaitu orang yang kegiatannya utamanya bukanlah mengejar tujuan praktis, akan tetapi yang mencari kegembiraan dalam mengelola seni, ilmu atau renungan metafisik, merekalah orang yang moralis yang semua kegiatanya melakukan perlawanan terhadap realisme masa.
Lain halnya dengan Edwar W Said dalam bukunya “The Representation Of Intellectual”, merumuskan intelektual sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk mempresentasikan pesan, pandangan, sikap atau filsafat kepada publik serta intelektual adalah seseorang yang bertalenta mengkomunikasikan ide emansipatoris dan mencerahkan.
Dari definisi di atas dapat di ambil suatu pemahaman sederhananya, intelektual merupakan orang yang mampu berperan di masyarakat dan mempunyai fungsi untuk memberikan progresifitas untuk menjadi yang terbaik sesuai sikap dan perilaku atas keyakinan yang telah di syariatkan oleh Allah.
Pribadi kesalehan inteletual, jika seseorang di timpa musibah ia mampu menerima dengan lapang dada dan ikhlas menerima keadaan yang diujikan Allah kepada hambanya. Setiap musibah, pasti Allah akan memberikan kenaikan derajat dan dengan musibah itulah dosa seseorang yang yakin di jalannya akan di hapus dan diampuni.
“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”. (Al Huud Ayat 11)
Pada dasarnya setiap bencana dan sesuatu yang tidak menyenangkan yang di turunkan oleh Allah, itu bukanlah laknat dan juga bukan murka Allah begitu juga nikmat Allah yang di berikan hambanya. Setiap manusia akan di uji sesuai kemampuan manusia itu sendiri, sebaliknya pula musibah juga di tujukan kepada setiap nabi seperti nabi Ayub yang harus menelan pil pahit karena harus di asingkan gara-gara penyakit kulitnya, Ibrahim yang di baker oleh Firaun, Sulaiman yang harus di sembelih.
“Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, Kemudian kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”. (Al An’aam Ayat 42)
Kaum intelektual bukanlah orang yang selalu berfoya-foya dengan kenikmatan, mencari hiburan semata, menjajah orang lain yang tertimpa kesengsaraan, tidak mempunyai sikap menghormati. Semua yang ada di dunia adalah cobaan, wajib bagi kita untuk mengemban amanah ini sebagai titipan yang harus di jaga dengan baik dan memberikan segala sesutu sesuai dengan kiblat yang kita yakini.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah Ayat 214)
Simbol kesalehan intelektual jika kesucian spiritual pribadi mampu pada taraf hakekat selalu bermunajat dan merenungi segala perbuatan yang ia lakukan. Manusia merupakan mahluk yang di bekali kekuatan pikiran dan hati. Jika seseorang mampu memposisikan potensinya ia akan hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat, maka janganlah kamu tenggelam pada kekuatan setan yang selalu ada di sekitar kita.
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup”. (Al Alaq Ayat 6-7)
Manusia pada umumnya ketika ia di berikan berupa kenikmatan baik harta, kesehatan, umur ia akan berubah menjadi orang yang sombong (takabur). Mengangap semua yang ia dapatkan adalah hasil kerja kerasnya dan mengangap dirinya yang paling baik. Semua adalah kebodohan jika seseorang hanya terpaku pada materi secara lahirnya saja. Jika seseorang ingin menjadi yang terbaik ia juga harus berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan apa yang ia inginkan dan harapkan.
Maka janganlah merindukan emas jatuh ke bumi, dan selalu bertegang teguhlah pada tali Allah berupa agama Islam yang diridhoi.
.“Untuk kemenangan serupa Ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”. (Ash Shaaffaat Ayat 61
Pada diri setiap manusia ada kedengkian dan iri hati, seyogyanya marilah kita menjaga diri kita dalam hal kebaikan dan memberikan pendidikan jiwa supaya di berikan ketenangan dan kesabaran di setiap keinginan ada jalan untuk dilalui.
“Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bum dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Al Fath Ayat 4)
Karena Allah menciptakan jiwa manusia dengan dua kecenderungan yakni kepada kefasikan dan ketakwaan. Maka dari itu terkadang ketika manusia ingin melakukan amal baik akan terjadi pertarungan dari dalam hatinya antara yang mengajak kebaikan dan yang mengajak keburukan. Beribadahlah dengan sesunguh-sunguhnya, beribadah jangan hanya untuk melepas kewajiban akan tetapi benar-benar yakin hanya untuk Allah dan mintalah supaya Allah memberikan ridho-Nya untuk setiap langkah yang kita lalui.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka Karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan”. (Yunus Ayat 9)
Setiap orang yang mau berusaha pasti Allah akan memberikan petunjuk dan setiap orang yang beramal sholeh pasti Allah akan memberikan balasan di dunia dan kenikmatan di surga. Keimanan seseorang akan menentukan seberapa jauh ia mengendarai amanah yang diembannya, apakah sesuai dengan perintah Tuhannya.
Intelektual adalah seseorang yang mampu mendidik batin dan lahirnya ke jalan yang benar, suka menolong orang yang tertimpa musibah dan bermanfaat untuk orang lain. Kesalehan intelektual adalah orang yang di berikan tanggung jawab oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi ini untuk memakmurkannya bukannya merusaknya.
Di dalam jiwa kaum intelektual adalah jiwa yang tenang ia selalu bersabar ketika di berikan musibah, tidak pernah bersedih dan selalu bersyukur dan ikhlas menerima apa adanya (qona’ah) yang di titipkan oleh Allah kepada hambanya.
“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Yunus Ayat 62-63)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”. (Al Mu’minuum Ayat 1)
“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka Itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (At Taubah Ayat 88)
* Dosena AKP Widya Buana Semarang dan Direktur Rumah Pendidikan Sciena Madani
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran Ayat 120)
Orang yang beriman mereka yang benar-benar menjalankan semua perintah dan menjahui segala yang di larang serta ia mampu mewujudkan keyakinannya dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang ma’ruf, karena orang-orang yang beruntung adalah mereka yang mengerjakan amal salih.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. (Al Bayyinah Ayat 7)
Iman berarti berkeyakinan diri dari dalam hati bahwa di dalam kekuatan batin dan jiwanya mengakui Tuhan yang satu, mengucapkan dalam lisan dan mampu mempertanggung jawabkan semua keyakinannya hanya untuk Tuhan yang esa serta mengamalkannya. Dalam menjalankan perbuatan disegala hal yang ia lakukan berkeyakinan bahwa setiap desah nafas dan langkah kaki ada yang mengatur dan dari iman itu bahwa ia selalu di awasi oleh Allah yang maha melihat dan mendengar.
Sesungguhnya iman merupakan prinsip dasar bagi seseorang tak ada yang mendefinisikannya secara benar. Kalau merujuk dari al Qur’an kata iman selalu di persandingkan dengan kata lain semisal: beriman kepada Allah dan hari akhir, berbuat kebaikan, mencegah perbuatan mungkar, beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para nabi, berzakat, mendirikan sholat, menepati janji dll. Mereka itulah yang di sebut orang-orang yang beriman.
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. (Al Baqarah Ayat 3)
Kesalehan berasal dari kata “Salih” mempunyai arti hal yang baik atau bagus lawan kata dari “fasad” (buruk atau rusak). Menurut pakar linguistik dari Jepang Toshihiko Izutsu, meyatakan hubungan sematik yang menyatukan antara salih dan iman selalu bersama sama dan tak terpisahkan, jadi salih adalah keimanan yang sepenuhnya terwujud dalam perilaku dan sikap lahir dan batin. Jadi pada dasarnya ketika seseorang melaksanakan keyakinannya yang di perintahkan Ilahi Rabbi berarti patut disebut orang yang salih.
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula)”. (Al An’aam Ayat 158)
Intelektual menurut Gramsci dalam bukunya “Selection From Prison Notebook” (1978) adalah semua manusia adalah intelektual akan tetapi tidak semua manusia di masyarakat memiliki peran dan fungsi intelektual. Sedangkan menurut Julien Benda (1867-1956) dalam karyanya “La Trahison Des Cleres”, mengatakan intelektual dengan kata cendekiawan yaitu orang yang kegiatannya utamanya bukanlah mengejar tujuan praktis, akan tetapi yang mencari kegembiraan dalam mengelola seni, ilmu atau renungan metafisik, merekalah orang yang moralis yang semua kegiatanya melakukan perlawanan terhadap realisme masa.
Lain halnya dengan Edwar W Said dalam bukunya “The Representation Of Intellectual”, merumuskan intelektual sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk mempresentasikan pesan, pandangan, sikap atau filsafat kepada publik serta intelektual adalah seseorang yang bertalenta mengkomunikasikan ide emansipatoris dan mencerahkan.
Dari definisi di atas dapat di ambil suatu pemahaman sederhananya, intelektual merupakan orang yang mampu berperan di masyarakat dan mempunyai fungsi untuk memberikan progresifitas untuk menjadi yang terbaik sesuai sikap dan perilaku atas keyakinan yang telah di syariatkan oleh Allah.
Pribadi kesalehan inteletual, jika seseorang di timpa musibah ia mampu menerima dengan lapang dada dan ikhlas menerima keadaan yang diujikan Allah kepada hambanya. Setiap musibah, pasti Allah akan memberikan kenaikan derajat dan dengan musibah itulah dosa seseorang yang yakin di jalannya akan di hapus dan diampuni.
“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”. (Al Huud Ayat 11)
Pada dasarnya setiap bencana dan sesuatu yang tidak menyenangkan yang di turunkan oleh Allah, itu bukanlah laknat dan juga bukan murka Allah begitu juga nikmat Allah yang di berikan hambanya. Setiap manusia akan di uji sesuai kemampuan manusia itu sendiri, sebaliknya pula musibah juga di tujukan kepada setiap nabi seperti nabi Ayub yang harus menelan pil pahit karena harus di asingkan gara-gara penyakit kulitnya, Ibrahim yang di baker oleh Firaun, Sulaiman yang harus di sembelih.
“Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, Kemudian kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”. (Al An’aam Ayat 42)
Kaum intelektual bukanlah orang yang selalu berfoya-foya dengan kenikmatan, mencari hiburan semata, menjajah orang lain yang tertimpa kesengsaraan, tidak mempunyai sikap menghormati. Semua yang ada di dunia adalah cobaan, wajib bagi kita untuk mengemban amanah ini sebagai titipan yang harus di jaga dengan baik dan memberikan segala sesutu sesuai dengan kiblat yang kita yakini.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah Ayat 214)
Simbol kesalehan intelektual jika kesucian spiritual pribadi mampu pada taraf hakekat selalu bermunajat dan merenungi segala perbuatan yang ia lakukan. Manusia merupakan mahluk yang di bekali kekuatan pikiran dan hati. Jika seseorang mampu memposisikan potensinya ia akan hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat, maka janganlah kamu tenggelam pada kekuatan setan yang selalu ada di sekitar kita.
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup”. (Al Alaq Ayat 6-7)
Manusia pada umumnya ketika ia di berikan berupa kenikmatan baik harta, kesehatan, umur ia akan berubah menjadi orang yang sombong (takabur). Mengangap semua yang ia dapatkan adalah hasil kerja kerasnya dan mengangap dirinya yang paling baik. Semua adalah kebodohan jika seseorang hanya terpaku pada materi secara lahirnya saja. Jika seseorang ingin menjadi yang terbaik ia juga harus berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan apa yang ia inginkan dan harapkan.
Maka janganlah merindukan emas jatuh ke bumi, dan selalu bertegang teguhlah pada tali Allah berupa agama Islam yang diridhoi.
.“Untuk kemenangan serupa Ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”. (Ash Shaaffaat Ayat 61
Pada diri setiap manusia ada kedengkian dan iri hati, seyogyanya marilah kita menjaga diri kita dalam hal kebaikan dan memberikan pendidikan jiwa supaya di berikan ketenangan dan kesabaran di setiap keinginan ada jalan untuk dilalui.
“Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bum dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Al Fath Ayat 4)
Karena Allah menciptakan jiwa manusia dengan dua kecenderungan yakni kepada kefasikan dan ketakwaan. Maka dari itu terkadang ketika manusia ingin melakukan amal baik akan terjadi pertarungan dari dalam hatinya antara yang mengajak kebaikan dan yang mengajak keburukan. Beribadahlah dengan sesunguh-sunguhnya, beribadah jangan hanya untuk melepas kewajiban akan tetapi benar-benar yakin hanya untuk Allah dan mintalah supaya Allah memberikan ridho-Nya untuk setiap langkah yang kita lalui.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka Karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan”. (Yunus Ayat 9)
Setiap orang yang mau berusaha pasti Allah akan memberikan petunjuk dan setiap orang yang beramal sholeh pasti Allah akan memberikan balasan di dunia dan kenikmatan di surga. Keimanan seseorang akan menentukan seberapa jauh ia mengendarai amanah yang diembannya, apakah sesuai dengan perintah Tuhannya.
Intelektual adalah seseorang yang mampu mendidik batin dan lahirnya ke jalan yang benar, suka menolong orang yang tertimpa musibah dan bermanfaat untuk orang lain. Kesalehan intelektual adalah orang yang di berikan tanggung jawab oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi ini untuk memakmurkannya bukannya merusaknya.
Di dalam jiwa kaum intelektual adalah jiwa yang tenang ia selalu bersabar ketika di berikan musibah, tidak pernah bersedih dan selalu bersyukur dan ikhlas menerima apa adanya (qona’ah) yang di titipkan oleh Allah kepada hambanya.
“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Yunus Ayat 62-63)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”. (Al Mu’minuum Ayat 1)
“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka Itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (At Taubah Ayat 88)
* Dosena AKP Widya Buana Semarang dan Direktur Rumah Pendidikan Sciena Madani
Dunia Pesantren
Paling tidak, memasuki dunia pesantren harus memiliki niat dan
kesiapan untuk mengenal berbagai hal yang berkaitan dengan barokah.
Hanya di sebuah kelembagaan pesantren inilah istilah unik tersebut dapat
ditemukan. Sebuah nilai tambah kebaikan dan keutamaan yang dipercaya
tumbuh sebagai manfaat dari berjuta pengorbanan Kyai maupun kelembagaan
pesantren itu sendiri. Untuk selanjutnya, nilai tambah kebaikan tersebut
dapat diusahakan untuk terraih siapa saja –santri-, dengan ketulusan
dan pengabdian terhadap kyai dan pesantren, yang telah secara bulat
mengabdikan seumur hidupnya untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa,
agama, dan negara.
Selain tentang nilai tambah dan keutamaan tersebut, ada beberapa hal yang turut mewarnai kebertahanan lembaga kepesantrenan di Indonesia, terutama pesantren-pesantren yang bernaung di bawah kekuatan jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren hadir dengan pola-pola tersendiri sesuai dengan kebutuhan waktu di mana dia hadir dan mengabdi. Pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang misalnya, pesantren mampu mewujud sebagai benteng perlawanan bangsa terhadap kolonial. Pesantren merupakan kekuatan dan lambang penolakan terhadap segala bentuk penjajahan dan penindasan. Beberapa catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa perlawanan rakyat terhadap penjajah yang sangat terrekam heroik itu kerap terinisiasi oleh kekuatan komunikasi jaringan pesantren.
Di Zaman awal republik, pesantren hadir sebagai suatu kesatuan yang terus mengawal kemerdekaan dari gangguan-gangguan yang masih tersisa, maupun ketidak-stabilan internal bangsa dengan diwarnai pemberontakan-pemberontakan di daerah. Di periode Orde Baru, pada mulanya pesantren masih tetap dalam prinsip yang sama, yakni tetap mengawal kemerdekaan dan merancang pembangunan bangsa bersama pemerintah. Namun dalam perjalanannya, akibat beberapa temuan yang kurang berpihak kepada rakyat, pesantren mengambil posisi sebagai lembaga kontrol pemerintah dan negara untuk kembali memiliki keberpihakan kepada rakyat. Meskipun di beberapa catatan, akibat posisi tersebut pesantren justru mengalami pendiskriminasian karena dianggap mengganggu dan berseberangan dengan hasrat pemerintah pada masa itu. Dan di era reformasi hingga sekarang ini, selain tetap sebagai kontrol negara yang mesti dipertimbangkan, pesantren juga memiliki PR lain yang tidak kalah mendesaknya, meski tentu hal tersebut tetap menyangkut dengan nasib dan masa depan keutuhan bangsa, yakni dampak globalisasi dan geliat-geliat intoleransi yang mulai tumbuh di mana-mana. Terutama tentang maraknya tindak kekerasan yang mengatas-namakan agama. Untuk era ini, pesantren mampu menerapkan satu jurusnya kembali untuk tetap berdiri tegak memperjuangkan kepentingan rakyat dan keutuhan bangsa, yakni melalui sebuah tradisi dan kekhasan pesantren melalui seri dakwah dan dialog keagamaannya yang ramah dan mempertimbangkan keberagaman dalam tubuh Indonesia.
Dialog Pesantren: Dakwah di Negeri Multikultural
Di sudut persoalan globalisasi, dakwah dihadapkan pada persoalan tentang bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat global yang ditandai dengan makin sempitnya sekat-sekat antar kultur dan sekat masyarakat etno-religius. Jika dulu dakwah masih sangat memungkinkan untuk bersikap apriori terhadap luar dunia muslim misalnya, maka saat ini di mana istilah dunia muslim menjadi kelihatan kabur batas-batasnya oleh fenomena globalisasi, maka jalur dakwah tentu tidak dapat berdiri sendiri tanpa menjalin interaksi yang lebih intens dan persuasif dengan banyak komunitas etnis dan etno-religius di seluruh dunia, terlebih di dalam kehidupan bangsa itu sendiri. Di Indonesia yang beragam dan sangat perlu pertimbangan mengenai gambaran di atas, sejak munculnya, pesantren tidak memiliki banyak masalah dengan hal-hal tersebut. Sebab, pesantren memiliki catatan panjang sejarah yang hangat dan romantis dengan keragaman budaya dan etnik di tengah masyarakat. Konteks keIslam-an yang ditawarkan oleh dunia pesantren adalah pemahaman agama yang merespon baik kekayaan budaya dan tradisi lokal. Bahkan, mengadopsinya sebagai kekuatan ritual keagamaan yang sangat bersahabat dengan jati diri bangsa. Tahlil, syukuran-syukuran dalam event-event sakral keluarga seperti Nujuh Bulanan, atau yang lainnya.
Memahami alur dakwah yang seperti ini, maka dirasakan sangat perlu jika pesantren kembali mempertimbangkan konsep-konsep dasar dakwahnya tersebut sebagai solusi untuk tetap menjaga kelanggengan agama dalam era globalisasi. Dari sana kita dapat memahami ternyata seri dakwah pesantren memiliki karakter tersendiri dengan beberapa sub. Pertama, dakwah pesantren menghargai keunikan dan keragaman etno-religio. Kedua, mengakui adanya beberapa titik kesamaan dalam keragaman etno-religio, meskipun tentu tidak secara keseluruhan. Ketiga, paradigma keberagaman sebagai fenomena kultur. Keempat, sebuah keharusan dalam progressivisme dan dinamisme dalam memahami agama.
Metode Dakwah Pesantren
Terdapat beberapa hal yang mesti dianalisis kembali mengenai metode-metode dakwah yang biasa dilihat dalam masyarakat, dari hal tersebut maka akan dengan mudah apa dan bagaimana dakwah pesantren, terutama alur yang representatif untuk memunculkan peran keagamaannya dalam konteks masyarakat kekinian.
Pertama, dalam Hidayat al-Mursyidin ila thuruq al wa’zi wa al irsyad (Kairo: Dar al I’tisam, tt). Syeikh Ali Mahfuz yang diakui sebagai berotoritas dalam ilmu dakwah membedakan dakwah itu sendiri dalam tiga ranah. Dakwah antar individu muslim, dakwah antar golongan umat muslim, dan dakwah umat muslim kepada non-muslim. Yang menarik adalah dalam perkembangannya justru dakwah hanya berkutat pada ranah yang terakhir, yakni dalam pengertian sederhana gerakan dakwah adalah gerakan meng-Islamkan umat non-muslim. Di sinilah metode dakwah pesantren akan sedikit mengambil posisi yang lebih bermanfaat. Pesantren tidak menganggap bahwa konversi iman sebagai inti dari sebuah gerakan dakwah. Lebih dari itu dakwah pesantren mengusulkan agar target dakwah dikonsentrasikan pemberdayaan umat dalam ranah internal. Dakwah memiliki titik sasaran pemberdayaan untuk kemandirian masyarakat muslim, membuka kesadaran untuk bangkit, dan menawarkan jalinan silaturrahmi yang kuat antar komunitas dengan kebersamaan menguatkan bangsa.
Kedua, dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah pesantren adalah dakwah yang menawarkan gagasan ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara –civil right-. Sesuai dengan ciri khas gerakan pesantren yang tumbuh kembang bersama rakyat lapis bawah secara langsung, maka gerakan dakwahnyapun harus mengikuti dan menjawab kebutuhan masyarakat akar-rumput.Ketiga, dalam ranah sosial, gerakan dakwah pesantren lebih memilih pendekatan dakwah kultural dibanding militan. Pesantren lebih cenderung memberikan gagasan pengembangan Islam sebagai sistem moral – al Islam huwa al nizham al akhlaqiyah -. Pesantren menolak segala bentuk kekerasan dan penindasan, terlebih dengan mengatas-namakan agama dan gerakan dakwah.
Keempat, dalam konteks komunikasi global, dakwah pesantren justru memberikan peluang dialog antara budaya dan keyakinan – intercultur faith understanding -. Pesantren melalui kelembagaan yang lebih formalnya yakni Nahdlatul Ulama (NU) menjadi sebuah tampilan sistem keagamaan yang ramah sekaligus sangat bersikap universal. Berusaha hadir dengan melindungi siapa saja, dan mengembalikan pengertian Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Gerakan dakwah pesantren seperti ini tentu memilliki konsentrasi dan cita-cita mempertahankan kesatuan dan keutuhan bangsa, dan ini dipandang lebih penting dan sesuai dengan konteks keIndonesiaan, dibanding hanyut dalam romantisme sejarah kejayaan Islam yang memiliki perbedaan yang tajam dengan kondisi sekarang.Jika digali dan dikaji lebih lanjut, mungkin masih banyak hal yang menarik dapat ditemukan dari tradisi dakwah ala-pesantren yang benar-benar dibutuhkan oleh bangsa Indonesia sekarang ini. Namun paling tidak, keempat narasi besar metode gerakan dakwah pesantren tersebut cukup mewakili sebuah prinsip bahwa gerakan dakwah pesantren lebih cenderung bersifat dialogis, sebuah gerakan dakwah yang responsif terhadap fenomena dan kebutuhan zaman, memiliki pertimbangan kuat terhadap budaya dan tradisi lokal, beriringan dengan prinsip-prinsip perjuangan hak-hak dan nasib masyarakat, serta sebagai corak keagamaan yang ramah dan peka terhadap keberagaman. []
* Di nuQil dari alumni Pondok Pesantren Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Kempek Cirebon, dan Mahasiswa Pemikiran Islam di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.
Selain tentang nilai tambah dan keutamaan tersebut, ada beberapa hal yang turut mewarnai kebertahanan lembaga kepesantrenan di Indonesia, terutama pesantren-pesantren yang bernaung di bawah kekuatan jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren hadir dengan pola-pola tersendiri sesuai dengan kebutuhan waktu di mana dia hadir dan mengabdi. Pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang misalnya, pesantren mampu mewujud sebagai benteng perlawanan bangsa terhadap kolonial. Pesantren merupakan kekuatan dan lambang penolakan terhadap segala bentuk penjajahan dan penindasan. Beberapa catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa perlawanan rakyat terhadap penjajah yang sangat terrekam heroik itu kerap terinisiasi oleh kekuatan komunikasi jaringan pesantren.
Di Zaman awal republik, pesantren hadir sebagai suatu kesatuan yang terus mengawal kemerdekaan dari gangguan-gangguan yang masih tersisa, maupun ketidak-stabilan internal bangsa dengan diwarnai pemberontakan-pemberontakan di daerah. Di periode Orde Baru, pada mulanya pesantren masih tetap dalam prinsip yang sama, yakni tetap mengawal kemerdekaan dan merancang pembangunan bangsa bersama pemerintah. Namun dalam perjalanannya, akibat beberapa temuan yang kurang berpihak kepada rakyat, pesantren mengambil posisi sebagai lembaga kontrol pemerintah dan negara untuk kembali memiliki keberpihakan kepada rakyat. Meskipun di beberapa catatan, akibat posisi tersebut pesantren justru mengalami pendiskriminasian karena dianggap mengganggu dan berseberangan dengan hasrat pemerintah pada masa itu. Dan di era reformasi hingga sekarang ini, selain tetap sebagai kontrol negara yang mesti dipertimbangkan, pesantren juga memiliki PR lain yang tidak kalah mendesaknya, meski tentu hal tersebut tetap menyangkut dengan nasib dan masa depan keutuhan bangsa, yakni dampak globalisasi dan geliat-geliat intoleransi yang mulai tumbuh di mana-mana. Terutama tentang maraknya tindak kekerasan yang mengatas-namakan agama. Untuk era ini, pesantren mampu menerapkan satu jurusnya kembali untuk tetap berdiri tegak memperjuangkan kepentingan rakyat dan keutuhan bangsa, yakni melalui sebuah tradisi dan kekhasan pesantren melalui seri dakwah dan dialog keagamaannya yang ramah dan mempertimbangkan keberagaman dalam tubuh Indonesia.
Dialog Pesantren: Dakwah di Negeri Multikultural
Di sudut persoalan globalisasi, dakwah dihadapkan pada persoalan tentang bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat global yang ditandai dengan makin sempitnya sekat-sekat antar kultur dan sekat masyarakat etno-religius. Jika dulu dakwah masih sangat memungkinkan untuk bersikap apriori terhadap luar dunia muslim misalnya, maka saat ini di mana istilah dunia muslim menjadi kelihatan kabur batas-batasnya oleh fenomena globalisasi, maka jalur dakwah tentu tidak dapat berdiri sendiri tanpa menjalin interaksi yang lebih intens dan persuasif dengan banyak komunitas etnis dan etno-religius di seluruh dunia, terlebih di dalam kehidupan bangsa itu sendiri. Di Indonesia yang beragam dan sangat perlu pertimbangan mengenai gambaran di atas, sejak munculnya, pesantren tidak memiliki banyak masalah dengan hal-hal tersebut. Sebab, pesantren memiliki catatan panjang sejarah yang hangat dan romantis dengan keragaman budaya dan etnik di tengah masyarakat. Konteks keIslam-an yang ditawarkan oleh dunia pesantren adalah pemahaman agama yang merespon baik kekayaan budaya dan tradisi lokal. Bahkan, mengadopsinya sebagai kekuatan ritual keagamaan yang sangat bersahabat dengan jati diri bangsa. Tahlil, syukuran-syukuran dalam event-event sakral keluarga seperti Nujuh Bulanan, atau yang lainnya.
Memahami alur dakwah yang seperti ini, maka dirasakan sangat perlu jika pesantren kembali mempertimbangkan konsep-konsep dasar dakwahnya tersebut sebagai solusi untuk tetap menjaga kelanggengan agama dalam era globalisasi. Dari sana kita dapat memahami ternyata seri dakwah pesantren memiliki karakter tersendiri dengan beberapa sub. Pertama, dakwah pesantren menghargai keunikan dan keragaman etno-religio. Kedua, mengakui adanya beberapa titik kesamaan dalam keragaman etno-religio, meskipun tentu tidak secara keseluruhan. Ketiga, paradigma keberagaman sebagai fenomena kultur. Keempat, sebuah keharusan dalam progressivisme dan dinamisme dalam memahami agama.
Metode Dakwah Pesantren
Terdapat beberapa hal yang mesti dianalisis kembali mengenai metode-metode dakwah yang biasa dilihat dalam masyarakat, dari hal tersebut maka akan dengan mudah apa dan bagaimana dakwah pesantren, terutama alur yang representatif untuk memunculkan peran keagamaannya dalam konteks masyarakat kekinian.
Pertama, dalam Hidayat al-Mursyidin ila thuruq al wa’zi wa al irsyad (Kairo: Dar al I’tisam, tt). Syeikh Ali Mahfuz yang diakui sebagai berotoritas dalam ilmu dakwah membedakan dakwah itu sendiri dalam tiga ranah. Dakwah antar individu muslim, dakwah antar golongan umat muslim, dan dakwah umat muslim kepada non-muslim. Yang menarik adalah dalam perkembangannya justru dakwah hanya berkutat pada ranah yang terakhir, yakni dalam pengertian sederhana gerakan dakwah adalah gerakan meng-Islamkan umat non-muslim. Di sinilah metode dakwah pesantren akan sedikit mengambil posisi yang lebih bermanfaat. Pesantren tidak menganggap bahwa konversi iman sebagai inti dari sebuah gerakan dakwah. Lebih dari itu dakwah pesantren mengusulkan agar target dakwah dikonsentrasikan pemberdayaan umat dalam ranah internal. Dakwah memiliki titik sasaran pemberdayaan untuk kemandirian masyarakat muslim, membuka kesadaran untuk bangkit, dan menawarkan jalinan silaturrahmi yang kuat antar komunitas dengan kebersamaan menguatkan bangsa.
Kedua, dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah pesantren adalah dakwah yang menawarkan gagasan ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara –civil right-. Sesuai dengan ciri khas gerakan pesantren yang tumbuh kembang bersama rakyat lapis bawah secara langsung, maka gerakan dakwahnyapun harus mengikuti dan menjawab kebutuhan masyarakat akar-rumput.Ketiga, dalam ranah sosial, gerakan dakwah pesantren lebih memilih pendekatan dakwah kultural dibanding militan. Pesantren lebih cenderung memberikan gagasan pengembangan Islam sebagai sistem moral – al Islam huwa al nizham al akhlaqiyah -. Pesantren menolak segala bentuk kekerasan dan penindasan, terlebih dengan mengatas-namakan agama dan gerakan dakwah.
Keempat, dalam konteks komunikasi global, dakwah pesantren justru memberikan peluang dialog antara budaya dan keyakinan – intercultur faith understanding -. Pesantren melalui kelembagaan yang lebih formalnya yakni Nahdlatul Ulama (NU) menjadi sebuah tampilan sistem keagamaan yang ramah sekaligus sangat bersikap universal. Berusaha hadir dengan melindungi siapa saja, dan mengembalikan pengertian Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Gerakan dakwah pesantren seperti ini tentu memilliki konsentrasi dan cita-cita mempertahankan kesatuan dan keutuhan bangsa, dan ini dipandang lebih penting dan sesuai dengan konteks keIndonesiaan, dibanding hanyut dalam romantisme sejarah kejayaan Islam yang memiliki perbedaan yang tajam dengan kondisi sekarang.Jika digali dan dikaji lebih lanjut, mungkin masih banyak hal yang menarik dapat ditemukan dari tradisi dakwah ala-pesantren yang benar-benar dibutuhkan oleh bangsa Indonesia sekarang ini. Namun paling tidak, keempat narasi besar metode gerakan dakwah pesantren tersebut cukup mewakili sebuah prinsip bahwa gerakan dakwah pesantren lebih cenderung bersifat dialogis, sebuah gerakan dakwah yang responsif terhadap fenomena dan kebutuhan zaman, memiliki pertimbangan kuat terhadap budaya dan tradisi lokal, beriringan dengan prinsip-prinsip perjuangan hak-hak dan nasib masyarakat, serta sebagai corak keagamaan yang ramah dan peka terhadap keberagaman. []
* Di nuQil dari alumni Pondok Pesantren Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Kempek Cirebon, dan Mahasiswa Pemikiran Islam di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.
Untaian Manfaat
Ada dua kalimat yang mudah di ucapkan dengan lisan, tapi berat ketika amal perbuatan kita di timbang nanti di hari Qiyamah dan dua kalimat ini di sukai oleh Allah SWT, kalimatnya yaitu :
سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم
روى عن النبى عليه الصلاة وسلم انه قال : من عسرت عليه حاجته فليكثر من الصلاة علي فانها تكشف االهموم والغموم والكروب
وتكثر الارزاق وتقضى الحوائج او كما قيل فى درة النا صحين
Di riwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya belia berkata :
Barang siapa Hajat/ keinginannya sulit terpenuhi maka perbanyaklah membaca Solawat kepadaku
Karna dengan Memperbanyak baca solawat Resah, gelisah, kesusahan akan hilang, bacaan solawat adalah jalbur Rizqi dan penyebab terpenuhinya beberapa Hajat/ keinginan.
Adapun bacaan solawatnya macam-macam diantaranya :
1. Solawat Nariyyah
2. Solawat munjiat
3. Solawat Fatih
4. Ibrohimiyyah
5. Dan masih banyak lagi solawat-solawat yang lainnya yang belum tercantum dalam bog ini.
سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم
روى عن النبى عليه الصلاة وسلم انه قال : من عسرت عليه حاجته فليكثر من الصلاة علي فانها تكشف االهموم والغموم والكروب
وتكثر الارزاق وتقضى الحوائج او كما قيل فى درة النا صحين
Di riwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya belia berkata :
Barang siapa Hajat/ keinginannya sulit terpenuhi maka perbanyaklah membaca Solawat kepadaku
Karna dengan Memperbanyak baca solawat Resah, gelisah, kesusahan akan hilang, bacaan solawat adalah jalbur Rizqi dan penyebab terpenuhinya beberapa Hajat/ keinginan.
Adapun bacaan solawatnya macam-macam diantaranya :
1. Solawat Nariyyah
2. Solawat munjiat
3. Solawat Fatih
4. Ibrohimiyyah
5. Dan masih banyak lagi solawat-solawat yang lainnya yang belum tercantum dalam bog ini.
Jumat, 09 Maret 2012
Kisah Manusia terkaya Setelah Qorun
Citra Amerika Latin yang kerap dekat
dengan kemiskinan seolah didobrak Carlos Slim Helu. Betapa tidak, bila
ternyata dialah orang terkaya pertama di dunia, di atas Bill Gates dan
Waren Buffet.
Carlos kaya dari hasrat orang berhubungan dan bicara
dengan sesamanya. Dari telekomunikasilah, hingga saat ini Carlos telah
mengumpulkan sedikitnya 69 miliar dolar AS sebagai kekayaannya.Dialah juga yang mengendalikan tiga perusahaan telekomunikasi besar, yakni Telefonos de Mexico (Telmex), Telcel dan Am‚rica M¢vil.
Ketangguhan Slim dalam berbisnis banyak dipengaruhi sang ayah, Yusef Salim Haddad. Benar, Carlos yang lahir di Mexico City, 28 Januari 1940 itu adalah putra seorang Timur Tengah. Lebanon tepatnya. Yusef yang merupakan seorang Kristen Lebanon sendiri datang ke Mexico pada 1902, setelah melarikan diri dari negaranya. Sang ayah inilah yang membangun toko barang kebutuhan, yang diberinya nama La Estrella del Oriente (Bintang Timur). Suatu hari, dia berspekulasi membeli beberapa real estat utama di pusat kota. Pilihan Yusef yang tepat itu segera mengubah kehidupan ekonomi keluarganya.
"Dia mengajarkan keberanian. Dia ajarkan, tak peduli seberapa jelek krisis yang terjadi, Meksiko tidak akan hilang. Bila saya mempercayai negara ini, investasi yang cermat akhirnya akan membayar,'' ujar Carlos, memuji sang ayah. Sayang, pada tahun 1952, Yusef meninggal.
Carlos yang menyandang gelar insinyur teknik sipil dari National Autonomous University of Mexico pada 1961 itu sempat juga mengajar Aljabar dan Linear Programming. Selain itu, dia juga sempat mengajar di lembaga internasional, Economic Commission for Latin America and the Caribbean (ECLAC).
Carlos ternyata seberani sang ayah. Pada tahun 1990 dia membeli Telmex dari pemerintah, dengan menggandeng Southwestern Bell Corp dan France Telecom. Saat itu kondisi Telmex sangat morat-marit. Tanpa gentar, Carlos mengubah perusahaan yang merugi itu menjadi pencetak uang. Sempat ia dikritik telah menaikan tarif telepon di negaranya. Namun, dengan tekad bulat untuk memperbaiki pelayanan telepon di Mexico, berupa tawaran sambungan lokal, interlokal, selular, internet dan direktori telepon, akhirnya kerja kerasnya berbuah manis.
Kerajaan telekomunikasinya mampu mencapai penjualan tahunan hingga 16 miliar dolar AS. Kini Telmex menjelma perusahaan telekomunikasi terbesar di Mexico. Tak hanya itu, baru-baru ini Telmex American tercatat sebagai salah satu perusahaan disegani di New York Stock Exchange. Kerajaan bisnis Carlos terus berkembang. Ia pula pemilik Prodigy Inc -- perusahaan jasa internet ketiga di AS. Tak hanya itu, Carlos pun kini mengendalikan perusahaan keuangan Grupo Financiero Inbursa, dan industri retail, Grupo Carso.
Di AS, Februari 2006 lalu Carlos mengincar CompUSA. Lewat perusahaannya, Grupo Sanborns, Carlos menawar CompUSA 800 juta dolar AS. Ia juga tercatat sebagai anggota komisaris Philip Morris dan SBC. Jabatan Presiden New York Stock Exchange juga pernah diembannya.
Sederet penghargaan mancanegara pernah diraih Carlos. Selain Merit Medal of Honor dari Kadin Mexico, ia juga sempat dianugerahi Golden Plate Award oleh American Academy of Achievement, serta Leopold II Commander Medal dari Pemerintah Belgia.
Taipan asal Meksiko itu selama tiga tahun berturut-turut kembali menduduki peringkat pertama orang kaya di dunia versi Forbes, dengan jumlah kekayaan sebesar 69 miliar dolar Amerika dari bisnis utamanya di bidang telekomunikasi.
Meskipun kekayaannya turun dibandingkan tahun lalu -- yang diperkirakan Forbes bisa mencapai 74 miliar dolar Amerika -- kekayaan yang dimiliki Slim jauh berada di atas pendiri Microsoft yang diperkirakan memiliki kekayaan 7 miliar dolar Amerika pada tahun ini. Merosotnya harta Slim tak lepas dari penurun ekonomi dan devaluasi mata uang Peso.
Slim yang saat ini berusia 72 tahun merupakan warga Meksiko keturunan Lebanon. Dia memulai karir bisnisnya pada usia 10 tahun dengan menjual permen dan minuman kepada keluarganya dan di kemudian hari mengukir namanya dengan investasi nan agresif selama krisis.
Tutor mengenai " PACARAN SECARA ISLAMI "
1. Jangan berduaan dengan pacar di tempat sepi, kecuali ditemani mahram dari sang wanita (jadi bertiga)
“Janganlah seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya…”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341, Lihat Mausu’ah Al Manahi Asy Syari’ah 2/102]
“Tidaklah seorang lelaki bersepi-sepian (berduaan) dengan seorang perempuan melainkan setan yang ketiganya“ (HSR.Tirmidzi)
2. Jangan pergi dengan pacar lebih dari sehari semalam kecuali si wanita ditemani mahramnya
“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sehari semalam tidak bersama mahromnya.” [HR Bukhori: 1088, Muslim 1339]
3. Jangan berjalan-jalan dengan pacar ke tempat yang jauh kecuali si wanita ditemani mahramnya
“…..jangan bepergian dengan wanita kecuali bersama mahromnya….”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341]
4. Jangan bersentuhan dengan pacar, jangan berpelukan, jangan meraba, jangan mencium, bahkan berjabat tangan juga tidak boleh, apalagi yang lebih dari sekedar jabat tangan
“Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283, lihat Ash Shohihah 1/447/226)
Bersabda Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll]
5. Jangan memandang aurat pacar, masing-masing harus memakai pakaian yang menutupi auratnya
“Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya..” (Al Qur’an Surat An Nur ayat 30)
“…zina kedua matanya adalah memandang….” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
6. Jangan membicarakan/melakukan hal-hal yang membuat terjerumus kedalam zina
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Al Qur’an Surat Al Isra 32)
“Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah, dan mulut berzina dan zinanya adalah …..” (H.R. Muslim dan Abu Dawud)
7. Jangan menunda-nunda menikah jika sudah saling merasa cocok
“Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
“Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (H.R. Turmudzi dan dia berkata hadits ini shahih.)
WARNING:
sebenarnya banyak ulama dan ustadz yang mengharamkan pacaran, misalnya saja ustadz Muhammad Umar as Sewed. jadi sebaiknya segera menikahlah dan jangan berpacaran…
Bagi yang sudah terlanjur berbuat dosa maka bertaubatlah dan jangan putus asa, Allah pasti mengampuni hambanya yang bertaubat dan memohon ampun…
“Janganlah seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya…”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341, Lihat Mausu’ah Al Manahi Asy Syari’ah 2/102]
“Tidaklah seorang lelaki bersepi-sepian (berduaan) dengan seorang perempuan melainkan setan yang ketiganya“ (HSR.Tirmidzi)
2. Jangan pergi dengan pacar lebih dari sehari semalam kecuali si wanita ditemani mahramnya
“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sehari semalam tidak bersama mahromnya.” [HR Bukhori: 1088, Muslim 1339]
3. Jangan berjalan-jalan dengan pacar ke tempat yang jauh kecuali si wanita ditemani mahramnya
“…..jangan bepergian dengan wanita kecuali bersama mahromnya….”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341]
4. Jangan bersentuhan dengan pacar, jangan berpelukan, jangan meraba, jangan mencium, bahkan berjabat tangan juga tidak boleh, apalagi yang lebih dari sekedar jabat tangan
“Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283, lihat Ash Shohihah 1/447/226)
Bersabda Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll]
5. Jangan memandang aurat pacar, masing-masing harus memakai pakaian yang menutupi auratnya
“Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya..” (Al Qur’an Surat An Nur ayat 30)
“…zina kedua matanya adalah memandang….” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
6. Jangan membicarakan/melakukan hal-hal yang membuat terjerumus kedalam zina
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Al Qur’an Surat Al Isra 32)
“Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah, dan mulut berzina dan zinanya adalah …..” (H.R. Muslim dan Abu Dawud)
7. Jangan menunda-nunda menikah jika sudah saling merasa cocok
“Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
“Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (H.R. Turmudzi dan dia berkata hadits ini shahih.)
WARNING:
sebenarnya banyak ulama dan ustadz yang mengharamkan pacaran, misalnya saja ustadz Muhammad Umar as Sewed. jadi sebaiknya segera menikahlah dan jangan berpacaran…
Bagi yang sudah terlanjur berbuat dosa maka bertaubatlah dan jangan putus asa, Allah pasti mengampuni hambanya yang bertaubat dan memohon ampun…
Jumat, 02 Maret 2012
AL HADIST
عن اميرالمؤمنين ابى حفص عمر ابن الخطاب رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول
انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله
ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها اوامراة ينكحها فهجرته الى ما هجر اليه .رواه اماما المحدثين ابوعبد الله محمد
بن اسماعيل بن ابراهيم بن المغيره ابن بردزبه ابخارى وابوالحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى
النيسا بورى فى صحيحهما الذين هما اصح الكتب المصنفة
Sahabat Umar bin Khotob R.A berkata : Saya mendengar Rosulullah S.A.W bersabda :
Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung Niatnya, Setiap orang itu punya niat
Barang siapa Hijrah/ pindah tujuannya adalah Allah dan Rosul, maka hijrahnya karna Allah dan Rosul
Barang siapa hijrah/ pindah tujuannya adalah Harta benda yang ia dapatkan atau seorang wanita yang ia Nikahi maka Hijrahnya karna harta benda atau wanita. (HR.Bukhori dan Muslim)
انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله
ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها اوامراة ينكحها فهجرته الى ما هجر اليه .رواه اماما المحدثين ابوعبد الله محمد
بن اسماعيل بن ابراهيم بن المغيره ابن بردزبه ابخارى وابوالحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى
النيسا بورى فى صحيحهما الذين هما اصح الكتب المصنفة
Sahabat Umar bin Khotob R.A berkata : Saya mendengar Rosulullah S.A.W bersabda :
Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung Niatnya, Setiap orang itu punya niat
Barang siapa Hijrah/ pindah tujuannya adalah Allah dan Rosul, maka hijrahnya karna Allah dan Rosul
Barang siapa hijrah/ pindah tujuannya adalah Harta benda yang ia dapatkan atau seorang wanita yang ia Nikahi maka Hijrahnya karna harta benda atau wanita. (HR.Bukhori dan Muslim)
Langganan:
Postingan (Atom)